SEPERCIK KEBAHAGIAAN

SEPERCIK KEBAHAGIAAN
Hujan


__ADS_3

Rara merasa sedih. Ia tidak punya siapa-siapa untuk dimintai pertolongan. Ia hanya mempunyai Tuhannya. Berharap pertolongan akan segera datang.


Berapa harga seorang perawan, ya?


Pikiran buruk pun mulai terlintas di benaknya. Jika mengikuti emosi, pastinya ia sudah menjual keperawanannya untuk memberi makan kakak dan keluarganya. Tapi Rara tidak ingin menyesal di kemudian hari. Baginya hanya itulah harta yang ia miliki. Jika sudah dijual demi sepiring nasi, penyesalan tidak akan berarti lagi.


Semoga masih ada jalan untuk membeli beras tanpa harus menjual kesucian.


Ia pun menatap langit dunia sambil berdoa di dalam hatinya. Hatinya begitu pilu dan merasa kesepian. Tapi ia mau tidak mau menerima takdirnya sebagai tulang punggung keluarga. Rara harus memikulnya. Karena tidak ada yang bisa ia harapkan selain dirinya. Kakak-kakaknya sudah sibuk berumah tangga. Mau tak mau ia menggantikan tanggung jawab di rumah.


Esok paginya...

__ADS_1


Hari ini Rara masuk siang. Setelah selesai merapikan rumah, ia segera pergi ke sekolah adiknya untuk memenuhi panggilan. Ia harus membuat surat pernyataan akan tunggakan sekolah adiknya.


Malu? Pastinya. Adik laki-lakinya itu adalah harapan Rara untuk dapat menggantikan dirinya sebagai tulang punggung keluarga. Namun, harapan itu hanya tinggal harapan. Semua hanya sebatas angan-angan yang belum sempat tersampaikan. Karena nyatanya, uang untuk membayar iuran sekolah pun malah dipergunakan untuk membeli yang lain. Rara amat kecewa.


Hari itu setelah berbincang dengan wali kelas adiknya, Rara menandatangi surat jika akan segera membayar tunggakan iuran sekolah adiknya. Tentunya setelah gaji bulan depan ia dapatkan. Rara pun mengambil napas panjang kala wali kelas si adik menuturkan bagaimana sikap nakal adiknya. Ia lekas-lekas berpamitan setelah semuanya selesai. Sambil memikirkan bagaimana cara agar dapat melunasi semua iuran itu.


Sepertinya aku harus kembali mencari kerja tambahan.


"Minggir, Pak!"


Tak lama kemudian angkot Rara pun berhenti di tempat Rara biasa turun. Hujan gerimis menyambut kedatangannya di trotoar jalan. Hingga akhirnya gerimis itu semakin lebat saja.

__ADS_1


Rasanya aku ingin makan sup kambing saat ini. Pasti nikmat sekali.


Rara belum makan sedari pagi. Rasa lapar pun mengarahkannya untuk menyantap sup kambing yang ada di taman santapan. Ia mencoba membayangkan bagaimana nikmatnya menyantap satu mangkok sup kambing seorang diri. Rara kelaparan.


Mobil yang lalu-lalang di depannya pun seolah tidak mengizinkannya untuk menyeberangi jalan. Sedang rerintikan hujan semakin lama semakin deras di depan mata. Hingga akhirnya hujan benar-benar turun dari langit. Rara merasa harus segera mencari tempat perlindungan.


Aku harus cepat pulang.


Pandangannya fokus menatap ke arah kanan dan kiri untuk menyeberangi jalan agar cepat sampai ke rumahnya. Namun, lagi-lagi kendaraan yang lalu-lalang begitu banyak, tak memberi cela untuknya menyeberang. Tubuhnya pun basah terkena air hujan. Tapi tidak ia pedulikan. Rara hanya ingin menyeberangi jalan raya lalu segera kembali ke rumahnya. Ia ingin makan di rumah.


Tuhan, tolong hentikan hujan sebentar. Aku ingin pulang.

__ADS_1


__ADS_2