
Lebih dari seminggu semenjak pertemuan terakhirnya dengan Taka. Tapi sampai hari ini juga Rara belum pernah melihatnya kembali. Jujur di dalam hatinya merasa rindu dan juga mencari-cari. Namun, karena kesibukkan pekerjaan mau tidak mau perasaan itu ia tepiskan. Rara pun berpikir yang baik-baik tentang Taka. Ia percaya dengan takdir yang akan mempertemukannya.
Rara tidak bergegas pulang ke rumahnya, melainkan berdiam diri di tempat itu sambil melihat kendaraan yang lalu-lalang. Biasanya, Taka ada di sana untuk menunggunya pulang. Tapi tidak untuk hari ini, Taka belum juga terlihat di matanya.
Entah mengapa aku merindukannya.
Rara tertunduk. Ia merasa kehilangan. Namun sayang, ia tidak mempunyai jalan komunikasi dengan Taka selain bertemunya langsung. Rara pun berjalan menuju pedagang kaki lima yang ada di sana. Ia membeli es dawet untuk melepas dahaganya. Namun, kenangan bersama Taka itu kembali teringat di benaknya.
"Ra."
"Hm?"
"Kau percaya takdir?" Tiba-tiba Taka bertanya seperti itu kepada Rara.
"Kau menanyakan hal yang berat sore ini." Rara merasa keberatan menjawabnya.
__ADS_1
Taka mengembuskan napasnya. "Terkadang kita tidak bisa memprediksi masa depan. Terkadang juga kita terjebak dalam masa yang sekarang." Taka menuturkan pemikirannya.
Kenangan akan obrolan sore bersama Taka itupun teringat kembali di benaknya.
"Taka, aku percaya takdir."
Rara menjawab pertanyaan Taka yang belum sempat ia jawab waktu itu. Ia ingin Taka kembali hadir di sisinya, menemaninya dan berbagi canda tawa. Rara mulai merasakan rasa rindu itu mengganggunya. Keinginan untuk bertemu pun semakin bergejolak di dada. Namun, Rara tidak berdaya untuk memaksakan semesta mempertemukannya.
"Astaga, sepertinya aku benar-benar merindukannya."
Satu bulan kemudian...
Tanpa terasa waktu begitu cepat berlalu. Sudah satu bulan saja Rara bekerja di toko barunya. Mendapatkan teman dan juga kenalan yang baru. Ia tampak menikmati hari yang harus tetap dijalani. Permasalahan demi permasalahan pun ia lewati.
Di toko yang baru Rara mulai difungsikan untuk memegang shift. Tampak dirinya yang sedang mendisplay minuman ke dalam lemari pendingin. Keadaan toko belum terlalu ramai karena petang baru saja datang. Mereka pun bergantian untuk makan malam.
__ADS_1
Rara bersama Siti di area penjualan. Seorang kasir yang mengenakan hijab saat bekerja. Siti pun tampak sibuk melayani pembeli. Tak lama kemudian ia juga berteriak memanggil Rara.
"Mbak, ada yang nyariin!" teriak Siti yang sedang melayani pembayaran di kasir.
Rara pun segera berjalan cepat ke arah Siti. "Siapa, Ti?" tanyanya. Siti pun menunjuk seseorang di depan pintu.
Rara kemudian mendekati seseorang yang ditunjuk Siti. Seorang pria yang sedang berdiri di luar tokonya.
"Ada apa ya, Mas?" tanyanya sambil membuka pintu toko.
Pria itupun menoleh ke Rara, "Mbak Rara, ya? Ini, Mbak. Saya diminta menyerahkan bunga ini kepada Mbak," ucapnya yang disambut sorak-sorai pembeli yang sedang membayar barang belanjaan di kasir.
Posisi pintu toko sangat dekat dengan kasir. Sehingga saat Rara membuka pintu, terlihat jelas apa yang terjadi kala itu. Rara pun tersipu malu saat menerima seikat bunga.
Banyak pembeli yang memperbincangkannya. Ia pun segera membaca pesan pada bunga tersebut. Dan alangkah terkejutnya ia saat mengetahui isi pesan itu. Rara segera berlari lalu mencari di mana gerangan sosok yang mengirimkannya bunga.
__ADS_1