SEPERCIK KEBAHAGIAAN

SEPERCIK KEBAHAGIAAN
Penjelasan


__ADS_3

Rara mendongakkan kepalanya, melihat Taka. "Kau ke mana saja selama ini?" tanya Rara sendu.


Taka terdiam. Ia merasa berat untuk jujur. "Aku ... sibuk," jawabnya setengah hati.


Saat itu juga Rara menyadari apa yang terjadi. "Maaf, mungkin aku terlalu berharap." Rara pun beranjak berdiri.


"Rara, kau salah paham." Taka ingin mengurai kesalahpahaman yang terjadi.


Rara berbalik. "Salah paham? Kau ingin bilang jika apa yang aku pikirkan ini salah?" Rara balik bertanya.


Taka menyilangkan kedua tangannya sambil tersenyum. "Memangnya apa yang kau pikirkan?" pancing Taka, ia ingin mengetahui isi hati Rara.


Rara tertunduk. "Seperti yang kubilang waktu itu. Kau sudah ada yang punya. Jadi sibuk dengannya."


Rara berkata sambil menahan kesal. Entah mengapa rasa cemburu itu terasa mencabik-cabik hatinya. Padahal Taka sendiri belum mengakui jika ia sudah mempunyai pasangan.


"Hahaha." Taka tertawa kecil. Ia menendang-nendang rerumputan yang panjang. "Aku single, Ra. Aku belum punya pacar apalagi istri," kata Taka yang membuat bunga-bunga cinta di dalam hati Rara merekah seketika.

__ADS_1


"Benarkah?" Rara tak percaya.


Taka memasukkan kedua tangannya ke saku celana. "Sudah, pulanglah. Jangan banyak bertanya. Jam lima sore kutunggu di sini." Taka membuat janji.


"Eh?!" Rara terbelalak seketika.


"Aku ingin mengajakmu berjalan-jalan," kata Taka yang membuat Rara seperti mendapatkan lampu hijau. Ia tidak bersedih kembali.


"Kau serius?" Rara tampak masih tak percaya.


Taka mengangguk. Ia benar-benar serius untuk mengajak Rara jalan. "Aku tunggu di Taman Santapan. Ayo!" Taka pun mengajak Rara menyeberangi jalan bersama.


"Jangan terlambat, aku tidak suka," pesan Taka kepada Rara.


Rara mengangguk. Ia pun segera berlari pergi dari Taka. Sedang Taka sendiri terdiam di tempatnya. Ia memegang jantungnya yang seakan melambat berdetak.


Mengapa perasaanku menjadi seperti ini kepadanya? Aku begitu senang melihatnya. Dan ingin sekali membuatnya selalu bahagia. Apakah aku jatuh cinta?

__ADS_1


Taka bertanya-tanya sendiri di dalam hatinya.


Taka merasa sesuatu telah terjadi pada hatinya. Namun, ia berusaha untuk mengabaikannya. Taka khawatir perasaan itu akan menimbulkan rasa takut kehilangan. Sedang Taka menyadari siapa dirinya. Ia tidak boleh jatuh cinta selama mengemban amanah. Sang ayah melarangnya.


Setengah jam kemudian...


Rara berjalan mendekati Taka yang tengah menunggunya datang. Pria itu terlihat duduk sambil meneguk segelas teh hangat di Taman Santapan. Tubuhnya terlihat begitu sempurna manakala mengenakan kaus pas badan yang dibalut jaket hitam. Cara berpakaian Taka sangat modis dan juga kasual. Sedang Rara terlihat datang dengan mengenakan kaus berwarna putih dan kardigan birunya. Ia mendekat ke arah Taka yang sedang melihatnya datang.


"Aku tidak terlambat, bukan?" tanya Rara seraya duduk di hadapan Taka.


"Hn, telat dua menit," sahut Taka mengeluhkannya.


"Eh?! Aku tiba di sini tepat pukul lima, lho," bela Rara.


"Iya, tapi kau berjalan menghampiriku membutuhkan dua menit untuk sampai di sini, bukan?" balas Taka.


Terlihat senyum sinis Rara karena Taka amat perhitungan dengan waktu. Yang mana hal itu membuat Taka gemas kepada Rara. Rasanya ia ingin sekali mencubit kedua pipi itu.

__ADS_1


"Apa kabar, Ra? Lama tak jumpa. Bagaimana keadaan di rumah?" tanya Taka sambil meminum kembali teh hangatnya.


Rara menjawab, "Kabarku baik. Begitu juga dengan keluargaku. Tapi tidak untuk lumbung padiku." Ia terkekeh menjawabnya.


__ADS_2