
Rara menyilangkan kedua tangannya di dada. "Sudah cepat. Aku harus segera kembali ke rumah. Nanti barang belanjaannya pesankan ojek saja ya. Biar kita tidak berat membawanya." Rara ingin bergegas pulang ke rumahnya.
Saat itu juga Taka ingin menahannya. Ia masih ingin berlama-lama dan berbincang bersama Rara. Tapi, ia pun menyadari jika waktunya memang belum tepat.
Taka mengangguk. Ia kemudian membayar makanan yang telah ia pesan. Ia pun segera mencari kendaraan untuk mengangkut barang belanjaan Rara. Alhasil, semua barang belanjaan Rara diangkut menggunakan jasa ojek pasar.
Rara kemudian memberikan alamat rumahnya kepada tukang ojek tersebut. Agar barang belanjaannya bisa sampai di depan rumah. Sedangkan ia sendiri pulang bersama Taka dengan menaiki angkot. Mereka pun berjalan bersama sambil menunggu angkot yang lewat.
"Taka,"
"Hm?"
"Kau tampan," ucap Rara seraya tersenyum manis.
Saat itu juga pipi Taka merona sendiri. Ia tersipu dengan pujian Rara kepadanya. "Kau juga cantik, Ra." Taka membalas pujian Rara.
Rara tersenyum. Keduanya pun meneruskan langkah untuk mencari angkot yang akan mereka naiki. Siang ini menjadi momen yang tak terlupakan untuk Rara. Di mana Taka telah sudi membantu meringankan beban pikirannya. Rara pun merasa bahagia.
__ADS_1
Pukul 13.13 siang waktu kota dan sekitarnya...
Taka mengantarkan Rara sampai ke gang rumahnya. Seperti biasa, ia hanya diam sambil menatap gadis pendek di hadapannya itu. Yang mana gadis itu kali ini membawa satu plastik berukuran besar berisi pakaian kotor. Taka pun seperti kehabisan kata-kata kala teringat senyum manis Rara. Ia merasa bahagia seketika.
"Taka." Sementara Rara sendiri ingin berterima kasih lebih kepada Taka. Namun, ia tetap menjaga sikapnya.
"Ra?"
Mereka pun berdiaman sejenak. Merasakan semilir angin yang berembus pelan. Menyapu helaian rambut keduanya yang tengah saling berpandangan. Tak lama Rara pun mengambil napas panjang lalu mengembuskannya perlahan. Ia memberanikan diri untuk berterima kasih lebih kepada Taka.
"Terima kasih," kata Rara lalu membungkukkan badannya ke arah Taka.
Saat itu juga Taka tersentuh dengan sikap Rara kepadanya. Begitu santun, yang membuatnya semakin menyukai gadis ini.
"Sampai nanti. Jaga dirimu, Taka."
Rara kemudian membalikkan badannya. Ia berjalan meninggalkan Taka yang masih terdiam karena sikapnya.
__ADS_1
"Rara!"
Tak lama kemudian Taka pun memanggil kembali Rara yang sudah berjalan menjauh darinya.
"Apa?" Rara berbalik ke Taka.
"Aku ... suka senyummu," katanya lalu tersenyum kepada Rara dengan senyuman termanis yang ia punya.
Rara pun tersenyum kembali. "Sampai nanti." Ia segera berpamitan kepada Taka.
Taka pun mengangguk. "Sampai nanti." Ia akhirnya harus merelakan Rara pulang ke rumahnya.
Rasa di dalam hati itu mulai bersemi saat seringnya bersama. Taka pun menyadari jika ia membutuhkan Rara sebagai temannya. Taka membutuhkan teman di tengah kesepian yang tidak diketahui banyak orang. Dan Taka merasa Rara lah yang pantas untuk menemaninya.
Rara begitu terbuka dan jujur padanya. Hal itulah yang menjadi nilai lebih Rara di mata Taka. Karena dalam dunia kerja, kejujuran adalah segalanya. Taka pun mulai menyukai Rara. Entah akan dibawa ke mana nantinya, ia hanya mengikuti arus saja. Taka menantikan kabar bahagia untuk dirinya.
Aku beruntung mengenalmu, Ra. Aku juga menyukai sikapmu yang terbuka. Kau berbeda dari gadis yang lainnya.
__ADS_1
Taka tersenyum. Ia kemudian memandangi Rara sampai hilang dari pandangan mata. Taka kembali ke parkiran mobilnya. Mobilnya itu ternyata sengaja diparkirkan di dekat lapangan agar tidak menimbulkan kecurigaan Rara. Taka masih menutupi jati dirinya.
Siang ini pun menjadi saksi akan dirinya yang bertemu kembali dengan seorang gadis berkebangsaan Indonesia. Yang mana gadis itu telah membuatnya rindu dan ingin bertemu. Dan kini rasa rindu itu sudah tersalurkan ke orang yang tepat. Taka bertemu dengan Rara kembali. Ia pun menantikan hari pertemuan selanjutnya.