SEPERCIK KEBAHAGIAAN

SEPERCIK KEBAHAGIAAN
Janji Temu


__ADS_3

...Taka...



.........


"Aku baik," jawab Rara acuh tak acuh.


Taka pun tersenyum, mencoba mengerti kekesalan Rara karena ia datang dan pergi begitu saja. "Bagaimana dengan novelmu?" Taka menanyakannya lagi, mencoba mengetahui sudah sampai sejauh mana Rara mewujudkan keinginannya.


"Baru seperempat perjalanan. Aku harus berusaha lebih keras lagi," tukas Rara kepada Taka.


Pria itu memang benar adalah Taka. Ia sengaja datang ke toko Rara malam ini untuk membuat janji temu berikutnya.


"Baguslah kalau begitu. Kau harus tetap semangat." Taka menyemangati. "Oh, ya. Kapan libur?" tanya Taka kemudian.


"Sabtu aku libur. Ada apa?" Rara tampak terheran.


"Em, bisa kita berlibur bersama? Kebetulan aku senggang," jawab Taka segera.


"Em ...."


Sejenak Rara mengingat-ingat apakah ada urusan yang harus ia selesaikan di hari Sabtu nanti atau tidak.

__ADS_1


"Bagaimana, Ra? Bisa, kan?" tanya Taka penuh harap.


"Em, baiklah." Rara akhirnya mengiyakan. "Jam berapa?" Rara pun balik bertanya kepada Taka.


"Jam sembilan pagi. Aku tunggu di Taman Santap. Oke?" Taka memutuskan.


"Eh?! Pagi sekali?!" Rara terkejut mendengarnya.


"Sekali-kali tak apa, bukan? Lagipula kau tidak pernah menikmati hari liburmu. Bukankah begitu?" sindir Taka kepada Rara.


Rara pun memasang wajah cemberutnya. "Huh! Kau ini. Sok tahu!" Rara pun menggerutu di hadapan Taka. Sontak Taka tertawa jadinya.


"Eh, tunggu sebentar."


"Ra, kau belum makan, kan?" tanya Taka yang membawa plastik merah besar.


Rara mengangguk.


"Ini kubawakan makanan untukmu. Terimalah." Taka menyerahkan plastik merah berukuran besar itu kepada Rara. Rara pun menerimanya.


"Eh? Nasi kotak? Banyak sekali?" Rara tidak menyangka.


"Tak apa. Kau bisa berbagi dengan temanmu. Jika masih tersisa, bisa untuk dibawa pulang," ungkapnya.

__ADS_1


Sejenak Rara termenung dengan perkataan Taka. Ia menyadari jika Taka begitu perhatian padanya. Ya, walaupun intensitas mereka bertemu amat jarang sekali.


"Terima kasih, Taka. Lagi-lagi aku merepotkanmu." Rara merasa tidak enak hati.


Taka tidak terima ucapan Rara. "Hei, ayolah. Aku hanya memberimu ini kau sudah terlihat sedih seperti itu. Nanti manisnya hilang, lho." Taka mencoba menghibur Rara. Walau nyatanya ia sedang menghibur dirinya sendiri.


Jujur saja Taka tidak sanggup melihat Rara bersedih. Entah mengapa ia merasa berbuat kesalahan besar jika Rara sampai bersedih apalagi menangis karenanya. Rasanya ia ingin memukul dirinya sendiri karena kebodohannya itu. Walaupun sebenarnya memang Rara lah yang terlalu terbawa perasaannya sendiri.


Rara yang sedih juga tentu saja berubah roman wajah karena perkataan Taka. Pria berkebangsaan Jepang itu menyebutnya dengan kata manis yang membuat hatinya melayang entah ke mana. Suatu pujian yang menggembirakan hatinya. Bak tanah gersang yang dihapus hujan sehari.


"Baiklah. Kalau begitu Sabtu pukul sembilan pagi di Taman Santapan. Jangan lupa," kata Taka lalu bergegas ke luar dari toko.


Rara pun mengiyakan. Ia mengantarkan Taka keluar dari toko. Terlihat Siti yang memerhatikan keduanya saat berjalan bersama.


"Hei, kau mau cokelat, Ra?" tanya Taka yang melihat cokelat di depan meja kasir.


"Em, tidak usah. Ini saja sudah banyak." Rara mengangkat nasi kotak pemberian dari Taka.


Taka tersenyum. Ia pun tetap membelikan dua batang cokelat untuk Rara. Taka kemudian menyerahkannya kepada Rara.


"Taka ...." Rara pun tak enak sendiri. Roman wajahnya terlihat tidak enak hati.


"Tak apa." Taka kemudian membayarkan dua batang cokelat tersebut ke kasiran. Ia membelikannya untuk Rara seorang.

__ADS_1


__ADS_2