
Sesampainya...
Rara pulang dengan menaiki angkutan kota. Sepanjang perjalanan ia masih berpikir bagaimana cara untuk mendapatkan uang tambahan agar dapat membayar iuran adiknya. Tanpa terasa jika sudah tiba di tempat yang dituju.
"Minggir, Pak!"
Ia kemudian turun dari angkot dengan membayar empat ribu rupiah. Turun di sebuah trotoar jalan yang berada di samping lapangan upacara para pegawai pemerintahan, yang mana di seberangnya ada sebuah Taman Santapan. Matanya pun melihat ke kanan dan kiri sebelum menyeberangi jalan. Jalan dua jalur yang sangat dekat dengan perkantoran pemerintahan.
Saat itu terlihat banyak sekali pegawai pemerintahan yang baru saja pulang dengan membawa mobilnya. Saat itu juga khalayan Rara mulai mendominasi pikirannya.
Kapan ya bisa punya mobil seperti mbak itu?
Rara bergumam dalam hati kala melihat seorang wanita mengendarai mobil dan tertawa bersama teman-temannya. Rara merasa wanita itu begitu bahagia dengan kekayaan yang dimilikinya. Tidak seperti dirinya yang harus menanggung penderitaan akibat tidak mempunyai ayah.
__ADS_1
Rara kemudian menyeberangi jalan. Ia terus berjalan menuju rumahnya yang tak jauh dari jalan raya tersebut. Masuk ke dalam gang yang hanya berjarak tiga rumah dari Taman Santapan. Sesampainya di rumah pun sang adik sudah menunggu kabar darinya.
"Bagaimana, Kak? Sudah dapat?" tanya adiknya, padahal Rara baru saja masuk ke dalam rumah.
Rara menghela napas dalam. Ia menggelengkan kepalanya karena belum mendapatkan uang tambahan untuk membayar iuran sekolah adiknya.
"Gimana sih, Kak?! Aku malu! Kalau sampai tidak ikut ulangan semester! Pikirin dong perasaanku gimana, jangan mikirin diri sendiri!" cetus adik laki-lakinya tanpa memikirkan bagaimana perasaan Rara.
Lagi dan lagi, Rara menerima ucapan yang tidak mengenakan hatinya. Namun, ia hanya tersenyum menanggapi perkataan adiknya.
"Sabar ya, Dek. Nanti malam kakak usahakan," ucapnya sambil berusaha menutupi perasaannya yang terluka.
Rara lalu masuk ke dalam kamarnya. Ia segera berganti pakaian sambil menahan rasa sakit karena belum makan sejak pagi. Untungnya, ada seorang pelanggan di toko yang membelikannya sepotong roti. Sehingga dapat mengganjal sedikit perutnya yang keroncongan. Namun, kini rasa pusing itu mulai melanda kepalanya karena perut yang belum terisi nasi. Rara pun mencoba menahannya.
__ADS_1
Malam harinya...
Dingin, itulah yang Rara rasakan saat mengambil kerja tambahan bersama kedua temannya. Ia melewati malam ke sana kemari, memutar arah, merajai tempat untuk menjajakan barang dagangannya. Hingga tak terasa malam semakin larut saja. Menyapa Rara yang masih berjuang melawan dinginnya angin malam.
Peluh keringat sehabis berkeliling menjual barang dagangan tidak menyurutkan semangat Rara untuk terus mencari beberapa lembar uang demi membayar iuran sekolah adiknya. Terlihat dirinya yang kini mendekap beberapa botol minuman ringan yang belum sempat habis terjual. Ia tetap menebarkan senyuman walau jiwa dan raga sudah lelah. Hingga akhirnya waktu bekerja telah usai.
"Sudah jam setengah dua belas malam. Saatnya kita setoran ke kantor," ucap seorang teman laki-laki yang merangkap sebagai supir.
Rara terdiam, ia hanya ikut masuk ke dalam mobil dan duduk di dekat jendela. Perjalanan menuju kantor pun ia nikmati sambil menahan rasa kantuk yang menerjang.
Semoga upah malam ini bisa membayar iuran sekolah Danu.
Malam ini Rara dan teman-temannya habis mengelilingi tempat nongkrong para pemuda yang sedang mencari angin segar. Ia pun berhasil menjual beberapa dus minuman ringan. Walau tidak habis semua, setidaknya Rara sudah berusaha untuk mencapai target. Dan malam ini target sudah berhasil didapatkannya.
__ADS_1