
Perkataan Taka, tindakan Taka membuat Rara tersenyum bahagia. Terlebih kala melihat senyuman manis yang Taka berikan padanya. Rasanya getaran-getaran cinta itu semakin besar saja.
Taka, terima kasih.
Tanpa ada perjanjian untuk bertemu di kemudian hari, Taka pun berpamitan lalu pergi. Membuat Rara bertanya-tanya akan kepastian sesuatu yang sedang ia jalani.
Sebenarnya dia itu ...? Ah, mungkin hanya perasaanku saja.
Rara membatin. Ia pun melepas kepergian Taka hingga hilang dari pandangan mata. Dengan segera ia membawa semua barang belanjaannya sampai ke rumah. Bersama angin malam dan rembulan yang menemani langkahnya.
23.00 WIB...
__ADS_1
Masih teringat jelas akan kebersamaan yang telah mereka lalui hari ini. Begitu manis walaupun diselingi dengan beberapa pertanyaan serius. Sempat terpikir jika Taka akan marah kepada Rara. Namun, Taka ternyata menyambut baik pendapat Rara tentang apa yang ditanyakannya.
Kini Taka tengah berada di teras apartemennya. Ia menatap keindahan rembulan yang bersinar terang. Ia bersantai sejenak dengan menekuk satu kakinya sambil meletakkan kedua tangan di belakang kepala. Ia merebahkan diri di atas kursi teras yang panjang, mencari posisi yang pas untuk menikmati malam.
Entah mengapa aku selalu teringat akan dirinya. Mengapa, ya?
Taka pun bingung dengan dirinya sendiri yang entah mengapa selalu kepikiran dengan gadis Indonesia tersebut. Seorang gadis yang telah berhasil memberikannya rasa rindu. Mengusir sepi yang menyayat hati.
"Hei, Bulan! Kau tahu? Kini aku menemukan sepercik kebahagiaan yang aku inginkan. Dia mampu membuatku termimpi-mimpi. Ya, walaupun dia adalah seorang gadis yang pendek. Hahaha."
Taka tertawa sendiri kala teringat dengan Rara yang tingginya hanya sebahunya saja. Membuatnya merasa mudah untuk memandangi gadis itu tanpa sepengetahuan Rara sendiri. Taka bahagia karena hari-harinya mulai berwarna. Ia juga berani menampakkan sisi lain dari dirinya tanpa perlu malu ataupun menjaga wibawa.
__ADS_1
Begitu juga dengan Rara yang saat ini sedang tersenyum sebelum terlelap. Ternyata ia pun memikirkan Taka. Keduanya saling memikirkan di bawah sinar rembulan. Bulan yang sama namun menerangi tempat yang berbeda. Bak mengantarkan rasa rindu keduanya.
Taka ....
Rara tersenyum mengingat Taka. Mungkin inilah yang dinamakan jatuh cinta. Semuanya terlihat indah di depan mata. Tanpa peduli dengan apa yang akan terjadi nantinya. Baik Rara maupun Taka sedang dimabuk asmara. Mereka pun tampak menikmatinya.
Esok paginya...
Mentari baru saja terbit. Cahayanya menerangi bumi yang semalam diterpa gelap gulita. Suara burung-burung berterbangan pun meramaikan pagi. Begitu syahdu untuk insan yang sedang merindu.
Di sana, di bandara kota tampak sedang menerima kedatangan seorang pria tua berkebangsaan Jepang. Pria itu berjas hitam dengan penampilan yang begitu elegan. Di sana juga ada sepupu dari Taka yang menyambut kedatangannya, Hiroshi. Ia menyambut kedatangan pria tua itu dengan senyum semringah dan membungkukkan badan. Pria tua itu pun menghargai penghormatan yang diberikan.
__ADS_1
Pria itu terlihat begitu berkelas. Ia datang bersama dua orang pengawalnya. Hiroshi pun menyambutnya dengan amat baik. Mereka kemudian berjalan bersama menuju parkiran bandara. Mereka akan menuju hotel bintang lima yang ada di tengah kota. Hiroshi pun mengajaknya bicara. Ia adalah Nomura, ayah dari Taka.