SEPERCIK KEBAHAGIAAN

SEPERCIK KEBAHAGIAAN
Terenyuh


__ADS_3

"Iya." Taka mengangguk. "Lalu apa isi dari plastik besar ini?" tanya Taka lagi seraya menunjuk plastik besar yang Rara bawa.


"Oh, ini hanya pakaian kotorku saja," jawab Rara segera.


"Baiklah, kita titipkan sebentar barang ini lalu pergi ke pasar," ajak Taka.


"Tap-tapi—" Rara berusaha menolak.


"Sudah. Kita tidak punya banyak waktu."


Taka pun segera mengambil plastik besar yang Rara bawa lalu dititipkannya ke salah satu pedagang yang ada di Taman Santap. Ia kemudian mengajak Rara untuk menaiki sebuah angkot agar cepat sampai ke pasar tujuan. Taka tidak memperlihatkan mobil mewahnya kepada Rara.


Dia yakin ingin ke pasar panas-panas gini?


Rara sendiri merasa heran dengan semua perlakuan Taka padanya. Namun, ia berusaha mengerti akan maksud Taka yang belum sempat terurai ini. Selama di perjalanan pun keduanya tampak berdiaman seperti orang yang sedang musuhan. Namun, keduanya saling melirik pandang. Mereka pun tersenyum-senyum sendiri sambil menikmati perjalanan ini.


Belasan menit kemudian...

__ADS_1


Taka dan Rara sudah tiba di salah satu pasar tradisional terdekat. Keduanya bak pengantin baru yang sedang mencari kebutuhan rumah tangga. Taka yang berpakaian formal itu setia menemani langkah kaki Rara dalam mencari kebutuhan pokok keluarganya. Walaupun jujur saja ia harus menahan bau menyengat yang ada di pasar tradisional.


"Hei, Ra. Di sini banyak sekali yang berjualan beras. Kau ingin membeli yang mana?" tanya Taka yang kebingungan, melihat begitu banyaknya pedagang menjual barang yang sama.


"Yang paling murah saja, aku juga tidak membeli banyak, kok. Uangku tidak cukup," jawabnya seraya terus berjalan bersama Taka.


"Jadi kau ingin membeli beras dengan kualitas terendah?" Taka bertanya lagi.


Rara pun berhenti sejenak lalu menatap ke arah Taka dengan tajam. Ia kemudian menjawab pertanyaan dari pria itu dengan rasa jengkel di dada.


Rara kemudian terus saja berjalan menuju ke salah satu pedagang beras. Sementara Taka terlihat terdiam di tempatnya. Hatinya terenyuh mendengar penuturan Rara kepadanya. Ia juga menyadari jika ucapannya telah menyinggung Rara.


"Ra!" Taka pun segera mengejar Rara.


"Apa?" tanya Rara jutek.


"Izinkan aku membantumu, ya. Biarkan aku yang membelikan berasnya," ujar Taka.

__ADS_1


"Eh? Kau serius?" Rara tidak percaya.


Taka mengangguk.


"Tapi uangmu akan ha—"


"Sudah, tak apa. Kita ke sana saja!"


Taka menyela perkataan Rara. Ia kemudian berjalan cepat menuju ke salah satu pedagang beras. Ia mendahului Rara yang terdiam di sana. Ia juga menanyakan harga beras itu sendiri ke pedagangnya. Ia membelikan satu karung beras seberat dua puluh lima kilogram untuk Rara secara cuma-cuma.


Taka ....


Saat itu juga hati Rara terenyuh. Ia ingin menolaknya tapi Taka seakan tidak terima. Taka segera mengeluarkan sejumlah uang dari dalam dompetnya lalu membayarkan kepada pedagang beras tersebut.


"Taka, aku punya uang sendiri!" Rara tidak enak hati.


"Uang meminjam itu, kan? Sudahlah, kembalikan uang itu kepada temanmu. Biarkan aku yang membayar semua ini." Taka tampak tidak keberatan. Ia tersenyum senang karena dapat membantu Rara.

__ADS_1


__ADS_2