SEPERCIK KEBAHAGIAAN

SEPERCIK KEBAHAGIAAN
Datang


__ADS_3

Ada sebuah tragedi yang membuat Taka harus berpisah dari ibunya sejak ia masih kecil. Tragedi itulah yang mengharuskan ayahnya membesarkan Taka seorang diri. Yang mana membuat Taka tidak bisa berkutik dengan kehendak ayahnya.


“Arigatou, Tousan.”


Taka kemudian membungkukkan badannya di hadapan sang ayah yang sedang duduk di depan meja kerja. Sepercik kebahagiaan itu pun kini telah ia raih. Ia akhirnya mendapatkan izin untuk bertemu dengan Rara kembali.


Taka kemudian pergi dari ruang kerja ayahnya. Ia bergegas menuju ke suatu tempat yang telah terpikirkan semalam. Ia membuat suatu rencana untuk membahagiakan Rara di hari terakhirnya. Sebuah kebahagiaan yang juga ia inginkan. Namun sayang, terhalang oleh ego dan kebencian.


Beberapa hari kemudian…


Malam ini Rara masuk siang, ia memegang shift. Tampak dirinya yang sedang sibuk merapikan barang di lorong makanan. Kebetulan malam ini juga suasana toko masih tampak sepi, karena para penduduk banyak yang sedang menghadiri majelis.


Tiba-tiba datang sebuah mobil lalu parkir di depan toko Rara. Mobil itu berwarna merah terang lagi mengkilat, menyilaukan mata. Terlihat Siti juga yang baru saja selesai beristirahat. Ia kemudian menyuruh teman pramuniaganya untuk segera bergantian bersantap.

__ADS_1


"Selamat datang," sapa Siti yang berada di area kasir. Ia menyambut pria yang masuk ke dalam tokonya.


Pria itu terlihat mengenakan topi putih, sweter putih dan celana panjang putih. Semuanya serba putih dengan corak garis yang tidak banyak. Pria itu pun segera berkeliling ke area penjualan toko. Bukan tanpa alasan, melainkan ingin mencari keberadaan seseorang yang ingin ditemuinya.


Di mana dia?


Setibanya di lorong ke dua, ia langsung mendapati Rara yang baru saja menyelesaikan pekerjaannya. Rara pun bangkit, berniat untuk ke area kasir. Namun, pria itu malah menghalangi jalannya.


Eh? Aku ke kiri, dia ke kiri. Aku ke kanan, dia ke kanan?


Rara mendongakkan kepala, melihat siapa gerangan yang menghalangi jalannya. Tentu saja karena tubuhnya pendek, tidak dapat melihat dengan jelas wajah pria tinggi yang menghalangi jalannya. Namun, ia menyadari sesuatu saat mencium aroma parfum pria tersebut. Rara pun melihat siapa gerangan pria bertopi putih itu.


Pria itu tersenyum lalu melepas topinya. "Taka?!" Rara tak percaya jika Taka datang ke tokonya.

__ADS_1


Taka tersenyum penuh kerinduan kepada Rara. "Kau sudah lupa denganku, ya?" tanyanya kepada gadis itu.


Sontak saja Rara ingin sekali menghambur ke pelukan Taka. Ia juga merindukan sosok pria yang ada di hadapannya. Namun, Rara sedang bekerja. Ia tidak bisa sembarangan bersikap.


"Taka, kau selalu saja begini." Rara tampak kesal kepada Taka.


Taka menyadari apa yang Rara maksudkan. Ia kemudian melihat keadaan sekelilingnya. "Belum ramai, bukan? Bisa kita bicara sebentar?" tanya Taka yang takut mengganggu Rara bekerja.


Rara mengangguk. "Kita bicara di belakang saja." Rara pun mengarahkan Taka agar pindah ke lorong paling belakang. Mereka kemudian berdiri sambil menghadap ke pintu masuk.


"Kau sudah makan?" tanya Taka kepada Rara.


"Belum, nunggu giliran. Tumben datang ke tokoku. Apakah ada keperluan?" tanya Rara segera. Ia masih tak percaya Taka datang ke tokonya.

__ADS_1


Taka tak enak hati sendiri. "Maaf, Ra. Aku sibuk akhir-akhir ini. Bagaimana kabarmu?" tanya Taka kepada Rara.


__ADS_2