SEPERCIK KEBAHAGIAAN

SEPERCIK KEBAHAGIAAN
Sudut Pandang


__ADS_3

Sambil mendorong keranjang belanja, Taka membatin dalam hatinya. Ia menyebut sang ibu di dalam sana. Ia menceritakan kepada sang ibu jika telah menemukan seorang gadis yang sepertinya. Keibuan dan juga memikirkan keluarga. Taka pun terlihat semringah menemani Rara berbelanja.


Tak dapat Taka pungkiri, jika rasa itu semakin merekah indah di dalam hatinya. Bibit cinta tertanam begitu sempurna hingga menumbuhkan kasih sayang di antara keduanya. Siapa yang tahu jika musim semi telah datang? Siapa juga yang mampu melawan takdir dan kuasa Tuhan? Manusia tidak ada apa-apanya.


Dia datang begitu saja. Dia mengalir bagai air. Dia memberi kehidupan bagi setiap makhluk yang bernyawa. Namun dia tidak tampak, hanya bisa terasa. Siapakah dia? Dia adalah CINTA.


Satu jam kemudian...


Rara izin ke toilet sebentar. Taka pun menunggunya di Solaria yang berada di lantai satu supermarket. Ia duduk sendiri di sana sambil membaca menu makanan. Tanpa menyadari jika ada orang dari luar yang melihatnya.


Dia kencan?!


Ia adalah Hiroshi yang tanpa sengaja melihat Taka menjemput Rara lalu mengikutinya hingga ke supermarket. Hiroshi pun memfoto Taka sejak menjemput sampai di supermarket. Ia tampak penasaran mengapa Taka tidak ingin mengambil cuti ke Jepang. Dan akhirnya malam ini ia temukan jawaban. Taka ternyata memang mempunyai seseorang yang membuatnya betah tinggal di sini.


Sementara itu, tak lama Rara pun kembali dari toilet. Ia datang menghampiri Taka dengan wajah yang lebih segar. Pemandangan itu tentu saja terlihat jelas oleh Hiroshi. Ia pun kembali memotret keduanya. Ia ingin menjadikan bukti pertemuan Rara dan Taka.


"Maaf lama," kata Rara lalu duduk di depan Taka.

__ADS_1


"Em, iya. Kau sudah selesai?" tanya Taka kepada Rara.


"Iya. Kau sudah memesan makanan atau mau kupesankan?" Rara bergantian bertanya.


Taka masih melihat-lihat menu makanan di Solaria ini. "Sepertinya aku ingin menyantap ayam rica-rica. Kau juga mau?" tanya Taka sambil menunjuk menu yang ingin ia pesan.


"Boleh. Kalau begitu tunggu sebentar." Rara beranjak berdiri.


"Tidak usah, Ra. Biar aku saja," tahan Taka.


“Tidak apa, Taka. Biar aku yang bergantian menraktirmu makan," ucap Rara.


Taka pun bergegas menuju kasiran untuk memesan menu makan malam mereka. Tak lupa ia juga memesan beberapa paket untuk dibawa Rara pulang.


Bisa-bisanya dia ingin menraktirku.


Setelah selesai memesan, Taka pun kembali duduk di depan Rara. Ia mulai membuka pembicaraan malam ini. Terlihat waktu sudah menunjukkan pukul setengah tujuh malam. Taka pun tampak memerhatikan keadaan di sekitarnya. Ia seperti berjaga-jaga.

__ADS_1


"Ra."


"Ya?"


"Bolehkah aku bertanya padamu?" tanya Taka.


"Tanya apa?" jawab Rara segera.


"Em ... jika kau menyukai seseorang tapi orang tuamu tidak setuju, kira-kira apa yang kau lakukan?" tanya Taka tiba-tiba.


"Eh?!"


"Aku ingin tahu sudut pandangmu," kata Taka lagi.


Rara terdiam sejenak. Ia tampak berpikir. "Jika pria itu benar-benar mencintaiku, aku akan memperjuangkannya." Rara akhirnya menjawab.


"Bagaimana kau tahu jika pria itu mencintaimu?" tanya Taka lagi.

__ADS_1


"Em ...," Rara berpikir kembali. "Dia juga memperjuangkanku, menghargaiku dan setia kepadaku. Dia merindukanku dan hanya memikirkan aku. Tidak ada wanita lain di hati dan pikirannya selain aku." Rara menjelaskannya.


Taka pun tampak tersenyum mendengar jawaban dari Rara. "Kau masih terlalu kecil untuk mengerti apa itu cinta, Ra." Taka geli sendiri.


__ADS_2