
Malam harinya...
Cahaya terang lampu jalan raya menyinari seorang pria yang sedang duduk di dalam mobilnya. Ia berhenti tepat di sebuah tempat yang penuh dengan kenangan. Tempat itu menjadi saksi betapa rasa yang menyelimuti hati sudah ingin ia ungkapkan kepada seorang gadis. Namun sayang, perasaan itu kini harus ia pendam selamanya.
Ialah Taka Nomura yang sedang menepikan mobilnya di trotoar jalan Taman Santapan. Ia tampak sendirian di dalam mobil sambil melihat kendaraan yang lalu-lalang. Sesekali ia menoleh ke arah Taman Santapan yang mulai ramai. Lampu bohlam berwarna kuning itupun menambah semarak Taman Santapan. Namun, sepertinya tidak bagi Taka.
Malam ini Taka ingin sekali menemui Rara. Malam ini juga ia ingin berpamitan untuk yang terakhir kalinya. Tapi ia masih ragu untuk melakukannya. Taka khawatir ada seseorang yang membuntutinya dan memotret kebersamaannya dengan Rara. Tentu saja hal itu akan membahayakan keselamatan Rara ke depannya.
Ayah Taka, Nomura sangat tegas dengan ucapannya. Ia tidak akan segan memberi hukuman berat kepada orang-orang yang berani membantahnya. Taka pun pernah melihat sendiri bagaimana kekejaman sang ayah. Dan karena hal itulah ia amat khawatir dengan Rara jika masih dekat dengannya. Karena Nomura tidak menyetujui hubungan Taka dengan Rara. Sekalipun belum mengungkapkan apa alasannya.
Kini Taka hanya bisa termenung di dalam mobilnya. Timbul harapan kecil Rara sendiri yang datang menemuinya. Tapi ia juga menyadari jika hal itu tidak mungkin terjadi. Terlebih mereka tidak mempunyai nomor untuk bisa dihubungi. Kenangan akan pertemuan terakhir pun teringat kembali di benaknya. Masih teringat jelas raut wajah Rara yang sendu saat itu...
"Ra, kau tidak boleh membuka kotak ini sebelum aku menyeberangi jalan, ya?" pinta Taka kepada Rara.
__ADS_1
"Kenapa?" tanya Rara yang terheran.
"Aku ingin memberikan sebuah kejutan untukmu. Untuk seseorang yang sudah mengisi hari-hariku," tutur Taka kembali.
Rara pun terenyuh di hadapan Taka. Ia menggigit bibirnya dengan cemas.
"Terima kasih banyak, Ra. Beberapa bulan ini kau telah mewarnai hidupku. Jaga dirimu." Taka pelan-pelan mengucapkan selamat tinggal.
"Kau seperti akan pergi saja, Taka. Jangan membuatku sedih!"
"Taka!"
Namun, sebelum sempat pergi, Rara kembali memanggil Taka. Seolah tidak ingin tinggal diam begitu saja.
__ADS_1
"Kau percaya takdir, bukan?!" tanya Rara dengan sedikit berteriak kepada Taka.
Taka pun menghentikan langkah kakinya. Sejenak ia terdiam tanpa berbalik menghadap Rara. Membiarkan angin sore itu menyapu helaian rambutnya yang terjuntai ke depan.
"Aku merasakan hal itu, Taka. Apakah kau merasakannya juga?" tanya Rara yang membuat Taka menelan ludahnya berulang kali.
Suasana hening seketika. Hanya deru kendaraan yang terdengar dan jeritan hati yang tak mampu terungkapkan. Kedua hati itu seolah saling berpelukan erat dan tidak mau dipisahkan. Mereka saling melindungi satu sama lain dari badai kehidupan yang terus-menerus menerjang.
Taka kemudian berbalik, menghadap Rara yang tampak memandanginya. Gadis itu pun tetap memegangi kotak pemberian dari Taka. Ia mendekapnya.
"Aku percaya takdir. Dan aku merasakan apa yang kau rasa. Terus berjuang, ya!"
Itulah kata-kata terakhir yang Taka ucapkan kepada Rara. Ia pun tidak sanggup lagi jika harus berlama-lama di sana. Dadanya terasa sesak, air matanya juga sudah mulai menggenang. Ia kemudian lekas pergi menyeberangi jalan raya itu. Ia pun segera melambaikan tangannya kepada Rara sebagai salam perpisahan. Yang mana Rara tersenyum membalasnya. Tanpa menyadari akan maksud dari lambaian tangan tersebut.
__ADS_1
.........