SEPERCIK KEBAHAGIAAN

SEPERCIK KEBAHAGIAAN
Rindu


__ADS_3

Malam harinya...


Taka mencari Rara ke tokonya. Namun, gadis itu ternyata masuk pagi dan sudah pulang sore hari. Taka ternyata tidak bisa menemui Rara hari ini. Ia pun dilanda penasaran akan keberadaannya.


Kini Taka sedang memandangi perkotaan dari balik jendela apartemennya. Malam yang dingin dan hujan yang begitu deras seolah menjadi saksi kerinduannya. Taka tidak tahu harus mencari Rara di mana.


Terbalut syal berwarna hitam yang melingkar di lehernya, Taka menatap lurus ke taman kecil yang ada di teras apartemennya. Ia melihat bunga-bunga itu tersiram air hujan dari langit. Begitu cantik hingga membuatnya betah dan ingin berlama memandangnya.


Kau seperti bunga itu, Ra.


Taka pun tersenyum sendiri. Ia mengingat kembali pertemuannya dengan Rara. Bagaimana gadis itu begitu blak-blakan di depannya. Tidak menjaga gengsi ataupun image-nya. Rara begitu apa adanya.


"Kau masih ingin menatap lama bunga-bunga itu?" tanya seseorang kepada Taka.


Ialah Hiroshi yang datang ke apartemen Taka malam ini. Ia datang sendiri karena suatu urusan yang harus disampaikan. Taka pun berbalik menghadapnya. Merasa tidak senang karena Hiroshi masuk ke apartemen tanpa izinnya.


"Seharunya kau izin dulu sebelum masuk ke apartemenku," cetus Taka kepada Hiroshi.


Hiroshi menyadari kekeliruannya. "Em, maaf. Kau membiarkan pintu apartemen tidak terkunci. Aku pikir memang tidak ada hal privasi di sini." Hiroshi membela dirinya.


"Ada apa?" Taka pun segera menanyakan maksud tujuan Hiroshi datang ke apartemennya. Ia mengajak Hiroshi duduk di sofa.

__ADS_1


Hiroshi mengikuti Taka menuju ruang tamu apartemen. "Tadi tanpa sengaja aku melihat kau baru pulang. Aku mengikutimu hingga sampai di apartemen. Kebetulan pintu tidak terkunci. Jadi aku masuk," terangnya kepada Taka.


"Apa ada kabar dari ayah?" Taka tidak ingin berbasa-basi.


Hiroshi tersenyum. "Paman ingin kau mengambil cuti dan pulang ke Jepang secepatnya." Hiroshi menuturkan.


"Aku tidak bisa." Taka segera menjawabnya.


Hiroshi menaikkan satu alisnya. Ia merasa heran. "Apa kau menyukai tempat ini sehingga tidak ingin pulang?" tanya Hiroshi yang heran.


"Sepertinya begitu." Taka menjawab dengan santainya.


"Apa ada yang membuatmu betah tinggal di sini?" tanya Hiroshi lagi.


"Seorang wanita, ya?" tanya Hiroshi lagi.


Taka terdiam, ia tidak menjawab pertanyaan Hiroshi. Ia hanya menundukkan wajah lalu tersenyum kecil saat mengingat Rara.


"Kau terlalu banyak ingin tahu urusan orang. Ayah menggajimu untuk membantuku menyelesaikan urusan pekerjaan. Bukan urusan pribadi," tegas Taka kepada Hiroshi.


Hiroshi pun tampak menelan ludahnya. "Kau tidak boleh mencintai gadis negeri ini. Kau harus ingat pesan ayahmu." Hiroshi mengingatkan.

__ADS_1


Taka tersenyum tipis. "Datang kembali jika ada urusan penting. Kau masih banyak pekerjaan, bukan?" Taka mengusir Hiroshi secara halus.


Hiroshi mengerti. "Maaf mengganggu malammu. Aku harap keinginan paman bisa segera terpenuhi." Hiroshi pun berpamitan.


Taka hanya mengangguk pelan. Hiroshi pun segera pergi dari hadapannya.


Sepupu dari Taka itu harus menerima ucapan pahit dari saudaranya yang tidak menginginkan kehadirannya malam ini. Setelah menyampaikan pesan, Hiroshi pun segera pergi dari apartemen Taka. Ia terlihat kesal dan memendam kekecewaan. Taka ternyata tidak menyukai kehadirannya.


Lain Hiroshi lain juga dengan Taka. Sepertinya ia harus lebih berhati-hati jika sehabis berpergian. Jangan sampai lupa mengunci pintu apartemen sehingga ada orang yang masuk tanpa seizinnya. Taka harus lebih teliti lagi.


Rara, kau baik-baik saja, bukan?


Di malam yang dingin ini Taka kembali mengingat akan sosok gadis yang telah berhasil membuatnya tertawa. Taka amat ingin bertemu dengan Rara saat ini juga. Namun ternyata, waktu belum merestuinya. Taka pun harus menunggu lebih lama.


.........


...Taka...



...Hiroshi...

__ADS_1



__ADS_2