
Beberapa hari kemudian...
Hari ini mentari terbit malu-malu di ufuk timur. Rara pun menunggunya muncul sambil menghirup udara segar. Ia maraton pagi ini dengan mengelilingi lapangan besar pemerintahan. Dan kini baru saja sampai di halaman rumahnya. Kebetulan hari ini masuk siang sehingga bisa berolahraga sebentar.
Ia mengucapkan salam lalu masuk ke dalam rumahnya. Dengan wajah keringatan ia ambil selembar amplop berisi uang hasil menjajakan minuman ringan di kamar. Selama tiga malam bekerja, Rara berhasil mendapatkan tiga ratus enam puluh ribu rupiah. Hatinya pun senang karena bisa membayarkan iuran sekolah adiknya.
Ini untuk Danu. Semoga dia lebih semangat bersekolah.
Rara pun keluar dari kamar lalu mengetuk pintu kamar adik laki-lakinya. Tak lama adik laki-lakinya pun membukakan pintu.
"Ada apa, Kak?" tanya adiknya seraya mengucek mata.
"Cepat mandi, sarapan dan pergi sekolah. Ini kakak sudah dapatkan uang untuk membayar semua iuran sekolahmu." Rara berucap dengan amat senang.
"Oh ...." Adiknya pun hanya bisa berucap oh.
"Tolong dibayarkan langsung ya agar bisa ikut ulangan minggu depan. Jangan dipakai buat yang lain," pesan Rara kepada adiknya.
__ADS_1
"Tenang saja, Kak. Jangan khawatir," sahut si adik laki-lakinya.
Rara pun tersenyum. Ia lantas menyerahkan uang hasil kerja tambahannya kepada Danu untuk membayar semua tunggakan sekolah. Ia berharap Danu bisa lebih bersemangat dalam belajar. Seperti dirinya yang bersemangat mencari uang. Sampai tiada lagi memikirkan bagaimana lelah tubuhnya. Rara berharap Danu bisa menjadi pengganti dirinya di keluarga.
Satu jam kemudian di sekolah Danu...
Adik laki-laki dari Rara Alya itu baru saja tiba di depan gerbang sekolahnya. Ternyata kedatangannya disambut oleh beberapa teman sekelasnya.
"Danu, kita cabut saja hari ini. Nggak usah masuk," ucap seorang teman berpakaian putih abu-abu seperti Danu.
"Kalian yakin? Nanti kalau ketahuan bisa kena marah," tolak Danu yang takut ketahuan.
"Tenang saja, Dan. Aman. Beres pokoknya." Temannya itu mempengaruhi Danu untuk ikut membolos bersamanya.
Danu pun berpikir. Ia dipesankan oleh kakaknya untuk segera membayar iuran sekolah. Tapi karena tidak enak dengan temannya, pertahanan hatinya pun runtuh.
"Ya, udah. Okelah." Danu akhirnya mengiyakan.
__ADS_1
"Nah, gitu dong." Teman-temannya pun merasa senang.
Kusimpan saja dulu uang dari kak Rara. Nanti jika menolak malah dibilang tidak setia kawan.
Danu akhirnya tidak jadi masuk sekolah hari ini. Ia bersama teman-temannya membolos sekolah tanpa keterangan. Ajakan dari temannya membuat Danu tidak enak hati untuk menolak. Sekalipun ia tahu jika itu tidak benar. Danu takut dibilang tidak setia kawan.
Sementara itu...
"Ra, bangun! Jangan tidur lagi!" Seseorang terdengar membangunkan Rara.
Rara yang sedang tertidur di kasurnya pun membuka kedua mata. "Bu?" Ia melihat ibunya membangunkan.
"Jangan tidur lagi, masih pagi. Mending cuci piring, cuci baju, atau nyapu halaman. Kerjaan di rumah masih banyak," ucap ibunya.
"Rara ngantuk, Bu. Tiga hari ini Rara bekerja dari pagi sampai ke pagi lagi. Rara mau istirahat sebentar dulu ya, Bu." Rara mengeluhkan keadaannya yang mengantuk.
"Alah, baru segitu aja udah ngeluh. Mau jadi apa?" Kakak laki-lakinya ikut bicara dari kejauhan.
__ADS_1