SEPERCIK KEBAHAGIAAN

SEPERCIK KEBAHAGIAAN
Kehangatan


__ADS_3

Esok harinya...


Hari demi hari dilewati, masalah demi masalah dihadapi. Selintas keinginan untuk pergi membumi. Tapi langkah terasa berat untuk menghakimi.


Ini adalah minggu kedua bagi Rara semenjak gaji diterimanya. Tersisa uang di saku hanya lima ratus ribu saja. Yang mana ia harus mengirit pengeluaran sampai gajian berikutnya. Ia tidak bisa berfoya-foya. Apalagi di setiap hari Rara harus menanggung minus kasirnya.


Pekerjaan Rara sangat mengandung risiko. Gaji yang ia terima tidak sesuai dengan kinerjanya. Barang-barang hilang menjadi tanggungan karyawan. Jika tidak potong gaji, maka akan sumbangan sesuai proxy. Dan Rara mau tak mau harus mengeluarkan uangnya, suka atau tidak. Karena sudah merupakan peraturan yang dibuat kepala tokonya.


Bulan ini Rara masih beruntung karena tidak ada sumbangan di tokonya. Sehingga ia bisa menyimpan uang lebih banyak. Entah jika bulan depan, tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi mendatang.


Kini Rara baru saja turun dari angkot selepas bekerja. Ia ingin menyisihkan sebagian uangnya untuk seorang lansia wanita di seberang kampungnya. Rara ingin menderma.


Selepas turun dari angkot, Rara berjalan memasuki gang rumah lansia tersebut. Hingga akhirnya ia sampai dan menjumpai seorang nenek tua. Tentu saja kedatangannya disambut baik oleh nenek itu. Pelukan hangat menyambut kedatangan Rara.

__ADS_1


"Puji syukur kita masih bisa bertemu," ungkap si nenek. Ia terlihat mengenakan kebaya tua yang sudah lusuh termakan usia.


"Iya, Nek. Semoga kita sehat selalu dan panjang umurnya,” sahut Rara seraya tersenyum lalu melepaskan pelukan nenek itu.


"Aamiin. Berkah juga hidupmu ya." Sang nenek memegang kedua pipi Rara dengan tangan keriputnya.


"Aamiin." Rara pun membalas dengan tersenyum senang.


Rara sudah tidak lagi mempunyai nenek. Sehingga ia menganggap nenek ini adalah neneknya. Nenek yang selalu dapat tersenyum dan menyambut kedatangannya dengan hangat. Walaupun hanya bertemu sebulan sekali.


"Makasih, Nek. Kalau begitu Rara pamit."


Lantas setelah pertemuan itu usai, Rara pun lekas bersalaman. Mencium tangan si nenek lalu mengucapkan salam. Ia dengan segera kembali ke rumahnya dengan tersenyum senang karena dapat berbagi rezeki. Ya, walaupun nominalnya kecil sekali.

__ADS_1


Sesampainya di rumah...


Petang sudah di depan mata. Rara pun baru tiba di rumahnya. Ia mengucapkan salam lalu masuk ke rumahnya. Namun, saat itu juga ia melihat kakak laki-lakinya sedang beradu mulut dengan ibunya.


"Nah, ini orangnya sudah pulang!" Kakak laki-lakinya melihat Rara datang.


"Bu, ada apa? Kenapa ribut-ribut?" tanya Rara segera.


Ibunya menghela napas. "Ini, Ra. Beras sudah mau habis. Utang juga sudah banyak di warung. Ibu malu kalau harus ngutang lagi. Kau punya uang?" tanya ibunya kepada Rara.


Baru saja menginjakkan kakinya masuk ke dalam rumah, ibunya sudah menceritakan jika persediaan beras menipis. Memecahkan kesunyian di petang ini. Rara pun menarik napas dalam-dalam. Hanya itu yang bisa ia lakukan.


Gajian masih tiga minggu lagi. Ongkos saja seratus seminggu. Jika yang dua ratusnya kuberikan, itu berarti aku tidak ada pegangan uang sama sekali. Ya Tuhan, bagaimana ini?

__ADS_1


Rara merasa bingung. Ia seperti menemui jalan buntu. "Nanti Rara carikan ya, Bu. Sekarang ibu istirahat saja. Rara juga mau mandi dulu," ucapnya seraya tersenyum.


__ADS_2