
"K-k-kau ...?" Rara lupa-lupa ingat dengan sosok pria yang menyapanya.
Pria itu mengenakan kemeja biru lengan panjang berbahan dasar katun. Ia juga mengenakan celana dasar hitamnya. Rara segera mengingat-ingat lagi siapa gerangan pria tersebut. Sosok yang tengah menyilangkan kedua tangan sambil bersandar di pohon palem. Sangat dekat dengan tempat di mana ia berdiri.
"Kau masih ingat padaku?" tanya sosok itu kepada Rara.
Rara mengernyitkan dahinya. "Ta—”
"Taka," jawabnya lalu mendekati Rara.
Bagai pucuk dicinta ulam pun tiba. Akhirnya Rara bertemu kembali dengan Taka. Padahal baru semalam ia memikirkannya. Rara pun merasa senang karena bertemu kembali dengan pria itu. Pria tampan nan baik hatinya.
"Taka, kau?!" Rara terperanjat melihat alas kaki yang Taka kenakan.
Taka pun melihat kakinya. "Aneh, ya?" tanyanya kepada Rara.
Rara ragu untuk mengangguk. Ia diam saja, tidak menanggapi pertanyaan Taka. "Kau memakai sandal jepit. Apakah tidak malu?" tanya Rara kepada Taka.
"Ada yang salah?" Taka malah balik bertanya padanya.
Harum parfum yang Taka kenakan seakan menutupi aroma keringat Rara yang lelah setelah seharian bekerja. Paras rupawan Taka juga seolah-olah menyudutkan Rara yang hanya biasa-biasa saja. Baru kali ini Rara menemui pria setampan dan sebaik dirinya. Rara pun mengagumi sosok pria yang ada di hadapannya.
__ADS_1
"Em, tidak. Aku pikir aku berhalusinasi melihatmu memakai sandal jepit. Padahal atasanmu, kan—”
"Jangan pusingkan penampilanku, Ra. Tampak fisik itu menipu," terangnya kepada Rara. "Kau pasti haus. Mau minum es dawet yang ada di sana?" Pria itu menunjuk ke arah tujuan.
"Eh, tapi—” Rara ingin menolaknya.
"Aku yang traktir. Tenang saja. Ayo!"
Pria yang memang benar adalah Taka itupun bergegas pergi dari hadapan Rara. Ia berjalan duluan dan meninggalkan Rara di tempatnya. Rara pun akhirnya mengikuti ke mana langkah kaki Taka menuntunnya. Ia merasa senang bertemu kembali dengan Taka. Hingga rasa kantuk itupun hilang darinya.
Beberapa menit kemudian...
Taka menekuk satu kakinya sambil melihat pemandangan kendaraan yang lalu-lalang di depannya. "Kota ini ramai, ya." Ia membuka pembicaraan. Semilir angin sore pun tampak menyapu helaian rambutnya yang dikedepankan.
"Ini esnya, Dek."
Pedagang es itupun memberikan dua gelas es dawet pesanan keduanya. Baik Rara maupun Taka mulai menyeruput esnya.
"Kemarin kau tidak kelihatan. Atau aku yang pulang kesorean?" tanya Taka kepada Rara.
"Eh?" Rara pun merasa heran.
__ADS_1
"Kalau pulang kerja aku sering lewat sini dan melihatmu. Tapi kemarin tidak." Taka meneruskan.
"Oh ...." Rara pun mengerti.
"Kau sudah bekerja, ya?" tanya Taka lagi.
"Iya, di mini market,” jawab Rara segera.
"Mengapa tidak melanjutkan kuliah?" Taka bertanya lagi.
Rara berhenti meminum esnya sejenak. "Inginnya sih seperti itu. Tapi apa daya aku kurang mampu," jawab Rara dengan polosnya.
"Keluargamu?" tanya Taka lagi.
Sejenak Rara menoleh ke arah Taka yang melihatnya. "Kau seperti wartawan, selalu saja bertanya. Kau akan dikenakan pajak untuk setiap pertanyaan," cetus Rara kepada Taka.
.........
...Taka...
__ADS_1