
"Ti-tidak perlu. Aku bisa pulang sendiri," sahut Rara dengan segera.
Taka mengembuskan napasnya. "Kau lihat, hujan masih deras. Apa ingin kehujanan lagi?" tanyanya kepada Rara.
"Lagi?"
Sejenak Rara mendalami perkataan Taka itu. Sebuah kata-kata yang mengingatkannya akan kejadian yang pernah ia alami.
Apakah dia ...?
Rara bergumam di dalam hatinya, bertanya dan menyelidiki tentang maksud dari kata lagi tersebut.
"Hei! Ayo, kuantar. Tenang saja, tidak sampai ke rumah," ucapnya, memutus pikiran Rara yang sedang menyelidikinya.
Taka kemudian berdiri dari duduknya, berjalan mengambil payung lalu membayar apa yang telah ia pesan. Tak lama ia pun kembali dan mengajak Rara pulang.
"Ayo, sudah kubayar," katanya kepada Rara.
Rara pun mengangguk. Dengan tanpa bersentuhan pria bernama Taka itu mengantarkan Rara pulang sampai ke depan gang rumahnya.
__ADS_1
"Terima kasih, Taka. Aku sangat senang ditaktirmu makan. Semoga Tuhan membalas kebaikanmu."
Rara membungkukkan badannya, berpamitan. Ia kemudian tersenyum kepada seorang pria yang sedang memegangi payung untuknya. Rara kemudian segera berlari masuk ke dalam gang rumahnya. Taka pun hanya bisa terdiam sambil melihat Rara pergi. Hingga sampai di belokan jalan, Rara menyempatkan diri untuk melihat ke belakang kembali. Ia ingin melihat pria yang telah menraktirnya makan siang ini. Saat itu juga Taka masih berdiri di sana.
Terima kasih, Taka. Aku akan mengingat kebaikanmu.
Rara tersenyum. Ia membalikkan badannya lalu berjalan cepat untuk menghindari hujan. Pertemuan hari ini tentu tidak bisa dilupakan olehnya. Bertemu dengan seorang pria tampan nan baik hati yang menraktirnya makan siang. Yang mana pria itu menyebut dirinya sebagai Taka. Rara pun akan mengenangnya.
Malam harinya...
Rara masuk siang. Terlihat dirinya yang sedang melayani pembayaran konsumen. Ia seorang diri di meja kasiran, sedang yang lainnya berjaga di sekitaran lorong. Toko Rara tampak ramai malam ini.
Tanpa sepengetahuan Rara, Taka pun datang ke tokonya. Pria itu menyamar karena penasaran dengan siapa jati diri Rara yang sebenarnya. Ia pun membeli minuman dan beberapa makanan ringan. Hingga akhirnya ia ikut mengantri pembayaran. Taka pun lebih menurunkan topinya.
"Ini saja belanjaannya, Pak?" tanya Rara kepada orang di depan Taka.
Taka pun memerhatikan Rara diam-diam. Ia perhatikan gadis yang tadi siang makan bersamanya. Hingga akhirnya giliran Taka membayar barang belanjaannya.
"Terima kasih. Silakan datang kembali," ucap Rara kepada orang di depan Taka. "Ini saja, Mas belanjaannya? Pulsanya sekalian?" tanya Rara begitu ramah. Lipstik merah itu terpoles di bibir kecilnya.
__ADS_1
Taka menggelengkan kepala. Ia tidak berani menjawab pertanyaan Rara.
"Ada lagi? Totalnya sembilan puluh enam ribu rupiah." Rara menyelesaikan transaksi pembayaran Taka.
Taka pun mengeluarkan uang seratus ribuan dari dalam dompetnya.
"Kembalinya empat ribu rupiah ya."
Saat itu juga Taka segera mengambil barang belanjaannya.
"Mas, kembaliannya!" Rara pun memanggilnya. Tapi Taka segera masuk ke dalam mobilnya.
Eh? Sepertinya kukenal.
Rara merasa seperti melihat orang yang ia kenal.
Rara kemudian meneruskan transaksi pembayaran di tokonya. Sedang Taka masuk ke dalam mobilnya lalu melepas masker yang ia pakai. Ia duduk di kursi setir sambil memandangi Rara di sana.
.........
__ADS_1
...Taka...