
Sesampainya di rumah...
Petang menyambut kedatangan Rara di rumahnya. Semburat merah berganti gelap pertanda hari akan malam. Rara pun mengetuk pintu lalu mengucapkan salam. Ia masuk ke dalam rumah sambil melepas sepatunya.
"Kok pulang malam, Ra? Lembur, ya?"
Tiba-tiba saja sang ibu datang dan menegurnya. Rara pun melihat jam di dinding ruangan yang baru menunjukkan pukul enam petang. Tapi entah mengapa sudah terasa malam bagi anak perawan sepertinya.
"Tidak, Bu. Jalanan kebetulan macet," sahut Rara yang tidak ingin membuat ibunya khawatir.
"Wih! Bawa apaan lo? Coba gue lihat!"
Kakak laki-lakinya ikut datang lalu segera merebut plastik yang Rara bawa. "Banyak banget makanannya! Dapet dari mana lo? Danu! Nih, makanan banyak!" teriak kakak laki-lakinya memanggil Danu yang sedang bermain game di kamar.
"Ja-jangan." Rara tidak memperkenankan kakaknya mengambil makanan yang ia punya.
__ADS_1
"Ah, pelit banget, Lo. Lo tidur aja, kan capek habis kerja. Gue mau makan dulu."
Tanpa rasa malu, kakak laki-lakinya itu segera membawa plastik berisi makanan yang Rara bawa. Rara pun hanya bisa diam melihatnya. Ia tidak bisa mencegah makanan yang telah direbut kakaknya.
"Ra, tadi pak Reno kemari."
Ibunya segera mengalihkan perhatian Rara dengan mengajaknya berbincang. Keduanya pun duduk di kursi tamu petang ini.
"Ada apa, Bu? Apakah kita mempunyai utang dengannya?" tanya Rara segera.
"Menjodohkanku? Yang benar saja, Bu?!" Rara terkejut dengan kabar yang diberikan ibunya.
"Iya, Ra. Dia ingin menikahkan anaknya denganmu," tutur ibu Rara lagi.
"Tapi Bu, Rara belum siap untuk menikah. Lagipula siapa yang akan mencari nafkah jika Rara menikah?"
__ADS_1
Rara benar-benar tak percaya jika hal ini akan didengarnya. Ia menelan ludah sambil mengingat anak dari Pak Reno yang bernama Aji itu. Yang mana Rara tidak menyukainya.
"Ibu sudah bilang begitu. Tapi kata pak Reno, dia yang akan menggantikannya. Dan akan memberi jatah satu juta setiap bulannya kepada keluarga kita," ujar si ibu kepada Rara.
Begitu, ya? Jadi ibu ingin menukar kebahagiaanku dengan uang satu juta setiap bulannya?
Rara berbisik lirih, ia terdiam, mencoba menghirup udara yang seakan tersendat di tenggorokannya. Pilihan ini begitu memberatkan hatinya. Ia yakin jika masih ada jalan untuk lepas dari kesusahan ini. Tentu dengan tanpa menjual diri kepada orang lain.
"Gimana, Ra. Apa kamu setuju?" tanya ibunya seraya menatap wajah anaknya.
Rara tidak dapat membalas sepatah kata pun ucapan ibunya. Hatinya teriris manakala kenyataan itu memaksanya untuk menukarkan diri. Rasanya ia ingin berteriak saja dan melawan ibunya. Tapi hal itu tidak mungkin ia lakukan karena ia begitu menyayangi ibunya.
Ya Tuhan, sebegitu tangguhkah diriku hingga cobaan terus datang membelenggu?
Rara masih ingin mengejar cita-cita. Tapi kebutuhan sehari-hari tidak dapat menunggunya lebih lama. Perut akan kelaparan jika tidak ada makanan. Rumah juga akan gelap karena tidak bisa membayar listrik. Rara harus memikirkan masak-masak sebelum menolak permintaan itu. Namun, di hati kecilnya amat keberatan. Rara masih ingin bekerja dan membantu keluarganya.
__ADS_1