
"Aduh, kurang satu lagi rokoknya."
Rara kebingungan karena rokoknya kurang satu. Bersamaan dengan itu Taka sudah membayar barang belanjaannya. Ia pun segera keluar dari toko tanpa menyapa Rara. Sedang Rara sendiri masih menghitung ulang jumlah rokoknya. Ia begitu serius dalam bekerja.
Satu jam kemudian...
Rara akhirnya bisa menyelesaikan pekerjaannya hari ini. Terlihat dirinya yang sudah bersiap-siap untuk pulang. Ia pun berpamitan kepada Siti dan pramuniaga yang berjaga. Rara segera keluar dari toko begitu selesai absen pulang. Ia pun melihat jam di layar komputer yang sudah menunjukkan pukul empat lewat.
Baiklah. Mari kita pulang.
Hari ini Rara masuk pagi sehingga ia bisa pulang sore. Ia kemudian mencari angkot untuk cepat sampai ke rumahnya. Namun ternyata, di belakang sudah ada Taka yang mengikutinya. Taka berjalan kaki mengikuti Rara.
Tak lama kemudian angkot pun berhenti di depan mereka. Rara lalu segera naik ke dalamnya. Taka pun menyusul. Mereka duduk berdekatan tanpa saling melihat satu sama lain. Sepertinya Taka sengaja melakukan hal ini untuk memberi kejutan kepada Rara. Hingga sampai di tempat tujuan Taka pun turun terlebih dulu. Rara menyusul lalu membayar ongkosnya. Namun, sang supir bilang sudah dibayarkan.
"Eh?!"
Rara merasa bingung. Ia tak mengerti mengapa ongkosnya sudah dibayar. Ia curiga dengan pria yang turun duluan di depannya. Rara pun berusaha menyapanya.
__ADS_1
"Em, permisi." Rara menyapa sosok pria berjaket hitam, berkacamata hitam dan juga bertopi hitam.
Jantung Rara deg-degan bukan main. Ia takut salah prasangka terhadap sosok tersebut. Pria itu pun masih berada di dekatnya dengan jarak sekitar dua meter saja. Rara jadi menerka-nerka siapa gerangan pria tersebut.
Pria itu melepas kaca matanya. "Bicara padaku?" tanyanya yang membuat Rara terkejut.
"Ka-kau?!" Rara merasa mengenali suara itu.
Sosok yang memang benar adalah Taka itu kemudian melepaskan topinya. Dan terlihatnya wajahnya yang rupawan.
"Taka?!"
"Taka, kau ...???" Rara bertanya-tanya.
Taka tersenyum. "Maaf, aku masih belum siap," katanya seolah menjawab pertanyaan Rara.
Rara terlihat sedih. "Tidak. Ini salahku. Tidak seharusnya seperti itu." Rara merasa bersalah sendiri.
__ADS_1
Kendaraan yang lalu-lalang pun menjadi saksi akan hati yang kecewa. "Ra, aku ingin menjaga—"
"Tak apa."
Belum sempat Taka meneruskan ucapannya, Rara terlihat duduk seraya menekuk kedua lututnya di atas rerumputan yang berada di samping trotoar jalan. Ia pun menitikkan air matanya di samping Taka.
"Rara ...."
Saat itu juga Tak merasa bersalah dengan tindakannya. Ia kemudian mengikuti Rara, duduk berjongkok di atas rerumputan.
"Ra, jangan menangis seperti itu. Aku tidak sanggup melihatnya."
Ingin rasanya Taka mengusap air mata yang jatuh. Tapi ia terlalu segan untuk melakukannya. Walaupun pada kenyataannya Rara seolah memberikan izin. Taka begitu menghormati Rara dan ingin menjaganya.
"Taka, kau tahu. Sudah lama sekali kita tidak bertemu. Aku mencarimu. Aku kehilanganmu, Taka." Rara jujur akan perasaannya.
Taka menelan ludah. Ia pun merasakan hal yang sama. Tapi ia tidak bisa memenuhi apa yang Rara inginkan karena khawatir semakin mengikat hatinya.
__ADS_1
"Aku merindukanmu, Ra." Hanya kata itu yang mampu Taka ucapkan kepada Rara.