SEPERCIK KEBAHAGIAAN

SEPERCIK KEBAHAGIAAN
Kesempatan


__ADS_3

Keesokan harinya...


Hari ini Hari Senin, Rara pun mendapatkan jatah libur dari tokonya. Pagi-pagi ia terbangun lalu segera membersihkan rumahnya. Dari menyapu, mengepel, mencuci piring, sampai mencuci pakaian ia kerjakan. Ia belum boleh berpergian jika rumah belum selesai dibersihkan.


Rara tujuh bersaudara. Sedang keempat kakaknya sudah berkeluarga. Namun, satu kakak laki-lakinya bercerai sehingga tinggal di rumah bersama. Sedang Ayah Rara sendiri telah pergi meninggalkannya sejak ia berusia sembilan tahun. Selama itu juga ayahnya tidak pernah memberi nafkah. Rara hidup berdasarkan belas kasihan kakak-kakaknya. Dan sekarang ia bergantian mengemban tanggung jawab untuk menafkahi keluarganya.


"Akhirnya selesai juga."


Rara sudah menyelesaikan pekerjaannya. Ia pun bergegas mandi karena akan berangkat mencari kerja tambahan. Ia membutuhkan kerja sampingan untuk menambah pemasukan. Tentunya tidak terikat seperti pekerjaan di mini marketnya sekarang. Rara hanya mencari kerja sampingan.


Lain Rara, lain juga dengan Taka. Pria berusia dua puluh lima tahun itu tampak keluar dari apartemennya. Ia ingin mencari udara segar sambil berkeliling kota yang baru dikunjunginya. Ia ingin tahu ada apa saja di kota ini. Ia ingin menjelajahinya sendiri.

__ADS_1


Ini hari libur untukku. Aku harus menyenangkan diri sendiri.


Taka adalah orang yang suka menyendiri. Tapi hari ini ia ingin berkeliling kota dengan meninggalkan apartemennya. Dua minggu pertama, hari libur Taka manfaatkan untuk tidur. Ia lebih banyak tidur karena harus beradaptasi dengan lingkungan yang baru. Namun, kini ia lebih memilih untuk menjelajahi kota sendiri.


Taka adalah putra tunggal dari Nomura. Seorang pengusaha sekaligus pejabat yang ada di Negeri Sakura. Taka sudah tidak mempunyai ibu. Atau lebih tepatnya Taka tidak tahu di mana keberadaan ibunya. Sang ayah seperti menyembunyikan darinya. Taka pun hidup tanpa kasih sayang seorang ibu sejak masa bayinya.


Lantas, pria bersweter hitam itu pun mulai melajukan mobilnya. Ia ingin berkeliling kota dengan mengunjungi beberapa tempat hari ini. Taka ingin lebih mengenal kota barunya. Sebuah kota yang ada di kawasan teluk pulau besar Indonesia.


Mendung, begitulah cuaca siang ini. Rintik-rintik hujan mulai turun membasahi bumi. Rara pun baru turun dari angkot yang ia naiki. Ia ternyata baru sampai di jalanan rumahnya. Ia pun menunggu kendaraan sepi untuk menyeberanginya.


Jam makan siang Rara baru pulang dari rumah temannya. Ia menanyakan kerja paruh waktu yang ada. Kebetulan temannya banyak kenalan sehingga Rara mencoba-coba bertanya. Kali-kali saja ada tempat yang membuka lowongan. Rara ingin menjual tenaganya.

__ADS_1


Detik demi detik Rara menunggu kendaraan sepi. Menit demi menit akhirnya juga terlewati. Rara harus berhati-hati menyeberang karena jam makan siang banyak kendaraan yang lalu-lalang. Apalagi jalan di rumahnya dua arah. Ia harus siap siaga.


Langit mendung sekali. Apakah akan turun hujan hari ini?


Gadis berjaket merah itu tampak memandangi langit yang mulai menitikan air hujan. Rara pun berlindung di bawah pohon agar tidak sampai kebasahan. Tanpa menyadari ada seorang pria bersweter hitam melintasi jalan dua arah tersebut. Ia pun melihat Rara sedang berdiri di pinggir jalan. Di bawah pohon palem sambil berlindung dari rintiknya hujan. Saat itu juga ia memutuskan untuk memarkirkan kendaraan.


Gadis itu?!


Pria itu adalah Taka yang tanpa sengaja melewati jalan di mana tempat Rara turun dari angkot. Taka pun segera berpikir bagaimana cara agar bisa mendekati Rara tanpa menuai curiga. Ia sendiri membawa mobil BMW hitamnya. Ia khawatir diduga yang tidak-tidak jika langsung menemui Rara tanpa basa-basi sebelumnya.


Ini kesempatan bagiku untuk menemuinya. Tapi, bagaimana caranya?

__ADS_1


__ADS_2