SEPERCIK KEBAHAGIAAN

SEPERCIK KEBAHAGIAAN
Hati Yang Sakit


__ADS_3

Malam harinya...


Malam ini langit tampak mendung seperti ingin menumpahkan curahan air hujan. Rara pun baru saja keluar dari ATM dan mengambil gajinya. Dan ternyata, gajinya tidak sesuai dengan yang diharapkannya. Ia berdiri lemas kala melihat saldo di ATM-nya. Seakan dunia berakhir bulan ini. Ia tertunduk sambil memegang beberapa lembar uang ratusan ribu. Hanya satu koma empat juta saja yang bisa ia bawa pulang ke rumah. Setelah penantian panjang selama satu bulan lamanya.


Hanya satu empat. Bagaimana ini?


Ia merasa bingung saat keluar dari ATM. Ia pun berjalan lemas menuju rumahnya. Kebetulan jarak ATM dan rumahnya tidak terlalu jauh. Sehingga Rara bisa berjalan kaki untuk mengambilnya. Ya, walaupun harus berjalan kiloan meter, Rara merasa tak apa. Ia ingin menghemat ongkosnya.


Gaji yang Rara dapatkan bulan ini tidaklah banyak. Ia hanya menerima satu koma empat juta saja. Rara pun tidak bisa berbuat apa-apa manakala takaran rezekinya sudah seperti itu. Ia hanya bisa pasrah.

__ADS_1


Jalan demi jalan pun ia lalui untuk segera sampai ke rumahnya. Sesampainya di rumah pun sang kakak lelakinya sudah menunggu di ruang tamu bersama ibunya. Rara kemudian mengucapkan salam sebelum masuk. Ia berusaha tersenyum untuk menutupi kesedihannya. Namun, kabar itu mau tidak mau ia beritahukan kepada ibunya. Berharap ibunya dapat mengerti keadaan Rara saat ini.


"Bu, ini gaji Rara. Rara hanya dapat satu koma empat saja." Rara menceritakan sambil duduk di dekat ibunya.


Ibunya mengernyitkan dahi. "Jadi bisa kasih berapa bulan ini?" tanya ibunya lemas.


Rara menyerahkan beberapa lembar uang ratus ribuan kepada ibunya. "Rara cuma bisa kasih lima ratus untuk makan bulan ini, Bu. Sisanya Rara mau bayar air dan listrik dan juga sekolah Danu." Rara menerangkan.


Rara merasa kesal. "Ya, mau gimana lagi. Kalau dikasihnya segitu."

__ADS_1


Bukannya ucapan syukur yang Rara dengar, malah perkataan seperti itu. Ditambah mimik kecewa yang ia lihat. Rasanya beban hidup itu semakin berat saja. Padahal ia hanya ingin mengharapkan kata syukur yang terucap. Baginya sudah cukup untuk menyemangati kerjanya esok hari. Namun, untuk yang kesekian kalinya, harapan itu hanya sebatas harapan.


"Harusnya jangan segitu ngasihnya! Mana cukup uang segitu buat sebulan?! Mikir, dong!" cetus kakak laki-lakinya kembali.


Rara menghela napas panjang. "Rara enggak pegang banyak, Kak. Sembilan ratus sisanya untuk bayar listrik air dan juga sekolah Danu. Sisanya hanya sekitar lima ratus untuk modal kerja bulan depan. Belum lagi jika diminta bayar barang hilang. Rara juga enggak dapat banyak." Rara menjelaskan.


"Cari tambahan uang, dong! Jangan makan tidur makan tidur saja bisanya!" Kakaknya semakin menjadi-jadi.


Rara menelan ludahnya. Ia begitu lemas mendengar hal itu terucap dari mulut kakaknya. Padahal kakaknya sendiri tidak bekerja. Ia juga menumpang hidup pada Rara. Tapi Rara merasa tidak berdaya untuk melawan ucapan kakaknya. Air mata itu pun seakan meminta izin untuk keluar dari persembunyiannya.

__ADS_1


"Rara istirahat dulu, Bu." Rara pun beranjak pergi dengan hati yang terluka.


Ibunya hanya bisa diam. Tidak bisa berkata apa-apa. Sedang kakaknya. "Payah! Enggak berguna!" Kakaknya menyeletuk seperti itu.


__ADS_2