SEPERCIK KEBAHAGIAAN

SEPERCIK KEBAHAGIAAN
Kesal Yang Tertahan


__ADS_3

Taka ... sedang apa kau di sana?


Kenangan akan kebersamaan itu terulang kembali. Di mana Rara duduk di atas rerumputan karena Taka membuatnya menahan rindu. Taka pun ikut berjongkok di depan Rara untuk menenangkan hatinya. Bak hujan menyapu tanah gersang sehari, Rara begitu bahagia bertemu Taka kembali. Tidak mudah baginya untuk melupakan apa yang telah terjadi...


"Ra."


"Hm?"


"Kau percaya takdir?" Taka bertanya di tengah obrolan sore bersama Rara waktu itu.


"Kau menanyakan hal yang berat sore ini." Rara merasa keberatan menjawabnya.


Taka mengembuskan napasnya. "Terkadang kita tidak bisa memprediksi masa depan. Terkadang juga kita terjebak dalam masa yang sekarang." Taka menuturkan pemikirannya.


Rara mengangguk. Entah mengapa obrolan ini jadi lebih dalam di pikirannya. "Aku ingin masa depan yang bahagia, entah bagaimana jalannya." Rara menjawab sambil menatap langit sore di samping Taka.

__ADS_1


Masih teringat jelas pertanyaan itu. Masih teringat jelas bagaimana Rara mengungkapkan keinginannya. Dan masih teringat jelas bagaimana kebaikan Taka terhadapnya. Tanpa terasa bulir-bulir air mata itu mulai berjatuhan membasahi pipinya. Rara merindukan Taka.


Duhai langit yang mencurahkan hujan. Tolong sampaikan salam rinduku padanya. Pada seseorang yang mengisi hari-hariku kemarin. Dia begitu baik kepadaku. Dia juga amat menjagaku. Bisakah engkau mempertemukanku kembali dengannya? Bisakah kami bersama seperti dulu? Sungguh harapan itu seakan menggebu di hati ini. Aku ingin dia kembali mewarnai hari yang sunyi.


Hari ini adalah ulang tahun Rara yang ke sembilan belas tahun. Hari ini juga Rara menyadari apa arti dari kata cinta yang sesungguhnya. Rindu menggebu, namun tertahan di relung hati yang terdalam, hanya bisa mendoakan dalam diam. Itulah arti cinta yang Rara ketahui saat ini. Walau nyatanya keinginan bertemu itu sangat besar sekali. Tapi Rara juga menyadari jika tidak akan mampu memaksakan kehendaknya kepada alam.


Kini ia hanya bisa menunggu Tuhan kembali mempertemukannya dengan Taka. Bertemu di saat yang tepat untuk melanjutkan hari bersama. Dalam suka cita dan cinta. Dan Rara berharap hari itu akan segera datang untuknya.


Sementara itu...


Taka seorang diri di sana. Tak lama kemudian Hiroshi pun datang menghampirinya. Sepupu dari Taka itu tampak membawakan sebuah map berwarna hijau. Yang mana di dalam map itu berisi sesuatu untuk Taka.


"Taka, ini surat mutasi untukmu. Semua akomodasi dan tempat tinggal sudah dipersiapkan. Tinggal kita berangkatnya saja," tutur pria berjas hitam itu kepada Taka.


Taka diam. Ia masih memandangi perkotaan sambil menikmati angin siang yang menerpa tubuhnya. Ia tampak malas untuk menanggapi kedatangan sepupunya.

__ADS_1


"Paman sudah tiba di Jepang semalam. Dan kini beliau—"


"Aku tidak menanyakannya." Saat itu juga Taka menyelanya. Hiroshi pun terdiam seketika.


Taka membalikkan badannya ke arah Hiroshi yang datang. Raut wajahnya menyiratkan amarah yang terpendam. Terlihat kedua tangannya masuk ke dalam saku celana dengan tatapan tajam ke arah Hiroshi. Hiroshi pun merasa telah membuat kesalahan kepada Taka.


"Apa kau cukup senang dengan semua ini?" tanya Taka kepada Hiroshi.


"Taka, apa maksudmu?" Hiroshi tak mengerti.


.........


...Taka...


__ADS_1


__ADS_2