SEPERCIK KEBAHAGIAAN

SEPERCIK KEBAHAGIAAN
Berpikir Ulang


__ADS_3

"Jika ibu memang terdesak, pakailah ongkos Rara untuk membeli lauk makan." Rara akhirnya menyerahkan selembar uang seratus ribuan kepada ibunya.


Ibunya terdiam.


"Rara istirahat dulu ya, Bu. Semoga setelah istirahat Rara bisa menjawab pertanyaan Ibu." Rara pun beranjak meninggalkan ibunya.


Ibunya diam. Tidak berkata apa-apa. Ia pun membiarkan Rara mengistirahatkan tubuhnya. Sedang Rara segera masuk ke kamar lalu duduk di pinggir kasurnya. Ia berpikir keras mengenai perjodohan ini.


Apakah pak Reno bisa menepati janji setelah aku menikah dengan putranya? Tapi satu juta untuk sebulan itu tidak cukup jika aku tidak bekerja. Apa aku harus menikah dan tetap bekerja?


Rara merasa pesimis dengan jalan hidupnya. Ia menghela napas dalam-dalam lalu mulai mengambil handuknya. Rara ingin mandi terlebih dahulu sebelum mengistirahatkan tubuhnya. Ia tidak bisa berpikir di saat kondisi tubuhnya lelah seperti ini. Rara membutuhkan waktu untuk menjawab perjodohan itu.

__ADS_1


Esok siangnya...


Siang ini matahari tampak malu-malu keluar dari persembunyiannya. Langit mendung mengantarkan seorang gadis berangkat menuju tempat bekerjanya dengan berjalan kaki. Ialah Rara yang harus menempuh jarak sekitar dua kilometer untuk sampai ke tokonya. Karena uang yang ia punya, harus ia berikan kepada ibunya untuk membeli lauk makan. Namun, Rara belum juga makan dari pagi. Ia hanya mengganjal perutnya dengan roti.


Kehidupan Rara begitu dramatis untuk ukuran anak seusianya. Tapi ia tetap bersyukur karena masih bisa bekerja dan membantu keluarganya. Walaupun nyatanya, anggota keluarga sangat tidak mendukung pekerjaan Rara. Tapi Rara selalu bersemangat dalam bekerja. Tidak cukup memang penghasilannya untuk memenuhi kebutuhan keluarga sebulan, tapi Rara yakin rezeki tidak akan tertukar.


Siang ini perutnya kosong. Berulang kali ia harus menanggung rasa lapar. Namun, tidak sekali pun ia mengeluhkan hal itu kepada siapapun. Rara menyimpan rapat-rapat penderitaannya dan berusaha selalu tersenyum di hadapan orang. Walau kenyataannya, ia harus terluka dan kembali terluka. Rara harus kuat menjalani hidupnya. Semua ini tak lain demi keluarga tercinta.


"Iya, nih. Laper," jawab Rara apa adanya.


"Kasihan. Nih, aku ada nasi goreng sosis. Mau?" tawar Salsa kepada Rara.

__ADS_1


"Wah, beneran?" Rara pun semringah seketika.


"Makan dulu gih sebentar. Kepala toko juga belum datang." Salsa memberi tahu sambil menyerahkan kotak nasi berisi nasi goreng untuk Rara.


"Terima kasih, ya. Kalau begitu aku makan sekarang." Rara pun menerima nasi goreng itu lalu membawanya ke belakang. Ia segera menyantapnya di sana.


Salsa tersenyum. Ia tahu jika Rara seringkali menahan lapar saat bekerja. Namun, sebisa mungkin Salsa membantu Rara dengan memberikan makanan yang ia punya. Salsa tidak tega jika Rara kelaparan. Apalagi pekerjaan sebagai kasir amat membutuhkan konsentrasi tinggi. Jika tidak fokus malah bisa salah dalam memberi kembalian.


Sementara itu...


Seorang pria berjas biru gelap sedang melihat bongkar muat barang-barang di pelabuhan. Ia tampak tajam menatap ke arah pekerja. Yang mana pekerjanya itu tampak tidak mengindahkan perintahnya.

__ADS_1


"Ini peringatan pertama dariku. Ikuti semua aturan yang kuberikan. Jika tidak, aku tidak akan segan untuk memecat kalian. Pihak kota telah memercayakan jalur transportasi angkutan laut kepadaku. Jadi aku tidak bisa bermain-main dengan banyak waktu. Kalian mengerti?" tanyanya kepada jajaran pekerja yang membongkar muatan.


__ADS_2