SEPERCIK KEBAHAGIAAN

SEPERCIK KEBAHAGIAAN
Pertemuan


__ADS_3

Tiba-tiba dirinya tidak lagi merasakan hujan itu turun membasahi tubuhnya. Padahal di hadapannya hujan turun begitu deras. Menyadari hal aneh yang terjadi, Rara pun segera melihat ke atas kepalanya. Dan ternyata, ia melihat payung terbuka lebar untuk melindunginya dari hujan.


Si-siapa yang memayungiku?


Rara merasa takut. Ia pun segera melihat ke belakang. Jantungnya berdegup kencang, berharap-harap cemas terhadap apa yang akan dilihatnya. Ia khawatir jika ada orang yang berniat jahat padanya.


"Kau tidak perlu takut," katanya kepada Rara.


Saat Rara melihat ke belakang, saat itu juga ia melihat seorang pria tengah tersenyum padanya. Pria itu tersenyum seraya memegangi payung besar yang ada di tangannya.


Si-siapa dia?


Rara sendiri jadi semakin takut. Melihat seorang pria tiba-tiba sudah berdiri di belakangnya. Ia pun memundurkan langkah kakinya ke belakang.


"Hei, jangan takut." Pria itu kembali menjelaskan.


Rara menelan ludahnya. Ternyata benar ada seseorang yang memayunginya dari belakang. Seseorang itupun berjalan ke samping Rara sambil tetap memegang payungnya. Ia mengenakan kaus pas badan yang dibalut kemeja lengan pendek. Ia juga mengenakan celana dasar dan sandal gunung yang kecokelatan.

__ADS_1


"Ap-apakah ... kam-kamu han-han—"


"Hantu maksudmu?" tanyanya seraya tersenyum kecut.


Seseorang itu adalah pria berkulit sawo matang. Rambutnya hitam dan disisir ke depan bak artis K-Pop. Tingginya sekitar 175cm dengan berat badan proporsional, yang mana membuat pria itu terlihat sangat tinggi di mata Rara. Karena Rara hanya sekitar 155cm saja.


"Em, mengapa memayungiku?" tanya Rara dengan polosnya. Ia menatap lekat-lekat pria yang ada di sampingnya itu.


Sungguh hatinya tidak karuan. Rara diliputi kecemasan dan kekaguman yang bercampur satu. Pria itu begitu memukau di pandangan matanya. Terbesit jika malaikat yang sedang menyamar untuk dirinya. Atau setan yang mencoba menyerupai untuk mencelakainya agar tidak terfokus menyeberangi jalan raya.


"Em. Ti-tidak. Bukan begitu. Maksudku ...,"


Rara berpikir sejenak. Ia bertanya-tanya di dalam hatinya, benarkah yang berada di sampingnya ini adalah manusia atau setan yang menyerupai pria tampan? Namun, ia kembali berpikir, apakah ada setan yang berbaik hati kepada manusia?


Siapa ya dia? Kenapa berbuat baik padaku?


"Hei! Kau ingin menyeberang, tidak?" tanya pria itu kepada Rara.

__ADS_1


Pria itupun tampak kesal karena Rara lama berpikir. Rara terlihat berdiam diri saja sambil terus menatapnya dari rambut hingga ujung kaki.


"I-iya. Aku ingin menyeberang," jawab Rara terbata.


Pria itu kemudian melihat ke arah kanan dan kiri. Ia lalu menjulurkan tangan kanannya, memberi kode agar mobil yang melintas dapat memelankan sedikit lajunya.


"Ayo, kita menyeberang!"


Pria itupun memberikan jalan bagi Rara agar dapat menyeberangi jalan raya, sambil tetap memayungi tubuh Rara agar tidak sampai kehujanan. Mereka pun akhirnya menyeberangi jalan tanpa berpegangan tangan.


Pemandangan itu terlihat begitu kontras. Membuat siapapun yang melihatnya pasti menginginkan momen seperti itu. Begitu juga dengan Rara yang mengalaminya. Seketika ia merasa terlindungi karena ada seorang pria yang telah menolongnya. Pria yang tidak dikenalnya namun berparas tampan dan juga menarik pandangan.


"Terima kasih." Akhirnya mereka pun tiba di seberang jalan. Pria itu juga masih memayungi Rara dan dirinya.


"Kau lapar?" tanyanya yang sontak membuat Rara terkejut.


"Ehh? Ba-bagaimana bisa kau tahu?" Rara balik bertanya.

__ADS_1


__ADS_2