SEPERCIK KEBAHAGIAAN

SEPERCIK KEBAHAGIAAN
Dilema


__ADS_3

Pria tua itu begitu keras, membuat Taka seperti orang yang tersudutkan dan tidak bisa melakukan apa-apa. Taka pun menelan ludahnya sambil menahan rasa sesak di dada akibat perintah ayahnya tersebut. Dengan raut wajah sedih, Taka pun membalikkan badannya lalu pergi dari ruangan.


"Taka!"


Belum sempat Taka membuka pintu, ayahnya kembali memanggil yang membuat Taka berhenti melangkahkan kaki.


"Watashi o uragiranai de."


(Jangan sampai kau mengkhianatiku.)


Pria itu mengingatkan Taka agar tidak mencoba untuk mengkhianatinya.


Taka pun keluar dari ruangan. Ia terlihat patuh kepada ayahnya. Walaupun jujur saja di dalam hatinya sedang terluka.

__ADS_1


Ayah Taka bernama Nomura. Seorang pria berusia lima puluh tahun yang disegani lawan maupun kawannya. Ia juga ditakuti oleh Taka, anaknya sendiri. Karena Nomura tidak akan pandang bulu dalam menghukum seseorang. Ia adalah seorang ayah yang begitu tegas dalam mendidik anaknya. Membuat dirinya bak seorang diktator di mata orang.


Beberapa jam kemudian...


Semilir angin mengantarkan Taka menuju suatu tempat. Tempat di mana ia menraktir Rara untuk yang pertama kalinya. Ia kini berdiri sambil memandangi pemandangan indah dari lantai dua Taman Santapan. Pegunungan dan lautan luas terlihat di depan matanya. Taka pun menikmati semilir angin yang berembus ke arahnya.


Taka sengaja mengunjungi tempat itu untuk menikmati hari liburnya. Berharap menemukan sesuatu yang tidak pernah terpikirkan olehnya. Ia pun mengambil ponsel lalu membuka sebuah aplikasi. Taka ingin mencari-cari sesuatu di sana. Tak lama kemudian ia pun menemukan apa yang dicarinya.


Semua ini pasti ulah Hiroshi. Hanya dia yang mengetahui gerak-gerikku.


Taka menunggu Rara di sana. Ia berusaha memenuhi janji yang sempat terucapkan. Sebuah janji yang mungkin tidak akan pernah lagi bisa ia pegang. Karena Taka tahu bagaimana sifat ayahnya. Nomura tidak akan main-main dengan apa yang telah diucapkannya. Dan Taka takut jika ayahnya sampai menyakiti Rara karena dekat dengannya.


Taka mengambil suatu jalan yang tak pernah terpikirkan sebelumnya. Jam demi jam pun berlalu menjadi saksi dirinya yang dilema. Taka harus mengambil keputusan untuk Rara. Keputusan yang mungkin tidak bisa Rara terima.

__ADS_1


Itu dia!


Taka pun melihat Rara yang baru saja turun dari angkot. Ia kemudian lekas menghadap ke arah jalan. Taka berniat memanggil Rara sebelum masuk ke gang rumahnya. Ia ingin bicara. Sesuatu di atas meja pun telah menunggu kedatangan Rara di sana.


"Rara!"


Taka memanggil Rara yang akan menyeberang. Ia juga melambaikan tangannya dari lantai dua Taman Santapan. Rara pun melihatnya. Ia begitu terkejut saat melihat Taka ada di sana.


Eh, dia ada di sana?


Rara melihat Taka. Ia merasa bingung karena tanpa janji sebelumnya Taka tiba-tiba saja sudah datang untuk menunggunya. Rara pun lekas-lekas mendekatinya. Ia menyeberangi jalan raya yang sudah mulai ramai.


"Taka? Kau sudah berada di sini?" tanya Rara yang tak percaya melihat Taka sudah berada di Taman Santapan.

__ADS_1


Taka turun dari lantai dua untuk menemui Rara yang berjalan mendekatinya. Keduanya pun bertemu di depan pintu masuk seraya saling menebarkan senyuman. Tampak Taka yang memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana.


__ADS_2