
Selepas berbelanja, Taka mengajak Rara makan malam. Dan ia memanfaatkan kesempatan itu untuk mengetahui sudut pandang Rara mengenai perihal yang ia tanyakan. Tapi, siapa sangka jika Rara menjawabnya begitu sempurna. Taka pun tak habis pikir dengannya. Terlebih Rara belum berusia dewasa.
"Itu sudut pandangku. Bukankah tidak mengenal umur untuk mengungkapkan sudut pandang?" Rara balik bertanya. Saat itu juga Taka terdiam di tempatnya.
Dia ternyata bisa berpikiran dewasa.
Taka menyadari jika Rara sudah mampu berpikiran dewasa. Tidak seperti usianya yang masih di bawah angka dua puluh. Ia pun memalingkan pandangannya sejenak, seperti berat untuk melanjutkan pertanyaannya lagi.
"Taka, kau baik-baik saja?"
Rara pun merasa cemas. Ia khawatir jika jawabannya membuat roman wajah Taka berubah.
"Taka?"
"Hm, ya, Ra?"
__ADS_1
"Kau baik-baik saja?" tanya Rara lagi.
Taka mengangguk. "Sepertinya aku harus lebih banyak belajar lagi." Taka terlihat memikirkan jawaban Rara.
Tak lama, hidangan makan malam yang mereka pesan pun datang. Taka juga segera mengajak Rara untuk menyantap makan malamnya. Mereka kemudian menikmati makan malam sambil berceloteh ringan tentang makanan yang sedang keduanya santap.
Seperti sudah saling mengenal dan tak ada jarak di antara keduanya. Mereka diam-diam menyimpan rasa di dalam dada. Intensitas kebersamaan itu membuat hal yang mustahil dapat menjadi nyata. Dan hal itulah yang terjadi pada Taka dan Rara. Ya, Taka menyayangi Rara begitupun dengan Rara yang menyayangi Taka.
Walaupun kata cinta belum terucap, namun hati mereka seakan terhubung dan merindukan satu sama lain. Begitulah cinta dalam diam, kasih dalam rindu. Tak perlu diucapkan melainkan dibuktikan dengan tindakan.
Taka bersama Rara sudah tiba di Taman Santapan. Mereka turun dari mobil sambil mengeluarkan barang-barang belanjaan. Setelah semua barang belanjaan sudah diturunkan, mobil rentalan itupun segera pergi dari keduanya.
"Kau yakin akan membawa barang belanjaan ini seorang diri?"
Taka bertanya karena tak percaya jika Rara akan membawa semua barang belanjaan sendirian. Terlebih Rara juga membeli beberapa perabotan masak.
__ADS_1
"Iya, aku akan membawanya saja," sahut Rara seraya mengambil satu per satu plastik belanjaannya.
"Tapi, Ra. Semua ini begitu berat. Aku ikut mengantarkannya, ya?" bujuk Taka.
"Eh? Ja-jangan! Itu akan menjadi masalah bagiku,” sahut Rara terbata.
Taka terheran. Ia merasa Rara benar-benar mempunyai masalah di dalam keluarganya. "Kenapa?" tanya Taka terheran.
Rara memutar bola matanya. Ia terlihat berat untuk mengungkapkan. "Aku ... takut fitnah menimpa keluargaku dengan kehadiranmu membawa barang-barang belanjaan ini. Aku takut mereka mengira aku—"
"Ra." Taka tampak mengerti ketakutan Rara. "Kau tidak melakukan apapun untuk mendapatkan semua barang belanjaan ini. Aku sendiri yang memberikannya untukmu. Beda cerita jika kau memberikan sesuatu sebagai imbalan dari apa yang kau terima." Taka menerangkan.
Rara mengembuskan napasnya. Ia mengerti. Tapi tetap saja omongan tetangga itu begitu pedas terdengar di telinga. Ia tidak ingin menambah beban pikiran ibunya yang sudah menua. Terlebih kemarin sang ibu teramat kecewa dengan adik perempuannya.
"Taka, terima kasih. Aku sangat menghargai bantuanmu. Tapi aku—"
__ADS_1
"Begini saja. Aku tidak akan mengantarkannya sampai di depan rumah. Aku akan mengantarkannya hingga jarak pandang mata. Bagaimana?" Taka mengambil jalan tengah. Ia berusaha untuk membuat Rara tidak khawatir.