SEPERCIK KEBAHAGIAAN

SEPERCIK KEBAHAGIAAN
Tak Peduli


__ADS_3

Taka?!


Rara membaca sepenggal surat yang ada di dalam kotak itu. Sebuah surat yang Taka tulis sendiri untuknya, yang membuat hati Rara remuk redam tak menentu. Rara pun segera membalikkan badannya untuk melihat ke arah Taka lagi.


"Taka!"


Rara memanggil Taka. Namun karena jalanan sudah mulai ramai, Taka tidak dapat mendengarnya. Terlebih ada sebuah mobil yang berhenti di depannya, menghalangi Taka untuk melihat Rara.


Menyadari sesuatu tengah terjadi, Rara pun lekas melangkahkan kakinya untuk mengejar Taka. Ia menyeberangi jalan sambil membawa kotak yang Taka berikan padanya.


"Taka! Tunggu!"


Namun, Taka terburu masuk ke dalam mobil tersebut.


"Taka!!!"


Rara pun berusaha menyeberangi jalan raya agar dapat menahan kepergian Taka. Suara klakson mobil menjadi saksi dirinya yang ingin menghentikan kepergian itu. Rara pun terus menyeberangi jalan dua arah tersebut. Terlihat satu tangannya memberikan kode agar mobil yang melaju bisa berhenti segera.

__ADS_1


"Taka! Tunggu aku, Taka!"


Rara pun berlari setelah semua mobil berhenti. Ia berusaha mengejar mobil yang membawa Taka itu sekuat tenaganya.


“Taka, tunggu!!!"


Namun, mobil yang membawa Taka terus saja berlalu. Meninggalkan Rara yang baru sampai di seberang jalan.


"Taka!!!"


Rara pun terus mengejarnya. Ia tidak menyerah untuk mengejar Taka. Ia terus berlari tanpa peduli lagi dengan orang-orang yang melihat di sekitarnya. Rara masih mengejar mobil yang membawa Taka. Walaupun ia sendiri tahu jika tidak dapat mengejar laju mobil itu. Namun, kenangan saat bersama Taka seolah memberinya kekuatan untuk terus berlari.


Pada akhirnya Rara berlari sekuat tenaga. Kenangan akan kebersamaannya bersama Taka pun teringat kembali di benaknya.


"Kau percaya takdir?"


Ia teringat dengan semua kenangan indah bersama Taka. Awal pertemuannya saat hujan turun, jajan di pedagang kaki lima, tertawa bersama, saling membalas kata, dan saat Taka berpeluh keringat menemaninya berbelanja di pasar. Semuanya itu teringat kembali di benaknya.

__ADS_1


Taka, aku ....


Sampai akhirnya ia tidak menyadari jika ada jalan yang lebih rendah di hadapannya. Rara pun menginjak jalan itu tanpa mempunyai persiapan untuk menolakan kakinya. Hingga akhirnya...


"Takaaaa!!!"


Kakinya terselandung, tubuhnya terhuyung ke depan. Ia kehilangan keseimbangan akan tubuhnya sendiri. Perlahan Rara pun jatuh bersama dengan kotak pemberian dari Taka. Rara jatuh tersungkur saat berusaha mengejar mobil yang membawa Taka. Isi dari dalam kotak tersebut pun berhamburan keluar dari tempatnya.


Taka ....


Saat itu juga terlihatlah sebuah yukata berwarna peach yang keluar dari sana. Bersama dengan selembar surat yang Taka tuliskan untuknya. Dan beberapa lembar kata-kata yang belum sempat Rara baca. Rara pun menyadari jika ia tidak akan mampu lagi untuk mengejar mobil yang terus melaju itu. Hingga akhirnya sesuatu ia rasakan. Rasa sakit yang sampai mengeluarkan darah.


Taka, aku ....


Kening Rara berdarah terkena benturan tanah. Pergelangan tangannya juga ikut lecet menahan beban tubuhnya. Namun, sebisa mungkin Rara bangkit kembali. Bergerak pelan sambil menahan rasa sakit di tubuhnya.


"Kau pergi, Taka."

__ADS_1


Rara jatuh telungkup di atas tanah kasar itu. Ia pun merangkak untuk mengambil sesuatu pemberian dari Taka yang berhamburan itu. Sebisa mungkin ia memasukkan kembali ke dalam kotaknya. Rara tidak ingin ada sesuatu yang hilang. Seperti Taka yang kini tidak dapat lagi dijumpainya. Rara merana.


Taka, aku mencintaimu, Taka ....


__ADS_2