
Rara pun terdiam dengan tindakan Taka, seorang pria yang baru beberapa minggu ini ia kenal. Namun, Taka sudah menunjukkan rasa kepeduliannya yang begitu besar. Yang tidak pernah Rara bayangkan sebelumnya.
Taka, kau membuatku sedih, tahu!
Rara merasa terharu dengan kebaikan Taka kepadanya.
"Ayo, Ra! Kita beli kebutuhan yang lainnya!”
Sedangkan Taka begitu bersemangat untuk membelikan Rara berbagai macam kebutuhan pokok. Yang mana membuat gadis itu menitikkan air matanya. Ia membiarkan Taka berjalan duluan di depan.
Taka pun terdiam di tempatnya. Ia menyadari jika Rara tidak mengikutinya. Ia pun berbalik lalu melihat gadis itu sedang menunduk seraya terisak. Dengan segera Taka pun kembali mendekati Rara.
"Hei, kenapa menangis, Ra?"
__ADS_1
Ia ingin sekali mengusap air mata yang jatuh itu. Tapi Taka terlihat segan untuk melakukannya. Tangannya yang berusaha meraih wajah Rara pun segera ia tepiskan.
"Kau ... kau ...."
Rara pun masih menangis, membuat Taka kebingungan harus melakukan apa agar dapat mendiamkan tangisan gadis yang berada di hadapannya ini.
"Ra, jangan menangis. Simpan saja air matamu untuk hari bahagia nanti," ucap Taka kepada Rara.
"Ra, tolong hentikan tangismu! Jika tidak, aku akan berteriak jika kau telah mencopet dompetku!" ancam Taka, yang ditanggapi kesegeraan Rara untuk mengusap air matanya.
"Kau jahat, Taka! Aku kan sedang menangis!" Rara tidak terima diancam Taka. Ia menggerutu kesal sambil mengusap air matanya.
"Hei, kau lihat? Di sini banyak orang. Nanti dikira aku melakukan hal yang tidak-tidak. Ayolah, waktu kita tak banyak. Segera beli kebutuhanmu. Aku ada janji nanti," terangnya kepada Rara.
__ADS_1
Tanpa banyak bertanya, Rara pun mengangguk, mengiyakan ucapan Taka. Ia kemudian berjalan kembali bersama Taka untuk membeli kebutuhan pokok lainnya.
Rara menangis bukan tanpa alasan, tapi karena ia begitu bahagia hari ini. Sebab Taka telah sudi menemaninya ke pasar, terlebih membelikannya beberapa macam kebutuhan pokok untuk di rumah. Sehingga beban di pikirannya itu sedikit berkurang.
Terima kasih, Taka. Aku tidak akan pernah melupakan kebaikanmu.
Taka pun terus menemani Rara berbelanja berbagai macam kebutuhan pokok. Hingga tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul dua belas siang. Kini sudah tiba bagi keduanya untuk beristirahat setelah lelah berkeliling mencari kebutuhan. Taka pun meminta Rara untuk menyerahkan barang belanjaannya. Ia ingin memegangnya.
"Sini, biar aku saja yang membawa belanjaannya," pinta Taka lalu mengambil barang belanjaan yang Rara bawa.
Mereka kemudian memutuskan untuk singgah di salah satu warung soto yang ada di sana. Tak henti-hentinya Rara memandangi wajah Taka yang tampan. Tanpa malu ataupun ragu sama sekali. Sedang Taka tampak GR sendiri. Ia salah tingkah diperhatikan Rara. Taka pun mengalihkan pandangan Rara dengan menunjuk berbagai tempat dan menanyakannya. Alhasil pandangan Rara jadi teralihkan dari Taka.
Kasih sayang itu mulai terjalin di antara keduanya. Saling menghargai satu sama lain dan melengkapi tanpa membenci. Taka mengasihi Rara lebih dari sekedar teman. Begitu juga dengan Rara yang mulai menganggap Taka seperti kakaknya. Taka mengasuh Rara bak adiknya sendiri. Namun, siapa yang tahu akan isi hati mereka. Mereka tetap menjaga jarak dan tidak pernah bersentuhan sampai detik ini.
__ADS_1