
Rara teringat dengan perubahan yang terjadi selama satu tahun ini. Yang mana adik dan kakak laki-lakinya meminta maaf atas sikapnya kepada Rara. Rara pun merasa senang karena semuanya sudah berubah, menjadi yang lebih baik lagi.
Waktu itu...
Rara baru saja pulang bekerja sehabis mendapatkan shift malam. Sang adik pun yang membukakannya pintu lalu segera mengambilkan Rara segelas air minum. Sontak Rara jadi bertanya-tanya sendiri. Tak biasanya sang adik bersikap seperti ini.
"Danu?"
Rara merasa bingung. Ia pun melihat ke arah adiknya yang memberikan segelas air itu. Sedang Danu tampak menundukkan kepalanya di hadapan Rara. Ia kemudian mengajak Rara untuk duduk bersama di kursi tamu. Rara pun mengikutinya.
Malam ini atmosfer rumah Rara berubah hening, tidak gaduh seperti dulu. Rara pun menunggu Danu bicara kepadanya.
"Kak Rara, Danu ... Danu ingin minta maaf, Kak," katanya kepada Rara.
__ADS_1
"Minta maaf?" Rara pun tak mengerti. Ia letakkan segelas air minum yang diberikan adiknya.
Danu mengangguk. Tersirat dari raut wajahnya penuh penyesalan kepada Rara. "Sekarang Danu sadar, Kak. Kalau cari uang itu susah. Danu minta maaf karena udah buat Kak Rara capek cari uang untuk bayar uang sekolah Danu." Ia menuturkan.
Sontak hati Rara tersentak mendengar penuturan adiknya. Semburat senyum itu pun pelan-pelan terlukis di wajahnya. Ia merasa bahagia karena jerih payahnya itu dihargai adiknya. Bersamaan dengan itu kakak Rara pun keluar dari kamarnya.
"Ra, kakak juga minta maaf ya. Kakak stres karena rumah tangga berantakan. Jadi ngomongnya sembarangan ke Rara." Kakaknya yang masih tampak sakit itu meminta maaf kepada Rara.
Mereka kemudian duduk di kursi tamu. Untuk yang pertama kalinya duduk bersama setelah bertahun-tahun lamanya. Rara pun merasa bahagia. Akhirnya kakak dan adiknya itu menyadari kesalahannya.
Adiknya mengangguk. Ia terlihat merasa amat bersalah. Rara pun menahan air matanya yang ingin tumpah. Malam ini sungguh malam yang membahagiakannya. Ia tidak peduli bagaimana rasa sakit itu telah menghancurkan hatinya. Karena baginya, keluarga adalah segalanya.
"Rara sudah pulang? Makan, gih. Ibu sudah buatkan sup ayam."
__ADS_1
Ibunya pun tak lama datang dari dapur sambil membawakan lauk makan untuk Rara. Saat itu juga Rara tersentak hebat, merasa bahagia tak terkira. Air matanya pun tanpa sadar jatuh membasahi pipinya.
Aku pulang ....
Dengan rasa haru bercampur bahagia, Rara kemudian lekas-lekas menyantap makanan yang dihidangkan ibunya. Rasa lelahnya sehabis bekerja pun seolah tak terasa. Rara dengan semringah menyantap masakan ibunya.
.........
Kesabaran itu akhirnya membuahkan hasil. Walaupun pahit dijalani awalnya, Rara akhirnya sukses menjadi panutan dalam keluarga. Pelan tapi pasti waktu yang akan merubah semuanya. Dan Rara amat mensyukurinya.
Semilir angin yang berembus sore ini menjadi saksi akan dirinya yang kembali mengingat Taka dan perubahan dalam setahun belakangan. Walaupun telah lama tak berjumpa, Rara masih mengingat sosok pria berkebangsaan Jepang itu. Baginya, tidak mudah untuk melupakan semua yang terjadi. Rara pun berharap bisa bertemu kembali.
Sementara itu...
__ADS_1
Di saat yang bersamaan, terlihat seorang pria sedang menatap jauh perkotaan dari lantai teratas gedung kantornya. Burung-burung yang berterbangan di langit sore tampak menyapanya yang sedang berdiri di dekat kaca jendela. Ialah Taka Nomura yang sore ini belum pulang bekerja. Ia tampak sudah berada di negara asalnya.