
"Duh, laper banget gue! Gak ada nasi buat dimakan! Kalau kayak gini bisa mati gue!"
Adik laki-lakinya keluar dari kamar lalu membanting tutup saji yang ada di atas meja makan. Ia merasa kesal karena tidak ada makanan malam ini.
Saat itu juga rasa sesak melanda dada Rara. Melihat kejadian itu udara seolah enggan memberikan kesempatan untuknya bernapas. Beban itu tidak kunjung berkurang kala tekanan terus datang. Menimbulkan niatan nekat di hatinya.
"Gue juga belum makan, nih! Duit lo dipake dulu buat beli beras. Nggak kasihan apa lo sama kita orang di rumah, kelaperan kayak gini?!" Kakak laki-lakinya ikut bersuara.
"Rara juga belum makan, Kak."
Rara mencoba menjelaskan keadaannya. Petang ini ia juga belum makan. Tapi tidak ada yang bertanya apakah ia sudah makan apa belum. Malahan ia melihat adiknya memukul meja lalu pergi membanting pintu. Tidak memikirkan bagaimana perasaannya yang baru saja pulang bekerja.
"Lo kerja tapi ngeluarin duit, coba cari kerja yang berpenghasilan tinggi," gerutu sang kakak.
__ADS_1
"Cari kerja susah, Kak. Ini saja sudah bersyukur karena bisa diterima, padahal saingannya banyak," sahut Rara kepada kakaknya.
"Ya lo jualan apa kek, jual diri kek. Biar kita bisa makan! Mikir, dong!” ucap kakak laki-lakinya lagi.
Astaga!
Saat itu juga bagai petir menyambar tanpa hujan tanpa angin. Dalam sekejap Rara terdiam dan membisu kala mendengar kata-kata kakaknya yang menyuruhnya untuk menjual diri.
"Jual diri buat ngasih makan keluarga, halal kok. Daripada lo ngarepin gaji sebulan sekali yang gak cukup," kata kakaknya lagi.
Rara terdiam. Suasana di rumah tampak hening dalam sekejap. Bulir-bulir air mata pun seakan ingin keluar dari persembunyiannya. Rara terluka. Lagi-lagi terluka karena ucapan kakaknya.
Rara kemudian berlalu pergi. Ia tinggalkan ibu dan kakaknya yang berada di ruang makan. Ia masuk ke dalam kamar lalu termenung di atas kasurnya, memikirkan bagaimana cara agar dapat memenuhi kebutuhan keluarganya sendirian. Rara terdiam. Hatinya terasa tidak sanggup lagi menanggung beban hidup ini.
__ADS_1
Ya Tuhan, apakah aku harus melakukan itu untuk memenuhi kebutuhan keluargaku?
Air mata seolah tidak mampu lagi bertahan di persembunyiannya. Rara menangis. Tangisan yang mengiringi kesedihannya. Ia menangis karena sang kakak menyuruhnya menjual diri demi memenuhi kebutuhan keluarga. Rara sakit hati.
Esok sorenya...
Hujan rintik-rintik mulai jatuh membasahi bumi. Mengiringi kepulangan Rara setelah bekerja. Ia pun meneruskan langkah kaki untuk sampai ke rumahnya. Berjalan di trotoar jalan seraya tertunduk lesu. Ia membiarkan rintik hujan jatuh membasahi tubuhnya.
Rara terus berjalan, tanpa malu dilihat orang. Ia tetap menyapa orang yang dikenalnya. Melintasi hiruk-pikuk kota yang sudah berada di jam pulang kerja.
Rintik hujan itu pun seakan tidak mau berkompromi. Semakin lama hujan turun semakin deras. Rara pun berteduh di depan sebuah warung kecil, menatap langit yang sedang mencurahkan hujannya. Namun, saat itu juga hatinya kembali bersedih. Kata-kata itu kembali terlintas di benaknya.
"Ya lo jualan apa kek, jual diri kek. Biar kita bisa makan! Mikir, dong!”
__ADS_1
"Jual diri buat ngasih makan keluarga, halal kok. Daripada lo ngarepin gaji sebulan sekali yang gak cukup!"