
Esok siangnya...
Sekitar pukul sebelas siang, Rara terlihat menuruni angkot yang ia naiki. Ia tampak mengenakan celana pensil hitam dan sweter berwarna biru dengan rambut yang dibiarkan tergerai. Membuatnya terlihat sangat cantik. Rambut sedikit ikalnya yang berwarna hitam itu seakan menjadi kelebihan di antara kekurangan yang ada. Membuatnya bak putri kerajaan yang cantik jelita.
Raut wajahnya kali ini terlihat terburu-buru. Ia menyeberangi jalan raya seraya memegang satu plastik besar berwarna merah. Ia pun segera melangkahkan kakinya menuju gang rumahnya yang berada di samping Taman Santapan. Berjalan di atas trotoar seraya memegang plastik besar. Namun, selang beberapa detik kemudian langkahnya terhenti. Tertahan oleh sesuatu yang tidak ia ketahui.
Eh?!
Rara pun menyadari sesuatu tengah terjadi. Ia segera menoleh ke belakang untuk melihat apa yang terjadi.
"Ta-taka?!"
Sungguh tak terduga ia melihat Taka sudah berada di belakangnya. Kedua mata itu seakan tak percaya dengan kehadiran pria bertubuh tinggi itu. Taka terlihat hanya berdiam diri saja sambil menahan plastik yang Rara bawa.
"Ap-apa-apaan ini, Taka? Kau ingin mengerjaiku, ya?" tanya Rara yang curiga, plastik bawaannya ditahan oleh Taka.
"Hah?" Taka tampak bingung. "Kau bilang aku ingin mengerjaimu?" Taka balik bertanya.
__ADS_1
Rara tampak tidak mengerti. Namun, tangan Taka yang menahan plastik bawaannya sungguh memberatkan dirinya. Ia pun berbalik menghadap Taka untuk menanyakannya.
"Ada apa? Eh, tumben pakai batik?" Rara pun menyadari jika Taka mengenakan batik hari ini. "Kau juga mengenakan kaca mata?" Rara melihat kaca mata yang Taka pakai.
Taka tersenyum. "Bagaimana, aku tampan, bukan?" Ia tiba-tiba menanyakan hal itu kepada Rara.
"Eh???" Rara tambah tidak mengerti.
"Hampir seminggu aku menunggumu di sini, tapi kau tidak terlihat sama sekali. Ke mana gerangan dirimu, Rara?" tanya Taka yang membuat Rara terdiam seketika.
Jadi dia menungguku? Rara bertanya-tanya dalam hati.
Taka pun menghela napasnya, mengambil napas panjang lalu mengembuskannya kuat-kuat. Ia bertolak pinggang untuk melampiaskan rasa lelahnya karena menunggu Rara.
"Ra, aku mencarimu. Ini adalah hari kesekian kalinya aku mencarimu. Jadi tolong pahami maksudku," pinta Taka kepada Rara.
"???" Rara masih tidak mengerti.
__ADS_1
"Em, begini saja. Bagaimana jika kita mengobrol sebentar agar kau lebih mengerti. Kau tidak keberatan, bukan?" tanya Taka kepada Rara.
Rara tampak berpikir. "Tapi aku tidak bisa berlama karena harus segera pergi ke pasar," jawab Rara.
"Ke pasar?" Taka terheran.
"Iya, ke pasar. Di rumah persediaan beras sudah habis dan aku harus segera membelikannya. Tidak banyak sih, karena hanya dapat pinjaman beberapa ratus ribu saja," ungkapnya lesu.
"Apa?! Jadi kau meminjam uang hanya untuk membeli beras?!" Taka tak percaya.
"Hem, iya." Rara mengangguk. "Jika tidak, aku akan merasa sangat berdosa karena membiarkan orang rumah kelaparan," ungkapnya yang membuat hati Taka terenyuh.
Rara ....
Baru kali ini Taka bertemu dengan gadis jujur seperti Rara. Ia tidak mengerti mengapa Rara mau berterus terang kepadanya. Namun, kejujuran yang Rara berikan menjadi nilai tersendiri di mata Taka. Ia menghargainya.
"Baiklah kalau begitu, kita ke pasar saja. Bagaimana?" Taka menawarkan.
__ADS_1
"Eh? Yang benar? Kau sudah tampan seperti ini tapi mau pergi ke pasar?" Rara tampak tak percaya.
Saat itu juga rona merah terlihat di wajah Taka. Rara menyebutnya tampan. Tentu saja hal itu membuat Taka tersipu malu sendiri. Ia tahu Rara pasti jujur dengan ucapannya.