SEPERCIK KEBAHAGIAAN

SEPERCIK KEBAHAGIAAN
Jujur


__ADS_3

"Hah, indah sekali di sini, Ra," ucapnya yang melihat pemandangan dari ketinggian itu.


Taka berdiri di ujung tebing sambil melihat pemandangan di sana. Sedang Rara tampak terengah-engah saat berusaha menyusul Taka. Ia kemudian duduk lalu segera membaringkan tubuhnya. Tidak peduli lagi dengan keadaan karena rasa lelah begitu menerjangnya.


Taka pun memandanginya dari atas. Ia tatap dalam-dalam gadis yang tengah kelelahan itu. Terlihat Rara yang merentangkan kedua tangannya sambil memejamkan mata. Ia pun tampak berusaha keras untuk mengembalikan energinya.


Ra ....


Saat itu juga Taka ingin lebih dekat lagi kepada Rara. Rasa sayang itu ingin ia tunjukkan kepada Rara.


"Kau pasti lelah. Aku belikan minuman, ya?


Merasa khawatir, Taka pun segera ke kantin untuk membelikan Rara minuman isotonik. Ia sangat takut jika terjadi sesuatu kepada Rara. Terlebih karena ulahnya yang mengajak Rara ke tempat seperti ini.


"Ra, ini minumlah."


Tak lama kemudian Taka pun kembali lalu memberikan minuman isotonik kepada Rara. Rara pun beranjak bangun dari istirahatnya sejenak. Mengambil minuman itu lalu segera meneguknya hingga tersisa setengah.


"Sepertinya kau kehausan, ya?" ledek Taka seraya duduk di sisi kanan Rara.


"Hah! Kau ada-ada saja mengajak ku kemari. Sebenarnya ada hal apa hingga membutuhkan tempat seperti ini untuk berbicara?" tanya Rara seraya meneguk minumannya kembali.

__ADS_1


"Em, itu ...," Taka terlihat berat mengatakannya.


"Katakan saja, Taka. Aku akan mendengarkannya dengan baik." Rara meyakinkan Taka.


"Tapi ...."


“Ayo, jangan membuatku cemas."


Rara tidak ingin berlama-lama. Ia merasa jika ada hal penting yang ingin Taka bicarakan padanya. Maka dari itu Rara meminta Taka untuk segera mengatakannya.


"Aku ... aku ingin menceritakan siapa diriku kepadamu." Taka memulai pembicaraannya.


"Aku harap kau juga tidak akan membenciku," kata Taka lagi.


"Ehh? Mengapa bisa seperti itu?" tanya Rara yang terheran.


Taka pun terdiam sejenak. Ia membuang pandangannya dari Rara lalu menatap lurus ke depan. Melihat pemandangan laut dari ketinggian yang terpampang luas di sana.


"Ra, mungkin belum sampai setengah tahun kita mengenal. Tapi entah mengapa, aku merasa dekat denganmu," tukas Taka mengawali pembicaraannya.


Tiba-tiba saja atmosfer itu berubah. Taka terlihat memasang wajah sedihnya yang membuat Rara serius untuk mendengarkan apa yang Taka ucapkan.

__ADS_1


"Taka—"


"Ra, kau tahu? Aku mulai memikirkanmu sejak melihatmu di sana," ungkapnya menyela.


"Maksudmu? tanya Rara yang masih bingung.


Taka kemudian menceritakan bagaimana asal-muasal dirinya dapat bertemu dengan Rara. Yang mana ceritanya itu membuat Rara terkejut dan tak percaya.


"Aku sudah lama berada di sini walaupun belum sampai setengah tahun. Sebelumnya tinggal di kota-kota lain dan terus berpindah tempat sampai habis masa kontrakku. Jika digabungkan seluruhnya, mungkin sudah ada tiga tahun aku berada di Indonesia," cetusnya.


"Hah? Benarkah?" Rara tak percaya.


"Iya. Aku menyelesaikan kuliahku di Jepang lalu menetap di sini bersama beberapa orang," jawab Taka seraya menoleh ke arah Rara yang duduk di sisi kirinya.


"Jadi kau ini?"


"Aku Taka Nomura. Aku keturunan Jepang. Ayahku asli Jepang, sedang ibuku berkewarganegaraan Malaysia." Taka menjelaskannya.


"Lalu?"


"Aku juga seorang Atheis. Mungkin lebih tepatnya tidak peduli dengan hal seperti itu. Aku berbeda denganmu, Ra. Apakah kau masih mau berteman denganku?" tanya Taka yang memasang raut wajah sedihnya.

__ADS_1


__ADS_2