
Taka bak mengerti. "Hei, kau tahu? Aku mempunyai voucher belanja yang bisa kau gunakan. Mungkin bisa sedikit membantumu."
Tiba-tiba saja Taka mengeluarkan lima buah voucher belanja, masing-masing bernilai dua ratus ribu rupiah.
"Ini untukmu, Rara. Terimalah dan jangan menolaknya," ucap Taka seraya menggeser kelima lembar voucher itu ke Rara.
"Kau serius?" Lagi-lagi Rara tak percaya.
"Hu-um. Aku serius. Aku kurang membutuhkannya. Jadi daripada tidak terpakai, lebih baik kau gunakan saja voucher ini untuk berbelanja kebutuhan. Bagaimana jika kita juga berangkat sekarang?" tanya pria tampan berjaket hitam itu.
Taka ....
Saat itu juga hati Rara berdesir lirih. Ia terharu dengan kebaikan yang Taka berikan padanya. Dengan malu-malu ia pun mengambil voucher belanja itu. Rara tak menyangka akan mendapatkan rezeki tak terduga sore ini.
"Kau jangan khawatir, Ra. Aku akan membantumu, sebisaku dan semampuku. Jadi tersenyumlah. Dan jangan pernah menangis lagi."
__ADS_1
Taka menyemangati Rara yang membuat Rara terenyuh seketika. Bulir-bulir air mata itu seakan tidak sanggup lagi bertahan di persembunyiannya.
"Taka, kau terlalu baik padaku." Rara tidak tahu harus berucap apa.
Rara menitikkan air matanya. Lagi-lagi ia menangis di hadapan Taka. Bukan karena nominal voucher belanja yang Taka berikan, melainkan karena Taka begitu peduli terhadapnya. Memberi tanpa pamrih yang membuat hati Rara terenyuh hebat. Taka bak malaikat tak bersayap yang Tuhan hadirkan untuknya.
Rara ....
Taka pun berusaha menggapai kepala gadis itu, ia berniat untuk mengusapnya. Namun, saat hampir sampai, Taka teringat akan perkataan seseorang. Sehingga ia pun mengurungkan niatnya.
"Kau begitu baik padaku. Dengan apa aku harus membalas kebaikanmu?" tanya Rara memecah suasana yang syahdu.
"Hei! Hei! Aku tidak pernah meminta balasan apapun darimu." Taka mengelaknya.
"Tapi ...."
__ADS_1
"Sudahlah, Ra. Aku telah memesan mobil untuk mengantarkan kita ke supermarket. Ayo!"
Taka bak tidak ingin melihat Rara kembali bersedih. Ia segera beranjak dari duduknya lalu membayar teh yang telah dipesannya. Sedang Rara tampak memandangi punggung seorang pria yang berjalan menjauh darinya.
Aku tidak dapat melawan perasaan ini. Haruskah aku menyerah?
Rara bertanya kepada dirinya sendiri. Ia lalu segera menyusul Taka yang sudah memanggilnya. Tak dapat Rara pungkiri jika ia tengah merasakan sesuatu perasaan yang berbeda dari sebelumnya. Ia mulai menaruh harapan kepada Taka, pria yang belum lama ini dikenalnya.
Harapan itu membuat Rara merasa takut jika suatu hari akan kehilangan. Bagi Rara, tidak mudah untuk melupakan kebaikan seseorang. Rara pun berharap bisa terus melihat Taka hadir di kehidupannya. Rara nyaman bersama Taka.
"Silakan masuk, Tuan Putri."
Tak lama kemudian mereka pun sampai di trotoar jalan. Mobil rentalan Taka pun datang menghampiri keduanya. Taka segera membukakan pintu mobil itu untuk Rara. Mereka pun duduk di belakang pak supir. Duduk berdekatan namun tidak bersentuhan sama sekali.
Rara tersenyum, begitu juga dengan Taka. Mereka hanya saling melihat tanpa berani berpegangan tangan. Membuat si supir tersenyum-senyum sendiri. Bagai melihat sepasang pengantin baru yang masih malu-malu.
__ADS_1
Mobil itu pun mulai melaju menuju sebuah supermarket yang dituju. Sementara keduanya saling melirik sambil menahan senyuman. Menyebalkan? Tentu saja. Dalam diam mereka saling memerhatikan.