
Satu minggu kemudian…
Rara mulai belajar menjadi seorang penulis. Satu hari setelah Taka memberikannya notebook, ia mulai mempraktikkan apa yang Taka harapkan. Mempelajari teknik dasar penulisan lalu membuat sebuah cerita mini. Cerita tentang kesehariannya saat bekerja di toko.
Lambat laun, Rara mulai terbiasa menulis cerita mini. Ia pun mencoba untuk membuat sebuah cerpen. Hasil imajinasinya sendiri yang ia dapatkan dari pengalaman orang lain. Karya demi karya kecilnya itu, ia simpan rapi di dalam notebook pemberian Taka. Waktu senggangnya ia pergunakan untuk mempraktikkan teknik penulisan. Berharap dapat membuat sebuah novel seperti novel yang sudah ia baca, yang Taka berikan juga kepadanya.
__ADS_1
Hari demi hari pun terus berlalu. Rara tetap bekerja dan memenuhi kewajibannya sebagai seorang tulang punggung keluarga. Namun, sekarang Rara tampak berbeda. Ia lebih banyak diam dan bahkan hampir tidak bicara dengan keluarganya. Bukan tanpa alasan, melainkan Rara hanya tidak ingin membuat kesalahan.
Hal itulah yang membuat ibu Rara tersadar akan perubahan sikap anaknya. Sang ibu merasa jika telah berbuat kekeliruan kepada Rara. Tebang pilih dan tidak pernah berusaha untuk merangkul anak gadisnya yang satu ini. Hanya sebatas menyapa untuk menanyakan apakah sudah gajian atau belum. Dan memberitahukan jika persediaan makanan sudah habis.
Dari balik pintu kamar Rara yang dibuka dari luar, ibunya melihat apa yang sedang Rara kerjakan di dalam sana. Sepulang bekerja, Rara selalu menutup pintu kamarnya yang membuat ibunya penasaran. Dan malam ini ibunya temukan jika anaknya itu sedang mengetik sesuatu di komputer mini. Ia ingin menyapa Rara, tapi ia urungkan niatnya karena tidak ingin mengganggu Rara yang sedang fokus. Alhasil, ia pun kembali menutup pintu dan membiarkan Rara menulis cerita di dalam kamar.
__ADS_1
Sabtu, pukul 20.20 WIB...
Awan mendung terlihat berarak di langit kota. Malam ini pun Taka tampak memandangi taman yang berada di hadapannya. Mengenakan sweater biru dan celana dasar abu-abu, ia tampak begitu tampan dan bersahaja. Sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana, ia menghela napas perlahan. Merasakan suatu beban tengah dipikulnya.
Taka singgah ke kediaman sementara ayahnya. Sebuah rumah eksklusif yang berada di tengah kota. Sedang ayahnya masih sibuk dengan urusan pekerjaan bersama para pejabat kota. Nomura akan tinggal beberapa hari lagi di Indonesia. Dan tentu saja hal itu membuat waktunya begitu berharga. Nomura tidak mempunyai banyak waktu untuk meladeni kegalauan hati putranya. Ia fokus bekerja dan menyelesaikan pekerjaannya.
__ADS_1
Tiba-tiba rintik hujan mulai turun. Gerimis itu menyadarkan Taka dari lamunan yang baru saja ia bangun. Bukannya menghindar, Taka malah membiarkan tubuhnya terkena rerintikan air hujan. Ia ingin melampiaskan sebuah perasaan yang berkecamuk di hatinya. Tentang rindu dan ingin segera bertemu.
Taka mengangkat tangannya ke atas, mencoba berbicara kepada Sang Pencipta. Merasakan setiap rerintikan air hujan yang jatuh membasahi tubuhnya. Menikmati tarian angin yang menari bersamanya. Dalam keadaan hati yang merindu, ia ingin segera bertemu dengan seseorang yang selama ini telah ia tunggu.