
"Kau tidak perlu takut," katanya kepada Rara.
Masih teringat jelas pertemuan pertamanya bersama Taka. Di mana saat itu Rara sedang melamun dan tidak mempunyai persiapan untuk kedatangan seseorang. Rara baru saja pulang dan berniat untuk mencari kerja tambahan. Tapi tiba-tiba saja hujan turun seolah tidak merestuinya pergi. Ia pun melamun di trotoar sambil menunggu jalanan sepi untuk menyeberang. Dan saat itulah Taka datang dan memayunginya agar tidak kehujanan.
"Hei, jangan takut!"
Tentu saja kehadiran Taka membuat Rara terkejut. Ia pun memundurkan langkah kakinya ke belakang, menyadarkan Taka akan ketidaksiapan Rara menerima kehadirannya. Taka pun berusaha meyakinkan Rara jika ia bukanlah orang jahat.
"Ap-apakah ... kam-kamu han-han—"
"Hantu maksudmu?" tanyanya seraya tersenyum kecut.
"Em, mengapa memayungiku?" tanya Rara dengan polosnya. Ia menatap lekat-lekat pria yang ada di dekatnya itu.
__ADS_1
Sungguh saat itu hati Rara tidak karuan. Rara diliputi kecemasan dan kekaguman yang bercampur aduk. Pria itu begitu memukau di pandangan matanya. Terbesit jika malaikat yang sedang menyamar untuk dirinya. Atau mungkin setan yang mencoba menyerupai untuk mencelakainya agar tidak fokus saat menyeberangi jalan raya.
"Aku melihatmu kehujanan lalu memayungimu. Apakah ini salah?" tanyanya seraya menoleh ke arah Rara yang berada di sampingnya.
"Em. Ti-tidak. Bukan begitu. Maksudku ...,"
"Hei! Kau ingin menyeberang, tidak?" tanya Taka segera kepada Rara.
"I-iya. Aku ingin menyeberang." Rara pun menjawabnya dengan terbata.
"Ayo, kita menyeberang!"
Taka pun memberikan jalan bagi Rara agar dapat menyeberangi jalan raya, sambil tetap memayungi tubuh sang gadis agar tidak sampai kehujanan. Mereka pun akhirnya menyeberangi jalan bersama tanpa berpegangan tangan. Di sebuah jalan yang penuh dengan kenangan.
__ADS_1
.........
Taka ....
Rara terisak. Tentu saja ia terisak setelah menyadari kenyataan yang tidak sesuai dengan harapannya. Rara pun duduk menekuk kedua lututnya di sudut kamar. Ia peluk erat-erat kotak berisi yukata pemberian dari Taka. Rara belum bisa menerima kenyataan pahit yang melanda hidupnya. Lebih sakit dari sekedar menjadi tulang punggung keluarga.
Aku baru saja merasakan hal itu, Taka. Kenapa kau pergi saat aku menyadari jika aku jatuh cinta? Kenapa, Taka? Kenapa?!
Ia pun menahan sesak di dadanya. Sejuta kenangan manis seolah menjadi bukti atas perasaan yang bersemayam di dada. Rara tidak mungkin melupakannya begitu saja. Ia membutuhkan Taka untuk menemani hari-harinya. Dan juga semangat atas perjuangan hidup yang tidak ada batasnya. Namun, kini semua hilang seakan ditelan bumi. Rara harus merelakan Taka pergi selamanya.
Satu minggu kemudian...
Hari terus berganti tanpa peduli dengan sesak yang melanda hati. Pagi pun datang menggantikan malam yang kelam. Seperti kesedihan yang melanda Rara seorang. Walaupun berat untuk dijalankan, tapi Rara terus berjuang untuk orang-orang tersayang. Ia harus bisa melupakan kesedihan yang menerjang. Karena masih banyak orang yang menjadi tanggungan.
__ADS_1
Satu minggu berlalu membuat Rara harus tetap tegar dengan takdir hidupnya. Sebisa mungkin tersenyum di tengah duka hati yang belum hilang sepenuhnya. Dan kini tampak dirinya yang sedang didandani sebelum menghadiri akad nikah adiknya. Ia terlihat cantik walaupun semburat senyum itu tidak terlihat di wajahnya. Rara lebih memilih diam daripada banyak bicara.