SEPERCIK KEBAHAGIAAN

SEPERCIK KEBAHAGIAAN
Pertanda Mimpi


__ADS_3

Betapa sakit hati Rara dikatakan seperti itu. Ia pun segera masuk ke dalam kamarnya lalu duduk di pinggir kasur. Saat itu juga air matanya menetes membasahi pipi. Ia ingin segera mengakhiri kesusahan ini.


Andai aku punya ayah, tentunya hidup tidak seberat ini.


Rara sudah satu tahun bekerja menjadi kasir di salah satu mini market yang ada di kotanya. Tapi selama itu juga ia belum mempunyai apa-apa. Bahkan untuk membeli celana baru pun susah. Rara harus memikirkan ulang sebelum mengeluarkan uangnya. Sebisa mungkin ia menghematnya.


Uang yang dipegangnya tentu jauh dari kata cukup untuk memenuhi kebutuhan selama satu bulan ke depan. Tapi apa daya, keadaan menakdirkannya seperti ini. Pembayaran listrik dan air juga lebih dari tiga ratus ribu besarnya. Belum lagi untuk membayar sekolah adik dan memberinya uang jajan. Rara paling-paling hanya memegang sekitar empat ratusan. Itu juga belum dipotong membayar minusan.


Sungguh sakit. Hatinya sakit kala kakaknya sendiri berbicara seperti itu. Padahal Rara sangat jarang makan di rumah. Setiap pulang bekerja, ia harus menahan lapar karena nasi dan lauknya sudah habis dimakan oleh kakaknya. Bahkan kedua adiknya pun pernah tidak dapat makan karena semua sudah dimakan oleh kakaknya. Sungguh ironi kenyataan yang terjadi. Namun, hal itu memang sungguh terjadi di dalam keluarganya.


Rara, bersemangatlah. Hari esok masih ada.

__ADS_1


Rara pun segera merebahkan dirinya. Ia berniat ingin mencari kerja tambahan agar bisa memberi uang lebih kepada ibunya. Ia juga tidak ingin tertekan batin selamanya karena sering mendapat celaan. Tubuhnya sudah cukup lelah untuk terus bekerja. Ia pun harus merelaksasikan pikiran.


Beberapa jam kemudian...


Pria bersweter putih itu tampak gelisah dari tidurnya. Ia mencoba terbangun dari tidur, tapi tidak bisa. Hingga akhirnya ia terkejut dari mimpinya.


"Hah ... hah ...."


"Kenapa aku merasa sedih? Hatiku juga terasa sakit?"


Ialah Taka yang baru saja terbangun dari kasur mewah apartemennya. Ia terbangun dengan keadaan terkejut dari alam mimpinya. Taka pun termenung di atas kasurnya. Bayang-bayang seseorang terlintas di benaknya.

__ADS_1


Apakah ini takdir untukku?


Ia merasa sedih manakala mengalami mimpi melihat seorang gadis tengah duduk di bawah hujan yang turun deras. Gadis itu seorang diri di tengah sepinya suasana sekitar. Dan hatinya merasa sakit saat gadis itu tiba-tiba pergi darinya. Ia melihat gadis itu tersenyum lalu tertabrak kendaraan. Taka pun tak tega melihatnya.


Di dalam mimpi Taka tidak bisa berbuat apa-apa. Selepas terbangun pun ia hanya bisa duduk termenung di atas kasurnya. Ia mencoba mengingat kembali gadis yang ada di mimpinya itu. Namun, tiba-tiba saja sosok Rara terlintas di benaknya. Rara sedang berdiri dan ingin menyeberangi jalan raya. Taka seperti mendapat pertanda dari semesta.


"Apakah aku harus menemuinya?"


Taka pun mempunyai niat untuk menemui Rara. Ia begitu penasaran dengan arti mimpinya. Yang mana sebelumnya tidak pernah mengalami mimpi seperti itu. Namun, kali ini ia memimpikannya.


Lantas apakah Taka benar-benar akan menemui Rara? Lalu bagaimanakah tanggapan Rara atas kehadiran Taka? Bisakah ia menerima analogi dari pria berkebangsaan Jepang itu?

__ADS_1


__ADS_2