
Pukul sebelas malam waktu kota dan sekitarnya...
Malam semakin larut, mengantarkan Rara pulang ke rumahnya dengan menaiki ojek yang ada di depan toko. Ia bergegas pulang karena hari semakin larut. Ia pun kini sudah sampai di depan rumahnya.
Malam ini keadaan kampung Rara tampak sepi. Rara pun segera melangkahkan kaki ke rumahnya. Namun, ia melihat pintu ruang tamu dibuka. Entah ada apa.
"Bibi?"
Rara mengucapkan salam. Dan bibinya lah yang menyambut kedatangannya.
"Bibi, ada apa? Tumben datang kemari?" Rara tidak menyangka bibinya datang ke rumah malam-malam.
Bibinya tampak enggan menjawab. Saat itu juga ia lihat adik perempuannya sudah pulang ke rumah. Adik perempuannya itu sedang tertidur di ruang tengah.
"Bi?" Ia bertanya lagi kepada bibinya. Sang bibi pun menghela napas panjang-panjang.
"Adikmu."
__ADS_1
"Adikku?"
"Dia, em ...." Bibinya tampak enggan meneruskan.
"Bi?" Rara pun semakin bingung.
"Dia dipulangkan oleh pihak asrama karena ketahuan hamil di luar nikah," cetus bibinya.
"Ap-apa?!" Saat itu juga Rara tak percaya. Bak guntur menyambar di tengah siang yang terang benderang.
Malam ini Rara harus menerima kabar yang tidak mengenakan. Adik perempuannya itu dipulangkan oleh pihak asmara karena insiden yang terjadi. Rara pun merasa seperti kehilangan udaranya. Rasa sesak begitu melanda dadanya. Ia tidak menyangka akan mendengar kabar ini.
Belum selesai satu masalah, sudah datang masalah baru. Rara pun seperti orang yang kehilangan arah. Adik perempuan yang diharapkannya kini tidak lagi dapat meraih mimpi. Semuanya kandas dan tak bersisa lagi. Rara frustrasi.
Esok paginya...
Rara memutuskan untuk menemui adiknya yang baru siuman. Ternyata semalam adiknya itu pingsan setelah ketahuan hamil di luar nikah. Yang mana rencana hari ini kakak-kakak Rara akan berkumpul semua. Dan untuk sementara waktu Rara dan keluarga akan menunggu kedatangan mereka.
__ADS_1
Rara sedih. Hatinya teriris. Ia pun keluar dari kamar untuk menemui adiknya. Tapi, belum sempat bertemu, ia mendengar celotehan adiknya.
"Gue kayak gini karena enggak ada yang perhatiin. Kakak gue semuanya pada sibuk. Hanya mikirin dirinya sendiri. Jadi jangan salahin gue!" Adiknya itu tidak terima disalahkan.
Entah salah siapa, Rara pun merasa percuma untuk mengajak bicara. Ia tahu benar tabiat adiknya yang suka menyalahkan. Rara pun mengurungkan niatnya untuk bicara kepada adiknya. Ia kembali ke kamarnya.
Beginikah rasanya tidak punya ayah?
Rara termenung di sudut kamar sambil mendengarkan ucapan sang adik dari kamar sebelah. Ia tidak tahu harus bagaimana. Bak nasi sudah menjadi bubur, harapan akan masa depan itu seakan telah sirna. Rara tidak lagi mempunyai harapan masa depannya.
Adik perempuannya tinggal di asrama wanita milik Sekolah Menengah Atas yang ada di kota. Ia mengambil bea siswa yang berhasil Rara dapatkan untuk penerusnya. Namun, kabar ini begitu menyesakkan dada. Bea siswa itu hilang, adiknya pun tidak tahu ke mana arah tujuan. Saat ini ia hanya bisa menyerahkan urusan adiknya kepada kakak-kakaknya.
Rara tidak mempunyai tempat mengadu apalagi bersandar. Ia berjuang sendirian di hidupnya. Aib keluarganya pun tidak mungkin ia ceritakan kepada orang lain atau teman kerjanya. Karena hal itu hanya akan mempermalukan dirinya.
Semuanya ia pendam sendiri. Tawanya menutupi tangis. Senyumnya menutupi kesedihan yang mendalam. Andai saja ayahnya tidak pergi, mungkin Rara tidak perlu bersusah payah seperti ini. Pergi pagi pulang pagi hanya untuk mendapatkan beberapa lembar uang.
Sungguh sakit hal yang Rara rasakan karena harapan itu musnah. Ia pun segera menyiapkan beberapa pakaian ganti untuk dibawanya bekerja. Ia berangkat ke tokonya untuk menenangkan pikiran dan hati yang kacau-balau. Rara tidak bisa berlama-lama di rumahnya.
__ADS_1