
Siti yang melihatnya pun terperangah sendiri. Ia tampak mengingat-ingat sesuatu. Selepas membayar Taka juga segera keluar dari toko, diikuti oleh Rara. Dan betapa terkejutnya Rara saat melihat Taka membawa mobil.
"Itu?" Rara bertanya-tanya.
"Mobil bosku. Dia sedang sibuk, jadi aku diperbolehkan membawanya." Taka beralasan.
Rara pun mengangguk-angguk. Ia tampak percaya dengan apa yang Taka katakan padanya.
"Selamat bekerja, Ra. Sampai nanti." Taka pun segera berpamitan.
Rara tersenyum. Ia kemudian melepas kepergian Taka sambil memegang plastik berisi makanan itu. Taka pun melambaikan tangannya kepada Rara. Rara juga membalasnya. Mereka kemudian berpisah.
Ra, aku tidak tahu bagaimana jika kita benar-benar tidak bertemu lagi. Apakah kau masih akan mengingatku?
Sejujurnya Taka sedih karena ia harus berpisah dengan Rara. Tapi ia juga tidak ingin Rara sampai kenapa-kenapa karena dekat dengannya. Pada akhirnya ia pun harus merelakan kebersamaannya selama ini. Dan memendam semuanya di hati. Ia tak berdaya melawan kehendak ayahnya.
__ADS_1
Mobil itu kemudian melaju, meninggalkan Rara yang masih berdiri di depan pintu. Rara pun kembali masuk ke tokonya sambil membawa plastik besar itu. Ia ingin membagikan makanan itu kepada Siti di kasiran. Siti pun tampak menanyakannya.
"Mbak, dia itu siapa? Baik sekali." Siti melihat sendiri kebaikan Taka kepada Rara.
"Dia temanku," jawab Rara kepada Siti.
"Teman? Tapi sebelumnya dia pernah ke sini dan memerhatikanmu, lho." Siti mengingatnya.
"Dia pernah ke sini? Sebelumnya?" Rara tampak tak percaya.
"Iya. Yang pertama waktu kita serah terima modal kasir. Ada Mbak juga, kok. Yang ke dua beberapa hari yang lalu. Em, sekitar seminggu kalau tidak salah. Tapi Mbak masuk pagi waktu itu." Siti mengingat-ingatnya kembali.
Rara pun lekas membawa plastik berisi makanan itu ke belakang. Tak lama kemudian pramuniaga senior juga sudah selesai makan. Kini giliran Rara untuk menyantap makan malamnya.
Taka, kau begitu baik.
__ADS_1
Rara berdoa. Ia kemudian menyantap makan malamnya pemberian dari Taka. Ia menikmati makanan itu sambil mengingat kebaikan yang Taka berikan padanya. Tanpa sadar air matanya jatuh membasahi pipi. Rara merasa begitu diperhatikan oleh Taka.
Beberapa hari kemudian...
Waktu terus bergulir mengantarkan Rara menemui seseorang yang dirindukannya. Sejak pagi ia sudah bangun untuk membereskan rumahnya terlebih dahulu. Dari memasak, menyapu, mengepel hingga mencuci pakaian. Barulah pada pukul delapan paginya ia bersiap-siap untuk menemui Taka.
Berdandan ala kadarnya, mengenakan kaus putih dibalut jaket panjang dan juga celana pensil hitam. Rara segera berpamitan kepada ibunya untuk pergi menemui Taka. Tapi ia beralasan jika ada keperluan di tokonya. Karena hanya dengan cara itulah ibunya tidak was-was untuk melepas kepergian anaknya.
Rara kemudian berjalan menuju Taman Santapan. Saat itu masih pukul delapan pagi lewat lima puluh menit. Ia tidak ingin datang terlambat kali ini agar bisa memandangi Taka lebih lama. Seorang pria yang begitu perhatian kepada dirinya.
Setibanya di Taman Santapan pun ternyata yang ditunggu belum juga datang. Rara kemudian memesan segelas teh hangat untuk menemaninya menunggu. Ia juga segera membayarnya langsung.
Jangan bilang dia tidak datang. Awas saja.
.........
__ADS_1
...Rara Alya...