
Rara tertunduk.
"Anggap saja aku ini kurir yang mengantarkan barang belanjaanmu. Itu mudah, kan?" Taka membujuk kembali.
Saat itu juga Rara tersadarkan. Dia benar. Kenapa tidak kepikiran dari tadi? "Baiklah." Rara akhirnya setuju.
Taka tersenyum. Ia kemudian mengambil plastik berisi barang belanjaan itu. "Silakan, Tuan Putri. Aku akan menjagamu dari belakang." Taka mempersilakan Rara berjalan duluan di depan.
Rara tersenyum senang. Tentu saja ia begitu senang dengan perlakuan Taka kepadanya. Harapan di dalam hatinya pun semakin bertambah besar. Ia ingin Taka selalu hadir di kehidupannya.
Keduanya kemudian berjalan bersama hingga memasuki gang besar. Mereka lalu menyusuri jalan setapak setelah sampai di belokan. Yang mana hanya muat untuk dua orang.
"Sampai depan situ saja, ya." Rara menoleh ke belakang.
"Baik, Putri." Taka pun tampak sigap membantu Rara.
Sudah tampan, dermawan, baik hati pula. Siapa gadis yang tidak kepincut dengan Taka? Begitu juga dengan Rara yang memang membutuhkan sandaran, teman dalam mengarungi kehidupan yang penuh dengan penderitaan. Rara pun ingin sekali berterima kasih lebih kepada Taka.
__ADS_1
Aku ingin membuatkannya kue. Tapi apa dia mau, ya?
Berbagai macam kebutuhan pokok rumah tangga telah Rara beli. Ia juga membeli beberapa perabotan masak seperti blender dan mikser. Ia ingin membuatkan kue untuk Taka.
Tak dapat Rara pungkiri jika ia begitu terenyuh dengan sikap Taka kepadanya. Begitu menggetarkan hati karena Taka sudah menjadikannya seperti seorang kekasih. Rara malu dan juga takut. Takut semua ini hanyalah mimpi semata. Taka bak pangeran impian yang datang dan membahagiakan hidupnya. Mustahil terjadi di dunia nyata.
"Hah, jauh juga. Seperti ini kau ingin membawanya sendiri," gerutu Taka yang merasa perjalanan menuju rumah Rara masih panjang.
Rara diam. Ia tidak menanggapi apapun. Ia terus membawa plastik barang belanjaannya sambil sesekali melihat Taka ke belakang. Ia merasa hal ini seperti mimpi saja.
Tuhan, dia datang menolongku tanpa pamrih. Apakah kedatangannya hanya untuk menghibur rasa perihku? Sungguh aku ingin bersamanya.
Ra, kau begitu kuat. Aku merasa bahagia karena dapat membantumu. Kau tahu, kini namamu telah terukir di dalam hatiku. Tapi aku tidak tahu apakah nama ini akan setia menantiku. Aku menyayangimu, Ra.
Taka tersenyum sendiri, sejenak memandangi seorang gadis yang berjalan di depannya. Tak lama, keduanya pun sampai di tempat yang dituju, tak jauh dari rumah Rara. Mereka lalu memutuskan untuk segera berpisah.
"Sampai di sini saja, ya. Terima kasih." Rara tersenyum kepada Taka seraya menghela napasnya karena lelah.
__ADS_1
"Eh, sudah sampaikah?" tanya Taka tak percaya.
"Belum, sih. Tapi itu rumahku." Rara menunjuk sebuah rumah yang ada pohon cermai di halaman depannya. "Dekat, bukan?" kata Rara lagi.
Taka melihat lebih jelas apa yang ditunjukkan oleh Rara. Dan ternyata memang benar, hanya berjarak tiga rumah dari tempatnya berada sekarang.
"Baiklah kalau begitu."
Taka kemudian meletakkan semua barang belanjaan lalu menyerahkannya kepada Rara. Ia pun bergegas pergi seraya melambaikan tangannya.
"Sampai nanti, Ra. Mimpi indah bersamaku, ya? Daaahh ...."
.........
...Taka...
__ADS_1
...Rara...