
"Aku juga sempat bermimpi membantumu menyeberangi jalan itu. Dan setelah itu, aku terus kepikiran akan dirimu. Maka dari itu aku mencoba memberanikan diri untuk menyapamu. Ya, walaupun saat itu hujan sedang turun," tutur Taka seraya tersenyum, menoleh ke arah Rara yang melihatnya dengan serius. "Lucu, bukan? Aku pun merasa aneh karenanya." Taka melanjutkan.
"Berarti kau telah lama melihatku di sana?" tanya Rara kemudian.
"Em, aku lupa persisnya kapan," jawab Taka kembali.
Rara pun terdiam. Ia berusaha mendalami apa yang Taka ceritakan padanya. Tentunya semua ini ada campur tangan Tuhan yang menggerakkan hati Taka untuk menjumpainya. Hingga akhirnya semuanya bisa sedekat ini.
DIA Maha Membolak-balikkan hati. Tapi apakah ini ada kaitannya dengan mimpiku waktu itu, ya?
Rara pun merasa jika hal ini ada kaitannya dengan mimpinya waktu itu. Namun, ia mencoba untuk tidak terlalu memikirkannya. Ia kembali fokus berbincang bersama seseorang yang sedang duduk di sisinya.
"Ra."
"Hm?"
__ADS_1
"Kau percaya takdir?" tanya Taka kepada Rara.
Rara mengangguk.
"Aku pun percaya, Ra. Aku percaya kita akan dipertemukan lagi setelah ini." Taka menyemangati dirinya sendiri.
Rara tersenyum. "Kau seperti ingin pergi saja jika berkata seperti itu, Taka." Rara menerka.
Taka tertawa. Sekuat mungkin menahan kesedihan yang melanda hatinya. Ia pura-pura tersenyum saja di depan Rara.
Rara mengangguk. Mereka pun berjalan bersama menuju anak tangga. Tanpa bersentuhan, tanpa berpegangan tangan. Namun, saling mencuri pandang. Ialah Taka dan Rara.
Beberapa jam kemudian...
Taka berjalan bersama Rara menuju sungai yang ada di bawah. Mereka menuruni banyak anak tangga untuk mencapai sungai tersebut. Sebuah sungai dengan aliran air yang sangat jernih. Dan dapat memberikan ketenangan bagi siapa saja yang melihatnya.
__ADS_1
Mereka pun sangat menikmati momen kebersamaan ini. Memancing bersama di kolam pemancingan ikan, makan siang di saung yang berada di dekat kolam, lalu bermain layang-layang di lapangan luas yang ada di dekat sungai. Setelahnya barulah Taka mengajak Rara untuk kembali ke atas. Ia kemudian meminta Rara untuk belajar menunggangi kuda. Yang mana Rara terlihat sangat takut kala berada di atasnya.
"Taka! Aku takut!"
"Hahahaha."
Bukannya membantu agar Rara bisa mengendalikan kuda yang bergerak ke sana kemari, Taka malah menertawai Rara yang ketakutan. Bukan karena senang berada di atas penderitaan orang lain, namun karena merasa lucu dengan ekspresi wajah Rara yang ketakutan. Pada akhirnya Taka pun meminta kuda itu untuk menurunkan Rara. Tentunya dengan bantuan si penjaganya.
"Kau usil sekali!" Rara pun memegangi lututnya yang terasa lemas karena takut jatuh dari kuda.
"Maaf-maaf. Tapi nanti kau harus bisa menunggangi kuda jika bersamaku," kata Taka yang membuat Rara berpikir ulang tentang maksudnya.
Dia ini. Selalu saja membuatku penasaran. Rara pun menggerutu di dalam hatinya sendiri.
"Hah ... hari sudah semakin sore saja, Ra. Sudah setengah tiga. Apakah kita mau segera pulang?" tanya Taka kepada Rara.
__ADS_1
Tentu saja Rara akan menjawabnya dengan kata tidak. Ia masih ingin berlama bersama Taka. Tapi Taka seperti sibuk di mata Rara. Rara pun tak berdaya untuk menolaknya.