
Angin sore itu menjadi saksi akan perasaan yang bergemuruh di dalam dada. Sebuah perasaan yang tidak bisa diungkapkan karena perbedaan kasta di antara keduanya. Walaupun sejujurnya mereka saling mencintai. Namun, tembok itu begitu besar untuk dilewati.
Ra, kau tahu? Saat ini adalah saat yang terberat bagiku.
Untuk yang pertama kalinya, Taka merasa rasa yang bersemayam di dalam hatinya itu hancur tak berbentuk. Ia kemudian melihat jam di tangan kirinya, seolah batas waktu memberi tahu untuk segera menyudahi perjumpaan ini.
"Ra, kau tidak boleh membuka kotak ini sebelum aku menyeberangi jalan, ya?" pinta Taka kepada Rara.
"Kenapa?" tanya Rara yang terheran.
"Aku ingin memberikan sebuah kejutan untukmu. Untuk seseorang yang sudah mengisi hari-hariku," tutur Taka kembali.
Taka ....
Rara pun terenyuh mendengarnya.
"Terima kasih banyak, Ra. Beberapa bulan ini kau telah mewarnai hidupku. Jaga dirimu." Taka pelan-pelan mengucapkan selamat tinggal.
__ADS_1
"Kau seperti akan pergi saja, Taka. Jangan membuatku sedih!"
Rara pun merasakannya. Ia menyadari jika kata-kata yang Taka ucapkan sangatlah berbeda dari hari biasanya. Lalu-lalang kendaraan yang ada di jalan pun seolah ikut menemani Taka yang ingin mengucapkan selamat tinggal. Sedang Rara sudah tampak menahan kesedihannya. Ia harap-harap cemas dengan semua hal yang akan Taka katakan padanya.
"Aku tunggu karyamu. Tetaplah semangat. Oke?"
Taka mengedipkan matanya kepada Rara yang membuat Rara bertambah bingung. Firasat tidak enak itu pun muncul di hatinya.
"Aku pamit dulu. Jaga dirimu baik-baik, Ra."
Taka lalu membungkukkan badannya. Pria itu kemudian beranjak pergi dari hadapan sang gadis. Ia berbalik lalu berjalan menjauh dari Rara.
Sebelum sempat pergi, Rara pun kembali memanggilnya. Ia tidak ingin tinggal diam begitu saja. Ada hasrat yang mendorongnya untuk mengatakan apa yang ada di dalam hatinya saat ini.
"Kau percaya takdir, bukan?!" tanya Rara yang sedikit berteriak kepada Taka.
Taka pun menghentikan langkah kakinya. Sejenak ia terdiam tanpa berbalik menghadap Rara. Membiarkan angin sore itu menyapu helaian rambutnya yang terjuntai ke depan.
__ADS_1
"Aku merasakan hal itu, Taka. Apakah kau juga merasakannya?" tanya Rara lagi yang membuat Taka menelan ludahnya berulang kali.
Ra ....
Suasana hening seketika. Hanya deru kendaraan yang terdengar dan jeritan hati yang tak mampu terungkapkan. Kedua hati itu seolah saling berpelukan erat dan tidak mau dipisahkan. Mereka saling melindungi satu sama lain dari badai kehidupan yang terus-menerus menerjang.
Taka kemudian berbalik, menghadap Rara yang tampak memandanginya. Gadis itu pun tetap memegangi kotak pemberian dari Taka. Ia mendekapnya. Keduanya berdiam diri, hanya saling menatap satu sama lain. Namun, di hati mereka tidak ingin perpisahan ini terjadi.
Bagaimana aku harus mengatakannya padamu, Ra? Sedang waktuku sudah di penghujung?
Deru napas itupun perlahan melambat. Saraf-saraf mata memerintahkan butiran kristal untuk segera menggenang, mewakili perasaan sedih yang menyelimuti hati.
"Aku percaya takdir. Dan aku merasakan apa yang kau rasa. Terus berjuang, ya!"
Taka pun menyudahi interaksinya bersama Rara. Ia tidak sanggup lagi jika harus berlama-lama di sana. Dadanya terasa sesak, air matanya juga sudah mulai menggenang. Ia kemudian menyeberangi jalan raya itu secepatnya. Lalu setibanya segera melambaikan tangannya kepada Rara, sebagai salam perpisahan. Yang mana Rara pun tersenyum membalasnya. Tanpa menyadari akan maksud dari lambaian tangan itu.
Taka, terima kasih.
__ADS_1
Merasa semuanya baik-baik saja, Rara pun membalikkan badannya, mengalihkan pandangan dari Taka. Ia kemudian berjalan masuk ke dalam gang rumahnya sambil membuka kotak yang telah Taka berikan padanya. Namun, tiba-tiba saja langkah kakinya terhenti seketika.