
"Terserah kau saja. Lagipula aku hanya diajak, jadi mengikut yang mengajak saja." Rara menjawabnya dengan setengah hati.
Taka tersenyum. Tak dapat ia pungkiri jika ia juga ingin lama-lama bersama Rara. Tapi semakin lama kebersamaan itu semakin membuatnya merasa berat untuk mengucapkan kata perpisahan. Pada akhirnya Taka pun mengajak Rara berjalan-jalan sebentar.
"Ra, di sana ada yang menjual topeng. Kau mau melihatnya?" Taka menunjuk ke arah kantin wisata yang tak jauh darinya.
Rara mengangguk. Hanya itu yang bisa ia lakukan. Taka pun mengajak Rara untuk melihat topeng yang dijual di sana. Ia kemudian tertarik untuk membelikan Rara topeng singa jantan.
"Pakailah, Ra." Taka menginginkan Rara untuk memakainya.
Rara pun mengangguk. Ia kemudian memakai topeng tersebut. Namun, saat itu juga Taka mencium topengnya. Seolah mencium kening Rara yang ada di hadapannya.
Aishiteru ....
Taka berbisik di dalam hatinya. Menyalurkan perasaan yang belum mampu untuk diungkapkan. Ia pun segera melepas ciumannya, lalu menatap Rara yang sedang memakai topeng dengan penuh kasih sayang.
"Taka, sudah belum? Aku tidak bisa melihat."
__ADS_1
Rara sendiri tidak bisa melihat dengan jelas apa yang Taka lakukan di depannya. Mata topeng itu begitu kecil sehingga menghalangi penglihatan Rara.
"Sudah-sudah. Lepas saja." Taka pun akhirnya mengizinkan Rara untuk membuka topeng itu setelah menciumnya.
Taka tidak berani mencium Rara secara langsung. Ia akhirnya meminta Rara untuk memakai topeng singa jantan itu lalu baru menciumnya. Taka menjaga Rara dengan amat baik. Ia bahkan tidak ingin menyentuh Rara sama sekali. Walau nyatanya Rara seperti memberikannya izin.
"Kau tampak senang, Ra." Taka memerhatikan Rara yang melepas topengnya.
"Hm, iya. Tapi mungkin lebih tepatnya merasa lelah," sahut Rara segera.
"Mengapa seperti itu?" tanya Taka ingin tahu.
"Hahaha, baiklah-baiklah. Mari kita pulang."
Taka mengajak Rara pulang. Keduanya kemudian menunggu mobil datang di depan pintu karcis. Tak lama sebuah mobil pun datang menjemput mereka. Tak lupa juga Taka mengambil titipannya pada penjaga pintu karcis. Yang mana sebelumnya Taka sudah meminta orang untuk mengantarkannya.
Ra, sepertinya ini adalah bagian yang paling berat untukku.
__ADS_1
Taka berkata di dalam hatinya seraya memandangi Rara yang duduk di sisinya. Hatinya dipenuhi gemuruh akan perasaan yang tertahan. Taka hanya bisa memandangi Rara di menit-menit terakhir kebersamaannya.
Pukul 15.15 WIB...
Puluhan menit berlalu mengantarkan keduanya sampai di trotoar jalan yang berada di depan gang rumah Rara. Taka pun segera memberikan kotak itu sebelum berpamitan.
"Apa lagi ini, Taka? Kau tidak henti-hentinya memberiku." Rara tampak tidak enak menerimanya.
Angin sore seolah menjadi saksi akan hati yang berkecamuk karena tidak bisa menerima perpisahan. Tapi apalah daya hal itu harus Taka lakukan. Sesuai dengan janjinya kepada sang ayah jika ini adalah pertemuan terakhirnya dengan Rara.
"Tak apa, Ra. Aku merasa senang jika dapat berbagi denganmu," tutur Taka seraya tersenyum.
"Tapi aku belum pernah memberikan apapun padamu. Aku merasa sangat tidak enak hati," ungkap Rara seraya tertunduk.
Taka mengangkat tangannya. Rasanya ia ingin sekali membelai rambut Rara yang tersapu angin sore. Namun, lagi-lagi ia tepiskan keinginan yang ada pada hatinya.
"Ra, teruslah menulis. Aku yakin kau pasti bisa menjadi penulis yang baik. Semoga ini adalah langkah awal untuk mengejar impianmu." Taka merasa berat mengatakannya.
__ADS_1
"Hu-um. Aku akan berusaha semampuku, Taka. Terima kasih sudah banyak membantuku." Rara pun tersenyum kepada Taka.
Taka menarik napas dalam-dalam. Tak habis pikir jika saat ini harus mengucapkan selamat tinggal. Rasanya ia begitu berat untuk mengucapkannya. Karena bagaimanapun mengenal Rara bukan lagi hitungan hari. Melainkan sudah melewati beberapa purnama bersama.