SEPERCIK KEBAHAGIAAN

SEPERCIK KEBAHAGIAAN
Percaya Takdir?


__ADS_3

Percakapan mereka pun seakan tidak ada habisnya. Terus-menerus dan saling membalas. Menepiskan jarak di antara mereka yang belum lama bertemu. Seolah-olah sudah saling mengenal satu sama lain.


"Ra."


"Hm?"


"Kau percaya takdir?" Tiba-tiba Taka bertanya seperti itu.


"Kau menanyakan hal yang berat sore ini." Rara merasa keberatan menjawabnya.


Taka mengembuskan napasnya. "Terkadang kita tidak bisa memprediksi masa depan. Terkadang juga kita terjebak dalam masa yang sekarang." Taka menuturkan pemikirannya.


Rara mengangguk. Entah mengapa obrolan ini jadi lebih dalam. "Aku ingin masa depan yang bahagia, entah bagaimana jalannya." Rara menatap langit sore.


Taka tersenyum. Saat itu juga ia tahu beban apa yang sedang Rara tanggung. Taka juga mulai merasa nyaman bersama Rara karena selalu terbuka dan pandai membuat lelucon.


"Itu ada penjual roti. Kubelikan ya?" Taka beranjak berdiri


"Eh?" Rara pun ikut berdiri.


"Tak apa. Untuk cemilan nanti malam." Taka segera membelikan roti untuk Rara.


Rara terdiam. Selain tampan Taka juga begitu dermawan. Membuatnya begitu senang dengan pria berkebangsaan Jepang ini.

__ADS_1


"Ini." Taka kemudian memberikan tiga potong roti beserta teh dalam kemasan dingin kepada Rara.


"Taka ...." Rara pun tersentuh dengan kebaikan Taka.


"Sudah hampir malam. Baiknya kau segera pulang, Ra," ucap Taka yang menyadari waktu hampir petang.


Rara mengangguk. "Iya. Tidak terasa ya." Rara pun menyadarinya.


"Ayo, kuantarkan pulang." Taka mengajak Rara menyeberangi jalan raya.


Rara mengangguk. Keduanya kemudian menyeberangi jalan raya. Tampak mereka yang saling berjauhan, tidak berpegangan tangan sama sekali. Taka seperti ingin menjaga Rara dari jauh.


Taka, kau baik sekali. Terima kasih.


"Taka, terima kasih," ucap Rara sambil tersenyum kepada pria berkemeja biru itu.


"Sama-sama, Ra."


Taka pun membalas senyuman Rara. Senyuman yang membuat hati Rara tenang seketika. Pria itu berhasil membuat Rara merasa nyaman.


"Sampai nanti."


Rara pun berpamitan dengan membungkukkan badannya ke Taka. Taka juga refleks bersikap demikian. Hingga akhirnya kecanggungan terjadi di antara mereka.

__ADS_1


"Eh, kau orang Jepang ya?" Rara menerka asal muasal Taka.


"Sudah sana pulang. Nanti terburu malam." Taka pun tidak menggubris pertanyaan Rara.


"Em, baiklah." Rara pun menurut. Keduanya akhirnya berpisah. Langit petang menjadi saksi pertemuan mereka.


Rara, kau masih terlalu muda untuk menanggung hal yang besar. Semoga Tuhan selalu membimbingmu di setiap kesulitan.


Taka pun berdoa untuk Rara.


Semenjak mengalami mimpi buruk, Taka jadi kepikiran dengan Rara. Ia merasa mimpinya itu bukanlah sekedar kembang tidur belaka. Taka merasa semesta memberinya pertanda. Entah apa, namun Taka selalu berhati-hati di setiap pertemuannya.


Lain Taka lain juga dengan Rara. Rara tampak tersenyum sendiri sambil membawa bungkusan plastik berisi roti dan teh kotak yang dibelikan Taka. Rara merasa senang dan tidak bersedih hati lagi. Ia mempunyai cemilan malam ini. Ia pun kembali melihat ke belakang, tempat di mana Taka berada. Saat itu juga Rara melihat Taka tengah tersenyum padanya. Rara merasa bahagia.


Taka, semoga Tuhan membalas kebaikanmu.


Rara pun tersenyum. Ia seperti mempunyai teman baru yang dapat menghibur duka hatinya. Seorang teman yang tidak diketahui dari mana asalnya, apa pekerjaannya, dan alasan apa yang membuatnya mendekati gadis seperti dirinya. Rara menantikan kabar bahagia.


Sore ini pun menjadi saksi akan pertemuan keduanya. Baik Rara maupun Taka tidak menyesali pertemuan mereka. Jika diizinkan lagi mereka ingin bertemu kembali. Berbagi canda tawa dalam suka maupun duka. Ialah Rara Alya dan Taka Nomura.


.........


...Rara...

__ADS_1



__ADS_2