
Terdengar helaan napas berat dari pria tersebut kala Rara balik bertanya kepadanya. Sedang Rara tidak menjawab sesuatu apapun yang ditanyakan kepadanya.
"Kau ini! Aku kan bertanya, mengapa balik bertanya?!"
Pria itu seperti kesal kepada Rara. Tersirat dari nada ucapannya yang sedikit meninggi. Rara pun menyadari kepolosannya yang membuat pria itu marah.
"Ma-maaf. Maafkan aku," ucapnya seraya tertunduk malu.
Pria itupun tidak enak hati. "Hm, ya sudah. Mari kita makan di pondok santapan itu." Pria itu menunjuk ke arah Taman Santapan.
"Be-benarkah? Kau ingin mengajak ku makan? Ini bukan mimpi, kan?" sahut Rara yang tak percaya. Ia masih tidak yakin dengan apa yang terjadi saat ini.
Pria itu mengangguk. "Ini nyata. Jangan khawatir. Aku bukanlah orang jahat yang berniat menculikmu," cetusnya seraya menatap Rara.
__ADS_1
Tiba-tiba saja roman wajah Rara berubah. Bertekuk dua belas sambil menggerutu di dalam hatinya.
Bagaimana dia bisa tahu isi hatiku yang takut diculik? Siapa dia sebenarnya? "Em, baiklah. Dengan senang hati aku akan menerima tawaranmu. Ya, walaupun sebenarnya tidak lapar," jawab Rara sambil tersenyum lebar, berusaha membohongi perutnya yang sudah keroncongan.
"Hhh."
Pria itupun menghela napasnya. Mereka kemudian masuk ke dalam Taman Santapan. Memesan dua porsi sup kambing, dua piring nasi dan juga satu porsi sate. Tak lupa dua gelas teh panas menemani makanan yang mereka pesan. Keduanya lalu duduk di depan meja sambil menunggu makanan datang.
Jujur saja, baru pertama kali bagi Rara bertemu dengan seorang pria yang mustahil baginya. Bagaimana tidak, paras dari pria yang duduk di hadapannya ini bukanlah seperti penduduk biasa. Untung saja Rara mempunyai kulit yang sedikit kuning langsat, sehingga dapat mengimbangi aura ketampanan dari pria yang duduk di hadapannya ini. Jika tidak, tamatlah riwayatnya. Karena kalah telak dan berbanding terbalik dari pria tersebut.
"Dari mana?" Keduanya bertanya bersamaan, memecahkan keheningan suasana hujan.
"Em, sebaiknya kau dulu," kata Rara.
__ADS_1
"Tidak, kau saja. Wanita berhak mendapat pelayanan pertama," sahut pria itu.
Entah mengapa saat mendengar ucapan itu Rara sedikit ragu dengan pertemuan ini. Seperti sebuah keajaiban yang mustahil terjadi padanya. Tak lama kemudian, pesanan mereka pun datang. Dengan wajah berbinar, Rara menyambut kedatangan makanan itu. Si pria pun ingin meminum teh hangat yang telah dipesannya. Namun, Rara tiba-tiba melarangnya.
"Tunggu!"
Sejenak pria itu pun terhenti saat akan meneguk teh yang sudah berada di depan mulutnya.
"Kau memesan makanan sebanyak ini, kau juga yang menawarkan padaku. Jadi yang membayar?"
"Aku," selanya. "Kau tenang saja, aku yang bertanggung jawab atas semua pesanan ini," lanjut pria itu lalu meneguk teh hangatnya.
"Em, begitu. Baiklah, selamat makan!" seru Rara. Ia tampak senang sambil berdoa di dalam hatinya. Dengan segera ia pun memakan nasi beserta sate dan sup kambingnya.
__ADS_1
Pria itu memandangi gadis yang sedang makan di hadapannya. Begitu lahap hingga membuat dirinya merasa sudah kenyang walau hanya melihatnya saja.
"Kau seperti orang yang kelaparan. Tidak malukah padaku?" tanya pria itu kemudian.