
"Mengerti, Tuan," jawab mereka serempak.
"Bagus." Pria itu pun meminta para pekerjanya melanjutkan pekerjaan.
Ia adalah Taka Nomura yang tampak sibuk mengatur lalu lintas bongkar muat di pelabuhan. Ia pun segera pergi dari lapangan begitu selesai memberi peringatan. Taka dipercaya oleh pihak kota untuk mengatur jalur distribusi pelabuhan. Tugas dan tanggung jawabnya begitu besar.
Ia adalah seorang CEO perusahaan distribusi di Jepang. Bekerja sama dengan divisi perhubungan dalam mengatur lalu lintas barang datang. Tak ayal kinerja Taka membuat pihak Indonesia menyukainya. Mereka pun meminta Taka untuk bergabung selama lima tahun ke depan. Hal itu tentu saja membuat Taka semakin diperhitungkan. Karena ia mampu menjalin hubungan bilateral tanpa kepalsuan. Tentunya semua itu juga tidak terlepas dari dukungan ayahnya.
__ADS_1
Siang ini Taka kembali ke meja kerjanya. Ia pun bertemu dengan seseorang di sana. Taka menyambut gembira kedatangan seseorang itu. Ia kemudian mengajaknya bicara. Tamu itu adalah tamu spesial dari kota. Taka pun dengan ramah menyambutnya.
Dini harinya...
Suasana terasa hening, entah berada di mana. Seperti suatu tempat yang tidak pernah diketahui sebelumnya. Layaknya hutan, namun bukan hutan. Seperti di sungai namun bukan juga sungai. Menuruni anak tangga, namun juga bukan tangga.
Pencahayaan yang dilihatnya tidak begitu terang karena masih banyak pepohonan tinggi. Namun, ia mampu melihat dengan jelas tempat yang ada di hadapannya. Hingga tiba giliran untuknya menyeberangi jembatan bersama seorang teman lelaki yang tak dikenalnya. Ia pun terkejut saat akan melangkahkan kaki melewati jembatan itu. Tiba-tiba alas jembatan berubah menjadi butiran jagung yang sangat banyak. Seperti berjalan di atas jembatan yang ditaburi biji jagung segar.
__ADS_1
Ini???
Merasa heran, namun Rara tidak dapat menolaknya sedikit pun. Ia terus berjalan hingga tiba di bawah kaki bukit. Di kaki bukit ia melihat pohon salak yang sangat banyak. Berjajar rapi di sepanjang mata memandangnya. Ia pun ingin mengambil buah salak itu. Namun, karena teringat pesan ibu jika pohon salak adalah sarang ular, ia akhirnya menepiskan keinginannya untuk mengambil salak itu. Sehingga ia hanya melihat salak-salak yang siap panen tanpa mencicipinya sedikit pun. Sedang temannya mengajaknya berjalan lebih ke atas lagi.
Tahapan ke dua dari perkebunan yang ia lewati, Rara melihat banyak sekali pohon cabai yang sudah masak. Ada yang berwarna merah dan ada yang masih berwarna hijau. Ingin rasanya ia memetik, tapi nyatanya hanya dapat memegang cabai-cabai itu. Pikiran akan keuntungan menjual cabai pun pasti dapat menolong perekonomian keluarganya. Namun, hal yang terbesit itu segera ia elakkan. Ia pun terus berjalan ke perkebunan ke tiga.
Ini seperti nyata.
__ADS_1
Di kebun ke tiga ini sangat terang, tidak gelap seperti di kebun salak atau cabai. Di tahap ini ia melihat kebun mangga apel yang sudah siap dipetik. Hasrat ingin mencicipinya pun muncul. Dengan segera ia pun berusaha mengambil satu buah mangga apel untuk dimakannya. Namun, tiba-tiba saja seseorang melarangnya.