
"Tunggu!" Hiroshi menahan Rara. "Aku akan memberikanmu sepuluh juta rupiah jika kau mau melepas Taka." Hiroshi akhirnya memberikan penawaran kepada Rara.
Rara berhenti sejenak. Ia tersenyum tipis tanpa berbalik ke arah Hiroshi yang ada di belakangnya. "Keluargamu lebih membutuhkan uang itu daripada aku. Jadi berikan saja kepada keluargamu," kata Rara lagi yang membuat Hiroshi terdiam di tempatnya.
Gadis itu ... sungguh pemberani.
Niat hati menyelesaikan masalah dengan cara yang licin, Hiroshi ternyata harus menelan pahit-pahit kenyataan yang ada di depannya. Rara begitu tegas bahkan bisa membalikkan kata-katanya. Membuat Hiroshi menyadari mengapa Taka sampai tergila-gila kepada Rara. Pada akhirnya ia pun hanya bisa menatap kepergian Rara dari kejauhan.
Benar ternyata perasaan Taka malam ini. Diam-diam Hiroshi masih membuntutinya ke manapun ia pergi. Terbukti dengan Hiroshi yang melihat Rara datang setelah Taka pergi. Yang mana pada akhirnya Hiroshi mengikuti Rara ke rumah sakit. Ia pun memberikan penawaran yang menarik kepada Rara. Namun sayang, Rara menolaknya mentah-mentah.
__ADS_1
Hiroshi tampak belum jera. Ia seperti bersikeras untuk mengetahui segala hal yang Taka lakukan. Entah ada motif apa, ia tampak begitu gigih mengetahuinya. Bak musuh dalam selimut, duri dalam daging. Hiroshi memang orang yang patut untuk diwaspadai. Taka pun menyadarinya. Ia selalu berjaga-jaga terhadap Hiroshi di setiap kesempatan.
Satu tahun kemudian...
Bulan demi bulan berganti. Waktu pun terus berlalu tanpa henti. Meninggalkan kenangan dan duka di hati. Luka yang memilukan hati pun kini sudah terobati. Bersama angin yang berembus pelan membawa harapan. Berharap datang suatu kepastian untuk cinta di dalam hati.
Di sana, di depan sebuah tempat santap perkantoran, tampak seorang gadis berdiri tersapu angin sore. Gadis itu mengenakan mantel tebal dengan penampilan yang begitu cantik. Namun, raut wajahnya tampak menyiratkan kesedihan. Kesedihan yang telah lama ia pendam.
Taka, aku sudah menerima gaji pertamaku. Aku juga telah menyelesaikan cerita kita. Apa kau mau membacanya?
__ADS_1
Sendu. Rasa itu tidak dapat dipungkiri oleh Rara saat mengingat Taka. Hatinya masih terpaut ke sosok pria berkebangsaan Jepang yang telah banyak membantunya. Namun, kini sudah satu tahun berlalu Rara dibiarkan merindu. Taka benar-benar hilang dari pandangan matanya.
Rara menarik napas dalam-dalam. Ia mencoba menormalkan suasana hati yang mulai sedih karena mengingat Taka. Cintanya tidak bisa hilang begitu saja walau satu putaran matahari telah terlewati. Rara masih berharap bertemu dengan Taka kembali.
Taka, aku ingin bercerita padamu. Sikap keluargaku telah berubah. Ibu jadi lebih sayang padaku. Adikku juga sudah meminta maaf atas sikapnya dulu. Dia sudah berubah semenjak bekerja. Dia merasakan sendiri betapa susahnya mendapatkan uang. Dan juga kakak laki-lakiku sudah tersadar dari kesalahannya. Dia meminta maaf karena telah berucap tak baik padaku. Aku juga sudah siap jika kau mau ke rumahku. Aku tunggu kau datang ya.
Dulu, Taka ingin sekali ke rumah Rara tapi Rara lekas-lekas menolaknya. Ia khawatir Taka akan menjauh jika tahu bagaimana sikap saudaranya. Tapi kini Rara sudah merasa lega. Ia pun sudah siap jika Taka ingin ke rumahnya. Namun sayang, Taka sudah pergi dan tak bisa dijumpainya. Rara pun hanya bisa menangisi kisahnya.
.........
__ADS_1
...Rara...