
Rara diam. Ia menahan kesal. "Bu, bisa tolong tutup pintu? Rara mau tidur dulu," pinta Rara kepada ibunya.
Raut wajah Rara sungguh tidak enak dilihat. Sang ibu pun bisa merasakannya. Ia akhirnya membiarkan sang putri, pejuang kehidupan keluarga itu beristirahat. Ibu Rara memberikan waktu untuk anaknya beristirahat.
Ra, maafkan ibu. Hanya kamu satu-satunya harapan kami untuk menyambung hidup.
Ibu Rara pun keluar dari kamar lalu menutup pintunya. Sedang Rara kembali merelaksasikan badan dan pikiran yang lelah sebelum kembali bekerja. Rara pun mulai memejamkan matanya.
Dua hari kemudian...
Hari ini adalah hari libur bagi Rara. Setelah melalui hari-hari yang sulit, ia akhirnya bisa mengistirahatkan diri selama satu harian penuh. Namun, hari libur itu ternyata tidak ia pergunakan untuk beristirahat, melainkan membantu ibunya membersihkan rumah. Dari menyapu, mengepel, mengelap kaca, hingga memasak, semuanya ia lakukan seorang diri.
__ADS_1
Pagi ini, adik laki-lakinya membawa kabar tidak mengenakan. Membujuk dirinya agar kembali memberikan uang untuk membayar iuran sekolah. Karena ternyata, uang yang dulu Rara berikan digunakan untuk membeli minuman beralkohol. Alhasil Rara pun kecewa.
"Ya Tuhan, Danu. Jadi kamu pakai uang itu untuk beli minum-minuman?! Kakak susah payah mendapatkan uangnya, kamu malah pakai untuk mabuk-mabukkan. Di mana pikiranmu?!" Rara marah kepada adiknya.
"Jangan dimarahin, Ra. Yang udah ya udah." Ibu Rara datang membela.
Bukannya ikut membantu memarahi Danu, ibunya malah meminta Rara untuk tidak memarahi adiknya. Seketika itu juga Rara merasa seperti sendirian di rumah. Ia bak tidak mempunyai teman untuk diajak bekerja sama dalam mendidik adik laki-lakinya.
"Bu, kalau salah ya salah!" sergah Rara yang menahan kesal karena ibunya membela Danu.
Dan karena merasa dibela oleh ibunya, adiknya malah menyuruh Rara untuk mencari uang lagi. Tanpa memikirkan bagaimana susahnya mendapatkan uang tersebut.
__ADS_1
“Kakak nggak punya uang lagi, hanya ada untuk memberi nenek di seberang." Rara masih berusaha menahan kesabarannya.
“Ngasih orang? Ngapain sih ngasih-ngasih orang? Kaya enggak, Lo! Kita aja masih kekurangan!” cetus adiknya.
Adik laki-lakinya kini telah berubah. Tidak mempunyai sopan-santun lagi. Ia menggunakan bahasa pergaulan yang tidak pantas untuk diucapkan kepada Rara, kakaknya. Rara pun hanya bisa berdesir lirih di dalam hati. Menahan sakit karena ucapan adik laki-lakinya.
"Kakak memberi bukan karena merasa berkecukupan. Tapi karena kakak tahu bagaimana rasanya kekurangan," tutur Rara.
Adiknya mendecih. "Terserah lo! Pokoknya, kalau nggak dapet duit buat bayar sekolah, gue mau berhenti aja. Malu gue sama temen-temen. Punya kakak kerja tapi nggak punya uang buat bayar iurannya. Najis!"
Adiknya itupun berlalu pergi dari hadapan Rara. Ia segera masuk ke kamar lalu menyetel musik kuat-kuat. Seolah tidak peduli kepada Rara yang telah berjuang untuk membayar iuran sekolahnya. Sedang ibunya hanya bisa diam lalu ikut pergi meninggalkan. Seakan menganggap semuanya tidak pernah terjadi.
__ADS_1
Ya Tuhan ....
Hanya nama Tuhan lah yang mampu Rara sebut saat ini. Tak ada nama lain yang bisa ia ucapkan kala hatinya merasa lemah tak berdaya. Begitu memilukan nasibnya, seakan tidak ada satu orang pun yang peduli dengan perasaannya. Ia hanya diharuskan bekerja dan bekerja. Mencari uang sebanyak-banyaknya.