SEPERCIK KEBAHAGIAAN

SEPERCIK KEBAHAGIAAN
Kembali Mengenang


__ADS_3

"Kapan nyusul, Ra? Jangan sedih. Nanti juga ketemu jodohnya." Seorang penata rias tampak menyemangati Rara yang sedang berduka.


Rara tersenyum lemas. Ia bingung harus menjawab apa. Sang penata rias pun kembali mengajaknya bicara.


"Terkadang untuk bertemu jodoh itu jalannya harus memutar dulu. Terkadang juga lurus saja ke depan. Tiap orang berbeda-beda dalam menemukan jodohnya. Tapi asal kita mau berusaha dan memperbaiki diri, pasti akan datang juga nantinya. Jadi jangan terlalu dipikirkan." Penata rias itu kembali menyemangati Rara.


Rara mengangguk. Ia mengerti akan maksud dari perkataan penata rias yang sedang mendandaninya mengenakan make up dan kebaya. Rara pun tersenyum walau tidak dapat dipungkiri jika hatinya sedih. Seseorang yang beberapa bulan terakhir mewarnai hidupnya kini telah menghilang. Rara pun tidak bisa melakukan apa-apa selain hanya berdoa kepada Tuhannya. Berharap takdir mempertemukannya kembali dengan Taka.


Taka, aku ingin sekali kau datang dan mendampingiku menghadiri akad nikah adik perempuanku. Ingin rasanya memperkenalkanmu kepada keluargaku. Aku merasa sepi tanpamu. Apakah kau merasakan hal yang sama denganku?

__ADS_1


Setiap manusia bisa bertemu dengan siapa saja. Tapi setiap manusia tidak tahu kepada siapa akan jatuh cinta. Seperti hal yang Rara rasakan saat ini. Ia begitu merindukan Taka di sisinya. Rara ingin Taka kembali menemani harinya. Menyemangatinya dalam cinta dan cita.


"Ra, sudah selesai?" Tak lama sang ibu pun masuk ke dalam kamar. Wanita paruh baya itu tampak cantik mengenakan kebaya berwarna biru.


"Sudah, Bu." Rara pun menjawabnya.


Rara pun tersenyum sampai memperlihatkan gigi kecilnya. Ia merasa ledekan itu memaksanya agar tersenyum di tengah akad yang sebentar lagi akan segera terselenggara. Pada akhirnya Rara pun keluar dari kamarnya lalu menuju ke ruang tengah untuk menghadiri akad nikah adik perempuannya. Ia akan melepas tanggung jawabnya kepada sang adik. Karena setelah menikah, adiknya menjadi tanggung jawab penuh suaminya.


Kembali rasa di hati itu tidak dapat dibohongi meskipun telah diimingi dengan harta. Cinta yang mengalir begitu saja membuat setiap insan merasa bahagia. Begitu juga dengan Rara yang notabene sudah diminta oleh kedua orang tua Aji untuk menikah dengan putranya. Walaupun diimingi dengan jatah bulanan, Rara tetap tidak bisa menerimanya. Hatinya lebih condong ke Taka yang entah mengapa. Ia pun berharap semesta merestui kisahnya. Berharap mempertemukannya kembali untuk melepas kerinduan.

__ADS_1


Esok harinya...


Rara mengambil cuti selama tiga hari dari tokonya. Lusa nanti ia sudah akan kembali bekerja. Rara harus tetap bekerja walaupun duka menerpa hatinya. Semua itu tidak lain demi memenuhi tugasnya sebagai tulang punggung keluarga. Rara harus tetap kuat bagaimanapun cobaan menerpanya.


Kini ia sedang berdiri di lantai dua Taman Santapan. Sebuah tempat santap untuk orang-orang di sekitar perkantoran. Namun, kali ini ia sendiri. Tidak ada satu orang pun yang menemani. Rara pun menikmati kesendiriannya di lantai dua tempat santap itu.


Ia menatap kekejauhan, ke sebuah tempat pertemuan pertamanya dengan Taka yang tak jauh dari sana. Rara pun mengingat kembali bagaimana pria itu mengagetkannya.


Sedih. Hal itulah yang Rara rasakan saat ini. Seminggu berlalu dari keputusan Taka untuk tidak kembali, membuat Rara harus menanggung kekecewaan yang berat. Ia juga harus menelan kepahitan akan harapan masa depan. Rara sudah jatuh hati, tapi ia ditinggal pergi. Walaupun belum ada ikatan resmi, kebersamaan yang telah terjalin menjadi bukti kuat akan perasaan keduanya. Namun sayang, terhalang ego dan kebencian.

__ADS_1


__ADS_2