SEPERCIK KEBAHAGIAAN

SEPERCIK KEBAHAGIAAN
Tidak Ketemu


__ADS_3

Lantas Taka berpikir cara apa yang harus ia lakukan untuk berkenalan dengan Rara. Sementara Rara sendiri sudah mulai menyeberangi jalan raya. Rara tidak mengindahkan mobil yang berada tak jauh darinya. Ia segera berlari begitu selesai menyeberangi jalan. Taka pun kehilangan jejaknya.


Astaga?!


Beberapa menit kemudian Taka memutuskan untuk keluar dari mobil. Namun, ia sudah tidak menemukan Rara di sana. Ia pun masuk kembali ke dalam mobil lalu memutar arah. Ia ingin mencari Rara. Tapi ternyata, Rara sudah masuk ke dalam gangnya. Memasuki sebuah gang besar di dekat jalan raya. Terlihat jelas Rara yang berlari untuk menuju ke rumahnya.


Dia lewat gang ini?


Taka pun harus merelakan kesempatannya hilang begitu saja. Ia tidak bisa menemui Rara sekarang. Padahal hampir saja bisa berbincang dengan seorang gadis yang hadir di dalam mimpinya. Ia adalah Rara Alya.


Malam harinya...


Taka tampak gundah. Selepas melewatkan kesempatan, ia jadi kepikiran dengan hal yang terjadi tadi siang. Di mana ia hampir bertemu dengan Rara, sosok gadis yang mirip sekali dengan gadis yang hadir di mimpinya. Ia pun memutuskan untuk pergi ke mini market terdekat. Dan ternyata, mini market itu adalah mini market tempat Rara bekerja. Ia pun bertemu dengan Salsa dan Ardan di sana.


"Kak, lihat! Ada orang Jepang!" Salsa memberi tahu Ardan yang sedang memajang barang-barang ke raknya.

__ADS_1


Ardan melihatnya. "Wah! Ganteng, ya? Tinggi lagi." Ardan mengagumi Taka.


Pria bersweter putih itu tampak memukau pandangan mata bak boyband K-Pop yang terkenal di mana-mana. Taka memang tampan dan juga bersahaja.


"Sayang Noah tidak sepertinya, ya." Salsa mulai membandingkan pacarnya dengan Taka.


"Saat ... orangnya mendekat." Ardan berbisik agar Salsa tidak lagi membicarakannya.


Taka mencari cemilan sebagai peneman malamnya di apartemen. Ia pun akhirnya memenuhi keranjang dengan banyak makanan ringan dan juga softdrink. Ia bergegas membayar ke kasiran.


"Kasir!" Sang kepala toko pun meminta Salsa untuk segera melayani transaksi pembelian.


Ardan menurut. Mereka kemudian melayani transaksi pembelian Taka. "Ada lagi, Mas?" tanya Ardan ke Taka.


"Cukup." Taka pun menjawab sekedarnya.

__ADS_1


"Total belanjaannya delapan puluh enam ribu rupiah. Pulsanya sekalian?" Ardan menawarkan.


"Tidak. Terima kasih." Taka pun mengeluarkan uang dari dalam dompetnya.


Salsa melirik isi dompet tersebut. Dan ternyata, banyak uang lembaran merahnya. Ia pun bergumam di dalam hati. Sudah tampan, banyak uang lagi. Salsa pun tersenyum-senyum sendiri melihatnya.


"Uangnya seratus ribu rupiah ya. Kembaliannya empat belas ribu." Ardan mengambil uang kembalian.


"Ambil saja." Taka pun bergegas meninggalkan area kasiran seraya membawa barang belanjaannya.


"Eh?" Salsa tampak terheran. Begitu juga dengan Ardan. "Kak, orang kaya." Salsa berbisik kepada Ardan.


Ardan mengangguk. Ia pun melihat Taka masuk ke dalam mobilnya. Ia mendapat rezeki malam ini dari uang kembalian yang tidak diambil Taka. Sementara Taka termenung di dalam mobilnya.


Aku tidak menemukannya di sini. Apakah dia sedang libur sekarang?

__ADS_1


Sejujurnya Taka ingin menemui Rara. Tapi sayang, Rara sedang tidak bekerja. Taka pun ingin menanyakannya kepada Ardan atau Salsa. Tapi ia khawatir akan menuai curiga. Taka tidak ingin orang lain curiga padanya. Apalagi ia bukan asli berkebangsaan Indonesia. Taka menjaga nama baik diri dan negaranya.


Lantas, Taka pun segera keluar dari area parkiran lalu kembali ke apartemennya. Ia ingin beristirahat sebelum esok hari bekerja. Ia lupakan sejenak tentang mimpinya. Dan juga tentang seorang gadis yang ada di sana.


__ADS_2