SEPERCIK KEBAHAGIAAN

SEPERCIK KEBAHAGIAAN
Percakapan


__ADS_3

"Em, tidak. Malu itu jika kita berbuat salah. Jika hanya makan, itu tidak salah," tutur Rara yang membuat si pria menelan ludah.


Gadis ini begitu lugu ....


Pria itupun merasa gadis yang duduk di hadapannya begitu lugu. "Jika kau mau, kau boleh memakan nasiku," ucapnya kepada Rara.


"Hah? Benarkah?" sahut Rara tak percaya. "Terima kasih banyak."


Tanpa malu, Rara pun segera mengambil piring berisi nasi milik pria tersebut lalu segera memakannya.


Benar-benar gadis ini.


Pria itu akhirnya hanya memakan sup dan teh hangatnya saja. Sedang sepuluh tusuk sate kambing, ia biarkan Rara yang menyantapnya. Mereka kemudian menyelesaikan makannya tanpa berbicara sepatah kata pun. Perbedaan mencolok juga terlihat pada bekas piring mereka. Piring bekas makan Rara terlihat bersih, tak bersisa sama sekali. Sedang piring pria tersebut masih menyisakan kuah sop kambing yang tidak habis dimakan olehnya.


"Em, maaf."


Merasa tidak enak dengan pemandangan itu, Rara segera meminta maaf. Namun, ia malah mengeluarkan sendawanya. Membuat si pria mengernyitkan dahi dan memasang wajah jijiknya.


"Kau ini, tidak sopan!" gerutu si pria yang rasanya ingin cepat kabur dari hadapan Rara.

__ADS_1


"Ma-maaf, maafkan aku. Aku bingung bagaimana memulai pembicaraan ini. Niatku untuk meminta maaf, tapi malah sendawa yang keluar. Sekali lagi maafkan aku," ungkap Rara yang merasa bersalah.


Pria itu menelan ludahnya. Astaga, gadis ini. Ia tidak menyangka jika Rara akan demikian. "Hah, rasanya aku jadi menyesal." Pria itu menepuk jidatnya.


"Menyesal karena sudah menraktirku makan?" tanya Rara segera.


"Bukan. Bukan itu. Aku menyesal karena sudah menampakkan wujud di depanmu," sahutnya seraya menyandarkan tubuh pada dinding pondok santapan.


"Ja-jadi k-kau ini benar hantu?" tanya Rara yang memasang wajah bak tersambar petir.


Pria itu menggelengkan kepalanya. "Bukan, aku manusia. Mana mungkin hantu menapakkan kakinya ke bumi. Ada-ada saja," ucapnya lalu membuang pandangan dari Rara.


"Eh, begitu ya?" Rara malah bertanya yang membuat hati si pria kesal. "Sepertinya kita belum berkenalan. Namaku Rara, aku tinggal di dekat sini."


"Namaku Taka, sementara tinggal di dekat sini," ucapnya santai.


"Jadi kita bertetangga?" tanya Rara lagi.


"Tidak, maksudku tinggal di sekitaran sini. Tepatnya hanya beberapa kilometer saja dari Taman Santapan ini," jelasnya.

__ADS_1


"Ooooooh, begitu ...."


Rasa tak percaya pun mulai menelusuk di pikiran Rara. Banyak sekali pertanyaan yang ingin ia tanyakan kepada pria tersebut.


"Kau tidak berniat menculikku, kan?" selidik Rara yang merasa curiga.


Pria itu kemudian memasang wajah lelahnya. Ia tampak malas mendengar pertanyaan ini. "Menculikmu? Hah! Mana ada yang ingin menculik gadis doyan makan sepertimu! Menghabiskan beras di rumah saja," gerutunya setengah kesal.


Akhirnya pria yang mengaku bernama Taka itu mengeluarkan sisi lain dari dirinya tanpa merasa khawatir. Rara begitu blak-blakan terhadapnya seperti kepada orang yang sudah lama kenal. Taka pun terpancing bersikap sama seperti Rara.


"Heh? Apakah aku seburuk itu?" Rara balik bertanya dengan memasang wajah penuh tanda tanya.


"Tidak buruk, hanya saja kau polos sekali. Membuatku—"


"Membuat apa?" Rara menunggu jawaban selanjutnya.


"Ah, sudahlah. Lebih baik kau pulang sekarang. Orang tuamu pasti mencari. Aku akan mengantarkan,” terang Taka kepada Rara.


.........

__ADS_1


...Taka...



__ADS_2