
Sesampainya di rumah...
Kedatangan Rara tentu saja disambut gembira oleh keluarganya. Barang belanjaan yang tadi ia beli pun sudah tiba lebih dulu di rumahnya. Ibunya lantas menanyakan barang tersebut kepada Rara.
“Ra, tadi tukang ojek datang dan membawakan semua barang ini." Ibunya menceritakan.
"Iya, Bu. Puji syukur Rara mendapat rezeki." Rara pun tersenyum.
"Ya, sudah. Kalau begitu istirahat dulu. Pasti kau lelah," kata ibunya lagi.
“Iya, Bu. Tapi di mana adik?" Rara menanyakan adik perempuannya.
"Dia lagi ke tempat pak Tanu bersama kakakmu. Rencananya malam ini akan mendatangi lelaki itu." Ibunya terlihat bersedih menceritakan.
__ADS_1
Rara memeluk ibunya. "Sabar ya, Bu. Semoga ada hikmah dibalik musibah ini." Rara menenangkan ibunya.
Ibunya pun mengangguk. Rara kemudian melepaskan pelukan. Ia tahu benar bagaimana terlukanya hati seorang ibu saat mendapati kabar tidak mengenakan dari anak perempuannya. Tapi nasi itu telah menjadi bubur. Menyesali pun tidak ada gunanya. Saat ini hanya bisa menjadikan pembelajaran agar tidak terulang lagi kedepannya.
"Baiklah. Rara ke belakang dulu ya, Bu." Rara segera berpamitan kepada ibunya.
Ibunya mengangguk, membiarkan Rara pergi. Rara pun segera mencuci pakaiannya yang kotor. Ia kebetulan mendapat jatah libur hari ini. Ia mempergunakan hari liburnya untuk beristirahat dan juga bersih-bersih. Rara harus tetap semangat menjalani hari, apapun yang terjadi.
Taka, terima kasih.
Dua minggu kemudian...
Hari-hari terus Rara lalui dengan penuh semangat dalam menjalani kehidupan yang fana ini. Kehidupan akan terus berjalan tiada henti Hingga akhir masa itu tiba untuk menutup semuanya.
__ADS_1
Hari ini tepat dirinya menerima gaji, bersamaan dengan sebuah kabar jika ia dipindahkan ke toko lain. Toko ke dua baginya selama bekerja di mini market.
Setelah selesai serah-terima barang kasir, Rara pun berpamitan kepada semua karyawan sekaligus meminta maaf jika selama bekerja ia pernah membuat kesalahan. Tak ada gading yang tak retak, begitu juga dengan dirinya yang banyak kekurangan. Perpisahan itu pun membuat sedih teman-temannya. Terutama Salsabila, teman dekat Rara selama ini.
"Ra, aku pasti merindukanmu." Salsa tampak menahan tangisnya.
"Aku juga. Nanti kita bisa berpergian bersama jika beda toko." Rara berharap perpisahan ini tidak memutuskan pertemanan mereka.
"Ya, nanti aku akan meminta jadwal libur yang sama denganmu." Salsa pun mengungkapkan keinginannya.
Rara mengangguk. Ia melepaskan pelukan. Sebagai seorang kasir di salah satu perusahaan ritel tentunya harus siap ditempatkan di mana saja. Begitu juga dengan Rara yang harus pindah setelah satu tahun menetap di toko lamanya. Namun, kenangan kebersamaan itu akan tetap tersimpan kekal di lubuk hatinya. Tentang waktu yang mengakrabkan mereka.
Lantas Rara pun segera pergi dari toko lamanya. Ia mencari angkot untuk pulang ke rumahnya. Sebelum esok kembali bekerja di toko barunya. Rara pun dengan semangat menjalaninya.
__ADS_1
Sesampainya...
Cuaca tampak cerah setibanya Rara di tempat tujuan. Rara pun bergegas turun dari angkot lalu membayar ongkos kepada pak supirnya. Ia turun persis di tempat yang sama, di mana ia bertemu dengan Taka.